Bandara Tjilik Riwut Gelar Simulasi Penanganan Darurat untuk Tingkatkan Kesiapsiagaan Penerbangan
- Fransisca Fethy Angelina
- 1 day ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – PT Angkasa Pura Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya menggelar Airport Emergency Exercise (AEE) sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi keadaan darurat di lingkungan bandar udara, Selasa (28/7/2026).
Latihan yang menjadi agenda rutin setiap dua tahun tersebut melibatkan berbagai instansi guna memastikan penanganan insiden penerbangan dapat dilakukan secara cepat, tepat, terkoordinasi, dan sesuai standar keselamatan penerbangan.
General Manager PT Angkasa Pura Bandara Tjilik Riwut Palangka Raya, I Made Dermawan, mengatakan pelaksanaan latihan merupakan kewajiban setiap bandar udara sebagai bagian dari pemenuhan standar keselamatan penerbangan.
Menurutnya, Bandara Tjilik Riwut yang masuk dalam kategori bandara kecil diwajibkan melaksanakan Airport Emergency Exercise sekali dalam dua tahun untuk menguji kesiapan seluruh personel dan instansi yang tergabung dalam Airport Emergency Committee (AEC).
“Kegiatan ini wajib dilaksanakan oleh bandar udara. Bandara Tjilik Riwut termasuk kategori bandara kecil sehingga latihan dilakukan satu kali dalam dua tahun,” ujarnya.
Made menjelaskan, penanganan insiden penerbangan tidak dapat dilakukan hanya oleh pengelola bandara, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai instansi terkait.
Dalam simulasi tersebut, latihan melibatkan unsur Basarnas, TNI, Polri, tenaga kesehatan, rumah sakit, serta sejumlah instansi lain yang memiliki peran dalam proses penyelamatan dan evakuasi korban apabila terjadi kecelakaan pesawat di kawasan bandar udara.
“Ini menjadi salah satu tugas dan fungsi bandar udara untuk mengolaborasikan seluruh mitra dan pemangku kepentingan, baik dari unsur keamanan maupun kesehatan, agar dapat bersama-sama melakukan penanggulangan apabila terjadi kondisi darurat,” katanya.
Uji Koordinasi dan Komunikasi Antarinstansi
Selain menguji kemampuan teknis penanganan keadaan darurat, simulasi juga difokuskan pada efektivitas komunikasi, koordinasi, dan sistem komando antarinstansi yang terlibat.
Menurut Made, ketiga aspek tersebut menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan proses evakuasi dan penyelamatan saat terjadi insiden penerbangan.
“Kegiatan ini menguji komunikasi, koordinasi, dan komando agar masing-masing unit memahami fungsi serta tanggung jawabnya. Dalam keadaan darurat, kami membutuhkan dukungan seluruh pemangku kepentingan agar proses evakuasi dan penyelamatan dapat berlangsung cepat dan tepat,” pungkasnya.
Melalui pelaksanaan Airport Emergency Exercise, Bandara Tjilik Riwut berharap kesiapsiagaan seluruh personel dan instansi terkait terus meningkat sehingga mampu memberikan respons yang cepat dan terkoordinasi apabila terjadi kondisi darurat di lingkungan bandar udara. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments