top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Bukan Sekadar Kerja Bakti: Palangka Raya Butuh Sistem Pengelolaan Sampah Pasar yang Berkelanjutan

Ilustrasi ratusan sukarelawan mengenakan kaus hijau bahu-membahu membersihkan kawasan pasar (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi ratusan sukarelawan mengenakan kaus hijau bahu-membahu membersihkan kawasan pasar (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Ratusan orang turun membersihkan kawasan Pasar Kahayan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang dihadiri Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran, Sabtu (6/6/2026).




Namun di balik kegiatan korve yang berlangsung beberapa jam itu, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah aksi bersih-bersih massal mampu menyelesaikan persoalan sampah yang terus berulang di pusat perdagangan terbesar Kota Palangka Raya tersebut?.


Pantauan di kawasan Pasar Kahayan menunjukkan persoalan sampah bukan hanya terjadi saat peringatan hari lingkungan hidup. Aktivitas perdagangan harian menghasilkan timbunan sampah organik dan anorganik yang cukup besar, terutama dari pedagang sayur, ikan, buah-buahan, dan kebutuhan rumah tangga.


Sejumlah warga yang beraktivitas di kawasan pasar mengaku persoalan kebersihan masih menjadi tantangan yang mereka temui setiap hari.

"Kalau ada kegiatan besar memang bersih. Tapi beberapa hari kemudian biasanya kembali seperti biasa kalau kesadaran masyarakat belum berubah," ujar Rahman, salah seorang pengunjung pasar.


Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melaporkan pelaksanaan Gerakan Nasional Indonesia Asri dan menyatakan komitmennya mendukung berbagai program kebersihan lingkungan, termasuk pembersihan sungai, drainase, serta peningkatan kesadaran masyarakat mulai dari tingkat RT hingga desa dan kelurahan.


Namun sejumlah pengamat lingkungan menilai keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada kegiatan korve atau kerja bakti berkala. Faktor yang lebih menentukan adalah sistem pengelolaan sampah yang berjalan setiap hari, mulai dari pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan akhir.


Data Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan sebagian besar sampah perkotaan di Indonesia masih didominasi sampah sisa makanan dan sampah rumah tangga yang memerlukan sistem pengelolaan berkelanjutan, bukan hanya penanganan sesaat saat momentum tertentu.


Di Palangka Raya sendiri, Pasar Kahayan merupakan salah satu titik yang secara rutin menghasilkan volume sampah cukup tinggi karena menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat dari pagi hingga malam hari.


Kegiatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang terhubung melalui konferensi video dengan pemerintah pusat dan sejumlah daerah lain menunjukkan adanya komitmen nasional terhadap isu lingkungan.


Namun tantangan sesungguhnya berada di lapangan, yakni bagaimana memastikan kawasan pasar, drainase, dan sungai tetap bersih setelah acara seremonial berakhir.


Bagi sebagian warga, ukuran keberhasilan bukan terletak pada banyaknya peserta korve atau jumlah sampah yang berhasil dikumpulkan dalam satu hari, melainkan apakah kondisi lingkungan tetap terjaga dalam jangka panjang.


Karena itu, peringatan Hari Lingkungan Hidup seharusnya tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi momentum untuk mengevaluasi apakah sistem pengelolaan sampah di daerah benar-benar berjalan efektif atau masih bergantung pada aksi bersih-bersih sesaat. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page