top of page

Mengapa Banyak Anak Muda Kalteng Mulai Meninggalkan Sawit?

Updated: May 26

Seorang pekerja mengangkut hasil panen kelapa sawit. (Foto: Istimewa)
Seorang pekerja mengangkut hasil panen kelapa sawit. (Foto: Istimewa)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama bertahun-tahun, kelapa sawit menjadi salah satu andalan ekonomi Kalimantan Tengah. Ribuan orang hidup dari sektor ini ada yang jadi pekerja kebun, sopir, sampai petani plasma. Akan tetapi sekarang terjadi perubahan secara perlahan. Anak muda di Kalteng mulai sedikit demi sedikit menjauh dari dunia sawit.


Banyak yang lebih tertarik pergi ke kota besar, kerja di bidang digital, buka usaha kecil, jadi konten kreator, atau cari kerja yang dianggap lebih fleksibel dan relevan dengan zaman.


Padahal, posisi Kalimantan Tengah sebagai lumbung sawit nasional jelas nggak main-main. Luas kebun sawit di sini jutaan hektare, dan sektor ini motor ekonomi daerah. Tapi nyatanya, nama besar sawit nggak otomatis bikin generasi muda ingin nerusin langkah orang tua mereka.


Seorang pengamat sosial di Palangka Raya bilang, “Orang tua dulu kerja di kebun karena itu satu-satunya peluang. Sekarang anak muda punya banyak pilihan.” Memang, buat kebanyakan anak muda, kerja di perkebunan sawit rasanya berat dan kesempatan naik kelasnya terbatas.


Sementara itu, internet dan media sosial bikin mereka sadar ada banyak peluang, mulai dari jadi desainer, editor video, admin medsos, pelaku UMKM online, sampai pekerja remote semua bisa tanpa harus tinggal atau kerja di kebun.


Pendidikan juga ikut berpengaruh. Semakin banyak anak kampung bisa kuliah, dan itu bikin pola pikir ikut berubah. Mereka ingin coba hal baru, bukan cuma mengikuti jejak orang tua. Selain itu, generasi muda sekarang ingin pekerjaan dengan jam yang nggak kaku, suasana modern, dan ada ruang berkembang tidak hanya sekedar kerja di kebun.


Sekarang, industri sawit harus hadapi tantangan baru. Kalau anak muda makin enggan masuk ke sektor ini, lama-lama akan terjadi kekurangan tenaga kerja. Memang, ada beberapa perusahaan mulai go digital menggunakan aplikasi cek lahan, GPS, sampai data digital buat manajemen kebun. Tapi citra sawit di mata anak muda belum banyak berubah.


Di sisi lain, para ahli ekonomi lihat fenomena ini dari sisi positif . Anak muda yang pindah minat sebenarnya tanda ekonomi Kalteng mulai beranjak ke sektor yang lebih beragam. Selama ini, daerah terlalu bergantung sama sumber daya alam mentah. Kalau anak mudanya berani masuk ke ekonomi kreatif, teknologi, atau wirausaha digital, bisa-bisa ekonomi Kalteng dapat fondasi baru yang lebih luas.


Secara nasional, ekonomi digital Indonesia tumbuh cepat beberapa tahun terakhir apalagi di UMKM online dan industri kreatif berbasis medsos. Artinya, anak muda Kalteng bisa dapat penghasilan baru tanpa perlu merantau jauh-jauh.


Tantangannya tetap ada yaitu infrastruktur internet masih kurang di banyak tempat, akses pelatihan digital juga terbatas, pendidikan keahlian modern belum merata. Kalau tidak siap, alih minat anak muda dari dunia sawit malah bisa bikin masalah baru seperti pengangguran.


Di sinilah peran pemerintah dan dunia pendidikan sangat berperan penting. Anak muda sekarang bukan cuma perlu lapangan kerja, tapi juga ruang buat berkembang sesuai perkembangan zaman. Pada akhirnya, keputusan anak muda Kalteng meninggalkan sawit itu bukan sekadar soal nolak kerja di kebun.


Lebih dari itu, mereka sedang cari identitas ekonomi baru dan membangun masa depan dengan cara yang mereka pilih sendiri. Mereka nggak mau lagi sekadar jadi penerus di ladang warisan, tapi ingin hidup lebih bebas dan menantang. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana

6 Comments


Agustinus Abel
May 26

Terlalu banyak konflik sosial dengan masyarakat sekitar perkebunan membuat generasi muda jadi malas berkecimpung disana

Like

Rio
May 26

Semoga pemerintah kalteng lebih peka dan teliti untuk mengaudit perusahaan2 yang curang serta lebih mensejahterakan buruh di kalteng

Like

Masajeda
May 26

Kerja serius gaji bercanda...

Like

Marhat
May 26

Kerja sawet itu capek. Tenaga 100% terkuras. Sementara perusahaan tak mempasilitasi kemudahan kerja misal pembelian alat dongkrak untuk memuat sawet. Murni tenaga buruh.

Sementara tenaga manusia terbatas.


Dimana letak penghargaan perusahaan terhadap manusia?. Tidak memanusiakan manusia. Manusia dianggap sapi kerja oleh perusahaan perkebunan...

Edited
Like
Guest 2
May 26
Replying to

Benar sekali. Alangkah lebih baik jika para buruhnya diberikan fasilitas yang dapat mendukung kinerja. Kan untung dimereka juga, kerja cepat cuan juga ngalir. Semua demi keluarga tercinta

Like
bottom of page