Dinkes Kotim Catat 75 Kasus Diare, Satu Balita Meninggal Akibat Terlambat Ditangani
- Fransisca Fethy Angelina
- 7 days ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat 75 kasus diare sepanjang Januari hingga Juli 2026. Dari jumlah tersebut, satu balita dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami dehidrasi berat akibat terlambat mendapatkan penanganan medis.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kotim, Nugroho Kuncoro Yudho, mengatakan jumlah kasus diare mengalami peningkatan meski tidak terlalu signifikan. Pada Januari hingga Maret tercatat 30 kasus, sedangkan pada April hingga Juni meningkat menjadi 45 kasus.
Menurutnya, kasus kematian balita tersebut terjadi di Kecamatan Mentaya Hulu pada akhir Juni 2026. Saat dibawa ke fasilitas kesehatan, kondisi pasien sudah mengalami dehidrasi berat sehingga sulit diselamatkan.
"Kasus kematian balita tersebut terjadi di Kecamatan Mentaya Hulu sebelum memasuki musim kemarau. Keterlambatan membawa pasien ke fasilitas kesehatan menjadi penyebab utama hingga kondisi korban semakin memburuk," ujar Nugroho, Selasa (21/7/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh penyakit diare, terutama jika menyerang bayi dan balita. Kehilangan cairan tubuh dalam jumlah besar akibat diare dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berisiko mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.
Nugroho menjelaskan bayi dan balita merupakan kelompok yang paling rentan karena belum mampu menyampaikan keluhan dengan jelas. Selain itu, anak yang sedang sakit umumnya mengalami penurunan nafsu makan dan minum sehingga kehilangan cairan berlangsung lebih cepat.
Dinkes Kotim juga masih menemukan kebiasaan sebagian masyarakat yang menunda membawa pasien ke puskesmas atau rumah sakit karena lebih memilih pengobatan tradisional atau menunggu pertimbangan dari pihak keluarga.
Selain itu, sejumlah mitos juga dinilai masih menjadi penyebab keterlambatan penanganan. Salah satunya anggapan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan mulai berjalan sehingga tidak perlu segera diperiksakan ke tenaga kesehatan.
"Tak hanya itu, sejumlah mitos juga masih dipercaya masyarakat. Salah satunya anggapan bahwa diare pada bayi merupakan tanda anak akan mulai berjalan sehingga tidak perlu segera diperiksakan ke tenaga kesehatan. Keyakinan seperti itu berbahaya karena dapat membuat keluarga terlambat mencari pertolongan," katanya.
Dinkes mengimbau masyarakat segera membawa anggota keluarga ke fasilitas kesehatan apabila mengalami diare yang disertai buang air besar berulang, muntah, atau muncul tanda-tanda dehidrasi seperti tubuh lemas, mata cekung, bibir kering, dan sulit minum.
"Penanganan sedini mungkin menjadi kunci untuk mencegah dehidrasi berat dan menekan risiko kematian, terutama pada bayi dan balita," tegas Nugroho. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments