top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Kotim Siapkan Tiwah dan Mamapas Lewu Masuk Agenda Tahunan Daerah Mulai 2027

Prosesi ritual adat Tiwah masyarakat Dayak di Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemerintah Kabupaten Kotim berencana menjadikan Tiwah dan Mamapas Lewu sebagai agenda budaya dan keagamaan tahunan daerah mulai tahun 2027. (Foto. Dok. Diskominfo Kotim)
Prosesi ritual adat Tiwah masyarakat Dayak di Kabupaten Kotawaringin Timur. Pemerintah Kabupaten Kotim berencana menjadikan Tiwah dan Mamapas Lewu sebagai agenda budaya dan keagamaan tahunan daerah mulai tahun 2027. (Foto. Dok. Diskominfo Kotim)

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai mempersiapkan ritual adat Tiwah dan Mamapas Lewu sebagai agenda budaya dan keagamaan tahunan daerah yang dijadwalkan secara rutin mulai tahun 2027.


Rencana tersebut mengemuka dalam audiensi antara Bupati Kotim dan Majelis Daerah Agama Hindu Kaharingan (MD-AHK) Kotim yang membahas pengembangan kegiatan budaya berbasis adat dan religi agar dapat masuk dalam kalender resmi pemerintah daerah.


Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kotim, Ramadansyah, mengatakan pemerintah daerah melihat Tiwah dan Mamapas Lewu memiliki nilai budaya yang kuat serta berpotensi menjadi agenda unggulan daerah.


“Bupati sudah menyampaikan bahwa kegiatan Tiwah dan Mamapas Lewu bisa dijadikan agenda daerah. Harapannya mulai 2027 nanti dapat dibahas dan ditetapkan secara lebih matang,” ujarnya di Sampit, Selasa.


Menurut Ramadansyah, langkah tersebut tidak hanya bertujuan melestarikan tradisi masyarakat Dayak dan Hindu Kaharingan, tetapi juga mendukung pengembangan sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat.


Jika nantinya masuk agenda resmi pemerintah daerah, pelaksanaan kegiatan tidak lagi bergantung pada hibah kepada kelompok tertentu, melainkan dapat dikelola secara lebih terstruktur melalui program daerah dan lembaga terkait.


“Dengan skema tersebut, penyusunan jadwal, promosi wisata, hingga integrasi dengan program pariwisata daerah akan lebih mudah dilakukan,” katanya.


Ia menilai Tiwah dan Mamapas Lewu memiliki keunikan tersendiri karena memadukan unsur adat, budaya, dan keagamaan dalam satu rangkaian kegiatan yang berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya di Kalimantan Tengah.


Disbudpar Kotim juga mulai menyusun konsep pengembangan wisata terintegrasi dengan daerah lain di Kalimantan Tengah, termasuk menghubungkan agenda budaya tersebut dengan destinasi wisata Taman Nasional Tanjung Puting di Kabupaten Kotawaringin Barat.


Dengan jadwal pelaksanaan yang tetap setiap tahun, wisatawan domestik maupun mancanegara dinilai akan lebih mudah mengatur perjalanan untuk menyaksikan langsung prosesi adat masyarakat Dayak di Sampit.


“Kalau tanggalnya sudah tetap, promosi akan lebih mudah dilakukan. Wisatawan yang datang ke Kalimantan Tengah bisa sekaligus mengatur kunjungan ke Sampit untuk menyaksikan Tiwah maupun Mamapas Lewu,” jelasnya.


Ramadansyah menegaskan pelaksanaan kegiatan nantinya tetap melibatkan MD-AHK dan tokoh adat agar seluruh prosesi berjalan sesuai nilai budaya dan ketentuan keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun.


Pemkab Kotim optimistis agenda tersebut tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, mulai dari sektor UMKM, transportasi, hingga perhotelan.


“Kalau kegiatan ini masuk agenda daerah dan dipromosikan secara besar-besaran, tentu akan berdampak pada sektor perhotelan, UMKM, transportasi, dan usaha masyarakat lainnya,” pungkasnya. -red


Penulis: Angel

Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page