Mengapa Banyak Anak Muda Kalteng Mulai Meninggalkan Sawit?
- Emuna Asie
- May 26
- 2 min read
Updated: Jun 13

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama bertahun-tahun, kelapa sawit menjadi salah satu andalan ekonomi Kalimantan Tengah. Ribuan orang hidup dari sektor ini. Mulai dari pekerja kebun, sopir, sampai petani plasma. Akan tetapi, sekarang terjadi perubahan secara perlahan. Anak muda di Kalteng mulai sedikit demi sedikit menjauh dari dunia sawit.
Banyak anak muda yang lebih tertarik pergi ke kota besar, bekerja di bidang digital, membuka usaha sendiri, menjadi konten kreator, atau mencari pekerjaan yang dianggap lebih fleksibel dan relevan dengan zaman.
Padahal, posisi Kalimantan Tengah sebagai lumbung sawit nasional jelas tidak main-main. Luas kebun sawit di sini jutaan hektare, dan sektor ini motor ekonomi daerah. Tapi nyatanya, nama besar sawit tidak otomatis membuat generasi muda Kalteng tertarik meneruskan langkah orang tua mereka. Memang, buat kebanyakan anak muda, kerja di perkebunan sawit rasanya berat dan kesempatan naik kelasnya terbatas.
Pendidikan juga ikut berpengaruh. Semakin banyak anak kampung bisa kuliah dan mengubah pola pikirnya. Mereka ingin mencoba hal baru, bukan hanya mengikuti jejak orang tua. Selain itu, generasi muda sekarang ingin pekerjaan dengan jam yang tidak kaku, suasana modern, dan ada ruang berkembang, tidak hanya sekedar kerja di kebun.
Sekarang, industri sawit harus hadapi tantangan baru. Jika anak muda makin enggan masuk ke sektor ini, lama-lama akan terjadi kekurangan tenaga kerja. Memang, ada beberapa perusahaan yang mulai go digital menggunakan aplikasi cek lahan, GPS, sampai manajemen kebun. Sayangnya, citra sawit di mata anak muda belum banyak berubah.
Di sisi lain, anak muda yang pindah minat sebenarnya tanda ekonomi Kalteng mulai beranjak ke sektor yang lebih beragam. Selama ini, Kalteng terlalu bergantung sama sumber daya alam mentah. Jika anak mudanya berani masuk ke ekonomi kreatif, teknologi, atau wirausaha digital, bukan tidak mungkin ekonomi Kalteng dapat fondasi baru yang lebih luas.
Secara nasional, ekonomi digital Indonesia tumbuh cepat beberapa tahun terakhir, terutama di UMKM online dan industri kreatif berbasis medsos. Artinya, anak muda Kalteng bisa dapat penghasilan baru tanpa perlu merantau jauh-jauh.
Tantangannya tetap ada. Infrastruktur internet yang masih kurang di banyak tempat, akses pelatihan digital terbatas, pendidikan keahlian modern belum merata. Jika tidak siap, alih minat anak muda dari dunia sawit malah bisa bikin masalah baru seperti pengangguran.
Di sinilah peran pemerintah dan dunia pendidikan sangat berperan penting. Anak muda sekarang bukan cuma perlu lapangan kerja, tapi juga ruang buat berkembang sesuai perkembangan zaman. Pada akhirnya, keputusan anak muda Kalteng meninggalkan sawit itu bukan sekadar soal menolak kerja di kebun.
Lebih dari itu, mereka sedang cari identitas ekonomi baru dan membangun masa depan dengan cara yang mereka pilih sendiri. Mereka tidak mau lagi sekadar jadi penerus di ladang warisan, tapi ingin hidup lebih bebas dan menantang. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana





















Terlalu banyak konflik sosial dengan masyarakat sekitar perkebunan membuat generasi muda jadi malas berkecimpung disana
Semoga pemerintah kalteng lebih peka dan teliti untuk mengaudit perusahaan2 yang curang serta lebih mensejahterakan buruh di kalteng
Kerja serius gaji bercanda...
Kerja sawet itu capek. Tenaga 100% terkuras. Sementara perusahaan tak mempasilitasi kemudahan kerja misal pembelian alat dongkrak untuk memuat sawet. Murni tenaga buruh.
Sementara tenaga manusia terbatas.
Dimana letak penghargaan perusahaan terhadap manusia?. Tidak memanusiakan manusia. Manusia dianggap sapi kerja oleh perusahaan perkebunan...