Kenapa Marketing Asbun Aldi Taher Disukai Gen Z?
- kaltengnetwork.com
- May 25
- 3 min read

Aldis taher burger cempaka putih rotinya lembut daging nya juicy lucy mahalini rizky febian jkt48 bisa pesen online...
KALTENGNETWORK- Barangkali Pembaca Cerdas yang chronically online sudah tidak asing dengan jargon tesebut. Belakangan membludak dan viral, marketing Aldi's Burger milik Aldi Taher ini dianggap jenius. Namun, kenapa strategi marketing yang terkesan "asbun" alias asal bunyi ini ini bisa berhasil?
Jika model promosi seperti ini dilakukan pada zaman generasi boomer, kemungkinan besar responsnya akan berbeda. Marketing pada era sebelumnya dibangun di atas keteraturan: slogan harus jelas, elegan, dan menjelaskan produk dengan rapi. Iklan dianggap berhasil ketika terlihat profesional dan meyakinkan.
Namun internet modern bekerja dengan logika yang berbeda.
Di era media sosial, perhatian manusia menjadi komoditas paling mahal. Setiap hari generasi Z dibombardir ribuan konten: video pendek, iklan, reels, thread, meme, podcast, hingga promosi produk yang semuanya berlomba terlihat sempurna.
Akibatnya, kesempurnaan justru menjadi sesuatu yang membosankan.
Generasi Z tumbuh sebagai digital native, yakni kelompok yang sejak kecil hidup berdampingan dengan internet. Mereka sangat terbiasa melihat konten yang dikurasi, dipoles, dan dioptimalkan algoritma. Lama-kelamaan, semuanya terasa mirip.
Di titik inilah muncul fenomena yang menarik: semakin sempurna sebuah konten, semakin terasa tidak manusiawi.
Karena itu, generasi Z mulai merindukan sesuatu yang mentah, spontan, dan genuine.
Mereka menyukai hal-hal yang terasa “real”, meski berantakan. Mereka lebih mudah tertarik pada sesuatu yang membuat mereka berhenti scrolling dan berkata, “Hah? apaan ini?”
Dan Aldi Taher memahami bahasa internet itu.
Tagline marketing-nya bukanlah rentetan kalimat yang terasa dibuat oleh tim branding mahal atau formula AI yang terlalu aman. Kalimatnya random, loncat ke mana-mana, penuh nama artis, tidak memiliki struktur jelas, bahkan terasa seperti hasil voice note orang yang sedang terlalu semangat.
Namun justru karena itulah ia memorable.
Di tengah arus konten digital yang sebenarnya sangat repetitif, absurditas menjadi alat pembeda. Otak manusia secara alami lebih mudah menangkap sesuatu yang tidak prediktif dibanding sesuatu yang terlalu familiar. Ketika semua brand berlomba tampil estetik dan cool, Aldi Taher datang dengan energi “chaotic” yang terasa sangat manusiawi.
Ia tidak mencoba terlihat sempurna. Ia mencoba terlihat hidup.
Fenomena ini juga berkaitan dengan budaya internet modern yang sangat dekat dengan humor absurd dan meme culture. Bagi generasi Z, humor tidak selalu harus masuk akal. Bahkan sering kali semakin tidak nyambung sebuah lelucon, semakin lucu hasilnya. Internet hari ini dipenuhi humor anti-klimaks, editan acak, audio pecah, hingga caption tanpa konteks. Kekacauan kecil justru menjadi bahasa komunikasi baru.
Karena itu, slogan Aldi Taher terasa seperti “produk asli internet”, bukan sekadar iklan.
Selain itu, keberhasilan Aldi Taher bukan hanya soal jargon viralnya. Ia juga berhasil mem-branding dirinya sebagai figur yang “reachable”. Berbeda dengan citra selebritas lama yang cenderung menjaga jarak dan aura eksklusif, Aldi Taher tampil seolah tidak memiliki sekat dengan audiensnya.
Ia rajin membalas komentar, aktif membuat video spontan, dan sering membagikan interaksi personal dengan pengikutnya. Kehadirannya di media sosial terasa seperti teman sendiri yang kebetulan terkenal, bukan figur publik yang jauh dan sulit disentuh.
Di era kesepian digital seperti sekarang, hal itu sangat kuat nilainya.
Generasi Z hidup di tengah konektivitas tanpa henti, tetapi ironisnya banyak dari mereka tetap merasa kesepian. Karena itu, mereka tidak hanya membeli produk namun juga rasa terkoneksi.
Aldi Taher menawarkan itu semua dalam bentuk paling mentah dan paling internet.
Marketing modern akhirnya bukan lagi sekadar soal menjual produk terbaik. Terkadang yang paling penting adalah siapa yang paling berhasil mencuri perhatian, menciptakan percakapan, dan terasa autentik di mata audiens.
Dan Aldi Taher berhasil melakukannya dengan cara yang mungkin bahkan tidak bisa direplikasi oleh banyak brand besar sekalipun.
Jadi, gimana? Sudah beli “Aldis Taher burger cempaka putih rotinya lembut dagingnya juicy Lucy Mahalini Rizky Febian JKT48 bisa pesen online” belum? -red
Penulis : Ivonne Hana
Editor : Emuna Asie





















Comments