Karhutla Meluas di Kotim, Status Tanggap Darurat Mulai Dikaji
- Fransisca Fethy Angelina
- 1 day ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) membuat pemerintah daerah mulai mengkaji peningkatan status penanganan bencana dari siaga darurat menjadi tanggap darurat.
Pertimbangan tersebut muncul setelah jumlah titik api dan luas lahan terbakar menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Bahkan, kebakaran kini terjadi di sejumlah kecamatan dan membuat tim gabungan harus menangani beberapa lokasi dalam waktu bersamaan.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, menilai kondisi terkini di lapangan telah memenuhi sejumlah indikator untuk peningkatan status.
“Kalau menurut perhitungan saya, kondisinya sebenarnya sudah memenuhi (syarat penetapan status tanggap darurat),” ujar Multazam, Rabu (22/7/2026).
Menurutnya, pola kebakaran saat ini tidak lagi bersifat sporadis. Karhutla telah terjadi di lebih dari tiga kecamatan. Dalam satu hari, personel gabungan bahkan harus dibagi untuk menangani lima hingga enam lokasi kebakaran secara bersamaan.
Meski demikian, BPBD tidak dapat menetapkan perubahan status tersebut secara sepihak. Keputusan harus melalui pembahasan lintas instansi dengan mempertimbangkan perkembangan kondisi lapangan serta berbagai indikator kebencanaan.
“Kami hanya menyampaikan data di lapangan. Seluruh indikator dan masukan dari instansi terkait akan menjadi bahan pertimbangan sebelum diputuskan,” katanya.
Apabila status ditingkatkan menjadi tanggap darurat, pola penanganan karhutla akan turut berubah. Operasi pengendalian akan berada di bawah komando pimpinan daerah sehingga mobilisasi sumber daya dan koordinasi antarinstansi dapat dilakukan secara lebih cepat dan terpadu.
Sembari menunggu evaluasi, BPBD bersama TNI, Polri, Manggala Agni, relawan, dan unsur terkait tetap melakukan pemadaman serta pencegahan agar kebakaran tidak meluas.
“Kami terus berusaha menjaga agar kebakaran tidak berkembang lebih besar meskipun kondisi di lapangan masih naik turun,” ucap Multazam.
Perkembangan karhutla dalam satu hingga dua pekan ke depan akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya. Jika tren kebakaran terus meningkat, peluang peningkatan status menjadi tanggap darurat semakin terbuka.
“Dari sisi kesiapan tidak ada persoalan. Personel dan peralatan sudah siap, tinggal menunggu hasil penyajian data serta pembahasan bersama sebagai dasar pengambilan keputusan,” jelasnya.
Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 21 Juli 2026 sore, luas lahan yang terbakar telah mencapai 176,16 hektare dengan 452 hotspot dan 87 kejadian karhutla.
Dari 87 kejadian tersebut, sebanyak 77 kejadian telah ditangani tim gabungan. Wilayah tengah mencatat luas kebakaran terbesar mencapai 98,37 hektare, disusul wilayah selatan 76,33 hektare dan wilayah utara 1,45 hektare.
Data tersebut akan menjadi bagian dari bahan evaluasi pemerintah daerah dalam menentukan apakah status penanganan karhutla di Kotim perlu ditingkatkan menjadi tanggap darurat. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments