top of page

Search Results

2812 results found with an empty search

  • UPR Lantik dan Ambil Sumpah Belasan Pejabat Struktural Baru

    Universitas Palangka Raya (UPR) melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah/janji pejabat struktural di lingkungan kampus sebagai implementasi Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 14 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) UPR. (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Universitas Palangka Raya (UPR) melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah/janji pejabat struktural di lingkungan kampus sebagai tindak lanjut penerapan Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Permendiktisaintek) Nomor 14 Tahun 2025 tentang Organisasi dan Tata Kerja (OTK) UPR. Pelantikan yang berlangsung di Aula Rahan Rektorat UPR, Kamis (21/5/2026), dipimpin langsung oleh Rektor UPR Salampak dan dihadiri jajaran pimpinan universitas. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari penataan kelembagaan guna memperkuat tata kelola perguruan tinggi agar lebih efektif, adaptif, dan responsif terhadap perkembangan dunia pendidikan tinggi. Dalam penerapan OTK terbaru, terdapat sejumlah perubahan nomenklatur jabatan di lingkungan UPR. Salah satunya perubahan jabatan Wakil Rektor Bidang Umum dan Keuangan menjadi Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum. Perubahan tersebut dilakukan untuk memperkuat fungsi perencanaan dalam sistem pengelolaan universitas agar lebih terintegrasi dalam pengambilan kebijakan dan pengelolaan sumber daya kampus. Selain itu, Fakultas Pertanian kini resmi berubah menjadi Fakultas Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebagai bentuk pengembangan cakupan bidang keilmuan. UPR juga menambah jabatan baru, yakni Wakil Rektor Bidang Kerja Sama, Hubungan Masyarakat, dan Sistem Informasi yang diharapkan mampu memperkuat kerja sama kelembagaan, komunikasi publik, dan transformasi digital di lingkungan kampus. Dalam kesempatan tersebut turut dilantik Kepala Unit Penunjang Akademik, pejabat administrator (Eselon III.a), dan pejabat pengawas (Eselon IV.a) di lingkungan Universitas Palangka Raya. Rektor UPR Salampak menegaskan bahwa jabatan merupakan amanah yang harus dijalankan dengan penuh integritas, tanggung jawab, dan profesionalisme. Ia meminta seluruh pejabat yang dilantik menjaga kode etik aparatur sipil negara (ASN) dan memberikan pelayanan terbaik bagi sivitas akademika maupun masyarakat. “Pejabat yang dilantik harus mampu menunjukkan integritas, profesionalisme, dan komitmen sebagai ASN yang menjunjung tinggi kode etik serta memberikan pelayanan terbaik,” ujarnya. Salampak juga menekankan pentingnya dukungan seluruh pejabat terhadap implementasi program IKU Berdampak sebagai kebijakan strategis Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam mendorong transformasi pendidikan tinggi yang inovatif dan berorientasi pada dampak nyata. Pelantikan tersebut diharapkan menjadi momentum penguatan organisasi sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan UPR guna mendukung kinerja institusi yang lebih unggul dan berdaya saing. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Ketua Dekranasda Kalteng Jadi Narasumber Talk Show Wastra Angkat Pesona Budaya Daerah

    Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Tengah, Aisyah Thisia Agustiar Sabran, menjadi narasumber dalam Talk Show Wastra bertema “Pesona Wastra Kalimantan Tengah, Menjaga Tradisi Memperkokoh Jati Diri” bersama Pengurus Pusat Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Mel Ahyar di Aula Jayang Tingang, Lantai I Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Kamis (21/5/2026). (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kalimantan Tengah, Aisyah Thisia Agustiar Sabran, menjadi narasumber dalam Talk Show Wastra bertema “Pesona Wastra Kalimantan Tengah, Menjaga Tradisi Memperkokoh Jati Diri” di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Kamis (21/5/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Pengurus Pusat Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas), Mel Ahyar, dan digelar sebagai bagian dari upaya pelestarian serta promosi wastra khas Kalimantan Tengah yang memiliki motif dan nilai budaya khas daerah. Selain menjadi sarana promosi budaya, kegiatan itu juga menjadi ruang apresiasi bagi para perajin, desainer, dan pelaku UMKM dalam memperkenalkan produk berbasis kearifan lokal kepada masyarakat. Dalam sambutannya, Aisyah Thisia Agustiar Sabran menyampaikan bahwa kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah tersebut diharapkan mampu memberikan wawasan dan motivasi bagi pelaku usaha kreatif serta generasi muda di daerah. Menurutnya, talk show wastra juga membuka peluang pengembangan jejaring dan pemasaran produk budaya lokal agar semakin dikenal luas. “Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan peserta mengenai perkembangan industri fashion dan wastra, termasuk strategi pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, serta pentingnya inovasi dan kolaborasi,” ujarnya. Ia menambahkan, putra-putri terbaik dari 14 kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah juga diberikan kesempatan menampilkan potensi dan kekayaan wastra daerah masing-masing melalui kegiatan fashion show yang digelar dalam rangkaian acara tersebut. Aisyah juga mengungkapkan bahwa wastra khas Kalimantan Tengah melalui Benang Bintik telah tampil pada Rolling Exhibition Osaka Expo 2025 dan ikut diperkenalkan dalam Jakarta Fashion Week 2026 bersama desainer Ayu Dyah Andari. Pada kesempatan tersebut, Ketua Dekranasda Kalimantan Tengah secara resmi membuka seluruh rangkaian kegiatan Dekranasda Kalteng Wastra Festival 2026. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Gubernur Kalteng Harapkan Pengurus DAD dan BATAMAD yang Baru Dilantik Tetap Solid

    Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran melantik pengurus Dewan Adat Dayak (DAD), Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (BATAMAD) kabupaten/kota se-Kalimantan Tengah, serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DAD di Aula Jayang Tingang Lantai II Kantor Gubernur Kalimantan Tengah, Jumat (22/5/2026). (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran melantik pengurus Dewan Adat Dayak (DAD), Barisan Pertahanan Masyarakat Adat Dayak (BATAMAD) kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah, serta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) DAD di Aula Jayang Tingang, Lantai II Kantor Gubernur Kalteng, Jumat (22/5/2026). Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolda Kalteng, Kabinda, Wakil Ketua III DPRD Kalteng, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng, bupati dan wakil bupati, Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) periode 2021–2026 Marthin Billa, serta jajaran pengurus DAD dan BATAMAD se-Kalimantan Tengah. Pelantikan dilakukan terhadap struktur kepengurusan DAD di delapan kabupaten dan kota, BATAMAD di empat kabupaten, serta LBH DAD Kalteng berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Nomor 16 Tahun 2008 tentang Kelembagaan Adat Dayak di Kalimantan Tengah. Presiden MADN Marthin Billa menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh pengurus yang baru dilantik dan berharap amanah yang diberikan dapat dijalankan dengan baik demi kemajuan masyarakat adat Dayak dan pembangunan daerah. “Atas nama Presiden MADN, saya mengucapkan selamat kepada seluruh pengurus yang dilantik. Semoga amanah ini dapat dijalankan demi pembangunan masyarakat Kalimantan Tengah yang lebih baik,” ujarnya. Sementara itu, Gubernur Kalteng Agustiar Sabran yang juga menjabat Ketua Umum DAD Kalteng mengatakan pelantikan tersebut bukan sekadar agenda rutin organisasi, tetapi menjadi momentum penting untuk memperkuat koordinasi dan menyatukan langkah dalam menghadapi berbagai dinamika sosial, budaya, dan ekonomi di Kalimantan Tengah. Menurutnya, Kalimantan Tengah memiliki kekayaan sumber daya alam sekaligus keberagaman suku, budaya, dan agama yang harus dijaga bersama di tengah perkembangan pembangunan dan investasi yang terus meningkat. Ia menegaskan bahwa DAD memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga harmoni sosial agar nilai-nilai kebangsaan tetap terpelihara di tengah masyarakat. Dalam sambutannya, Gubernur juga menekankan tiga fokus utama yang perlu menjadi perhatian DAD ke depan, yakni penanganan dan pencegahan konflik, penguatan kearifan lokal sebagai bagian dari instrumen hukum dan pendidikan, serta memperkuat peran sebagai mitra strategis pemerintah daerah dan aparat keamanan. “Melalui pelantikan ini, saya berharap kepengurusan DAD dan BATAMAD kabupaten dan kota yang baru dapat terus solid, berintegritas, dan bersinergi dengan pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum,” tegas Agustiar Sabran. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri

  • Pemkab Kotim Tegaskan Lahan Km 18 Sah Milik Kodim 1015 Sampit

    Suasana jumpa pers klarifikasi terkait polemik lahan di Km 18 antara warga dan pihak TNI yang digelar di Aula Pertemuan Setda Kotawaringin Timur, Jumat (22/5/2026). (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, SAMPIT - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menegaskan bahwa lahan di Km 18 Jalan Jenderal Sudirman, Sampit, yang belakangan menjadi polemik antara warga dan pihak TNI merupakan lahan sah milik Kodim 1015 Sampit. Penegasan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar di Aula Setda Kotim, Jumat (22/5/2026), menyusul beredarnya video viral terkait sengketa lahan antara warga dan TNI di lokasi tersebut. Konferensi pers dihadiri Dandim 1015 Sampit, Kapolres Kotim, Asisten Bidang Kesejahteraan Rakyat Setda Kotim Drs. Waren, serta sejumlah pejabat Kodim 1015 Sampit. Dalam keterangannya, Waren menyampaikan bahwa lahan yang saat ini direncanakan untuk pembangunan Yonif TP 923 Mentaya telah dikuasai oleh Kodim 1015 Sampit sejak tahun 1999. “Terkait gugatan masyarakat terhadap sebagian lahan yang diperuntukkan bagi pembangunan Yonif TP 923 Mentaya, pemerintah daerah menyatakan bahwa lahan tersebut memang sudah dimiliki Kodim 1015 sejak tahun 1999,” ujarnya. Ia mengimbau masyarakat agar tidak mudah menerima informasi yang belum jelas kebenarannya karena dapat memperkeruh situasi keamanan dan ketertiban masyarakat. Menurutnya, pembangunan fasilitas TNI di kawasan tersebut, termasuk lapangan tembak, dinilai akan memberikan manfaat bagi daerah, baik dari sisi keamanan maupun dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Sebelumnya, sempat beredar video di media sosial yang memperlihatkan penolakan sejumlah warga terhadap aktivitas persiapan lahan oleh pihak TNI. Dalam video tersebut, seorang warga menyatakan bahwa lahan masih dalam proses sengketa di pengadilan sehingga warga merasa masih memiliki hak untuk mempertanyakan status kepemilikannya. -red Penulis: Angel Editor: Nafiri

  • Kebakaran Dini Hari Hanguskan Toko Kopi Bumi Palangka Raya

    Api berkobar saat kebakaran melanda Toko Kopi Bumi Cafe di Jalan Kutilang, Palangka Raya, Sabtu dini hari. (Foto: Dok. Yusnia) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Kebakaran hebat melanda Toko Kopi Bumi Cafe yang berada di Jalan Kutilang No. 57, Kota Palangka Raya, pada Sabtu (23/5/2026) dini hari sekitar pukul 03.15 WIB. Kobaran api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebagian besar bangunan kafe yang diketahui beroperasi selama 24 jam tersebut. Berdasarkan informasi di lapangan, api pertama kali diduga muncul dari bagian belakang bangunan atau area dapur kafe. Dalam waktu singkat, api membesar dan melalap isi bangunan hingga memicu kepanikan warga sekitar. Peristiwa tersebut diduga dipicu oleh kebocoran gas elpiji dari area dapur atau kitchen kafe. Dugaan itu semakin menguat lantaran aroma gas masih tercium cukup pekat hingga proses pendinginan dilakukan petugas pemadam kebakaran. Warga sekitar juga mengaku sempat mencium bau gas menyengat sebelum api membesar dan melalap bangunan. Kobaran api yang tinggi membuat warga di sekitar lokasi panik dan berhamburan keluar rumah karena khawatir api merembet ke bangunan lain di kawasan padat penduduk tersebut. Petugas pemadam kebakaran gabungan bersama relawan Emergency Response (ERP) langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman dan penyekatan api agar tidak meluas. Proses pemadaman berlangsung cukup sulit karena besarnya kobaran api, banyaknya material mudah terbakar di dalam bangunan, serta keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kejadian. Setelah berjibaku selama beberapa waktu, petugas akhirnya berhasil mengendalikan kobaran api dan melanjutkan proses pendinginan di area bangunan yang terbakar. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi terkait korban jiwa maupun total kerugian akibat kebakaran tersebut. Sementara itu, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti kebakaran dengan memintai keterangan sejumlah saksi di lokasi kejadian. -red Penulis: Angel Editor: Ivonne Hana

  • Kalimantan Tengah Bersiap Jadi Kekuatan Ekonomi Baru di Pulau Kalimantan

    Ilustrasi suasana pembangunan dan optimisme baru di Kalimantan Tengah. (Foto: Nusa Kalimantan) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama bertahun-tahun, Kalimantan Tengah sering dipandang sebagai wilayah “pinggiran” dalam peta pembangunan nasional. Letaknya jauh dari pusat ekonomi Pulau Jawa, jumlah penduduknya relatif kecil, dan pemberitaan nasional lebih banyak menyoroti isu hutan, tambang, serta kebakaran lahan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, posisi Kalimantan Tengah perlahan mulai berubah. Di tengah pergeseran geopolitik nasional menuju Pulau Kalimantan, provinsi ini mulai memiliki peran strategis yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Kalimantan Tengah kini tidak lagi hanya dipandang sebagai daerah pelengkap, tetapi mulai bergerak menjadi wilayah yang berpotensi menentukan arah masa depan Indonesia. Perubahan tersebut tidak terjadi secara tiba-tiba. Salah satu faktor terbesar adalah perpindahan orientasi pembangunan nasional ke Pulau Kalimantan setelah pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Meski IKN berada di Kalimantan Timur, dampaknya mulai mengubah posisi seluruh kawasan Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah. Pembangunan IKN tahap kedua pada 2025 mulai memasuki pengembangan infrastruktur lanjutan, ruang terbuka hijau, kawasan ekonomi, dan layanan publik terpadu. Situasi ini membuat wilayah Kalimantan tidak lagi dipandang sebagai hinterland semata, tetapi sebagai pusat pertumbuhan baru Indonesia. Di tengah perubahan tersebut, Kalimantan Tengah memiliki keunggulan geografis yang cukup strategis. Dengan luas wilayah sekitar 153 ribu kilometer persegi, Kalimantan Tengah merupakan provinsi terluas kedua di Indonesia setelah Papua. Posisi geografisnya yang berada di tengah Pulau Kalimantan membuat provinsi ini memiliki peluang menjadi penghubung ekonomi, logistik, pangan, dan energi antarwilayah di masa depan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sendiri mulai menyusun arah pembangunan jangka panjang yang lebih agresif dibanding sebelumnya. Dalam RPJMD Provinsi Kalimantan Tengah 2025–2029, pemerintah daerah secara resmi menetapkan visi pembangunan lima tahunan yang menekankan transformasi ekonomi, penguatan daya saing daerah, pembangunan berkelanjutan, serta integrasi dengan arah pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045. Yang menarik, pembangunan identitas baru Kalimantan Tengah tidak hanya berfokus pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada perubahan cara pandang daerah terhadap dirinya sendiri. Selama ini banyak daerah di luar Jawa tumbuh dengan orientasi menjadi “pengikut” pusat ekonomi nasional. Namun Kalimantan Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda ingin membangun model pembangunan sendiri yang berbasis lingkungan, desa modern, ekonomi hijau, dan digitalisasi daerah. Fenomena tersebut terlihat dari mulai berkembangnya konsep “Green Kalteng” dalam berbagai dokumen pembangunan daerah. Pemerintah daerah mendorong pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga keseimbangan lingkungan dan tata ruang berkelanjutan. Hal ini menjadi penting karena Kalimantan Tengah memiliki salah satu kawasan hutan tropis dan gambut terbesar di Indonesia yang sangat strategis bagi stabilitas iklim nasional maupun global. Selain itu, transformasi desa dan digitalisasi daerah juga mulai mengubah struktur sosial Kalimantan Tengah. Jumlah desa mandiri meningkat signifikan dalam tiga tahun terakhir, sementara digitalisasi administrasi desa dan pengembangan ekonomi kreatif lokal mulai berkembang di berbagai wilayah. Kondisi ini menciptakan fondasi baru bahwa pembangunan tidak harus selalu berpusat pada kota besar seperti di Pulau Jawa. Di sektor ekonomi, posisi Kalimantan Tengah juga semakin diperhitungkan. Dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) terbaru, beberapa kawasan industri besar mulai diarahkan masuk ke Kalimantan Tengah, termasuk kawasan industri hijau dan energi. Ini menunjukkan bahwa provinsi tersebut mulai diposisikan sebagai bagian penting dari rantai industri dan energi nasional di masa depan. Pada saat yang sama, perkembangan ekonomi nasional yang mulai bergerak ke luar Jawa menciptakan momentum baru bagi Kalimantan Tengah. Selama bertahun-tahun, konsentrasi ekonomi Indonesia terlalu terpusat di Jawa hingga memunculkan ketimpangan pembangunan regional. Kini, ketika pusat gravitasi pembangunan mulai bergeser ke Kalimantan, Kalimantan Tengah memiliki peluang besar untuk menentukan identitas ekonominya sendiri sebelum urbanisasi dan industrialisasi tumbuh terlalu cepat. Perubahan ini juga mulai memengaruhi psikologi generasi muda daerah. Anak muda Kalimantan Tengah kini tidak lagi sepenuhnya melihat daerahnya sebagai tempat yang harus ditinggalkan demi masa depan. Muncul peningkatan rasa percaya diri terhadap identitas lokal, budaya daerah, hingga peluang ekonomi digital yang dapat dibangun langsung dari Kalimantan Tengah. Generasi muda mulai melihat bahwa masa depan tidak selalu berada di Jakarta atau Pulau Jawa. Meski demikian, tantangan tetap besar. Kalimantan Tengah masih menghadapi ketergantungan terhadap sektor ekstraktif seperti tambang dan perkebunan. Infrastruktur dasar di beberapa wilayah pedalaman juga masih memerlukan percepatan pembangunan. Selain itu, tekanan investasi dan urbanisasi di masa depan berpotensi menciptakan masalah lingkungan apabila tidak dikendalikan secara hati-hati. Namun di balik tantangan tersebut, Kalimantan Tengah saat ini berada pada momentum sejarah yang berbeda dibanding sebelumnya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, provinsi ini memiliki peluang membangun identitas baru bukan sebagai wilayah pinggiran, tetapi sebagai wilayah strategis yang ikut menentukan arah Indonesia masa depan. Jika transformasi ini terus berkembang, maka Kalimantan Tengah kemungkinan tidak lagi hanya dikenal sebagai daerah sumber daya alam atau wilayah transit pembangunan nasional. Provinsi ini dapat berubah menjadi simbol pergeseran besar Indonesia: dari pembangunan yang terlalu berpusat di Jawa menuju Indonesia yang lebih seimbang, lebih hijau, dan lebih terdesentralisasi.

  • Internet Desa Melahirkan Generasi Kreatif Baru di Kalimantan Tengah

    Ilustrasi kecepatan internet tinggi yang mendukung aktivitas digital lebih lancar dan tanpa hambatan. (Foto: Pexels) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama ini, kita biasanya mengukur pembangunan internet di pedesaan lewat angka-angka teknis semata berapa menara yang berdiri, seberapa cepat jaringan, atau berapa persen transaksi digital yang melonjak. Pemerintah dan perusahaan teknologi kerap memakai jargon “internet masuk desa” sebagai bukti mutlak bahwa ekonomi daerah bakal ikut mengebut. Namun, jika mau jujur, aspek yang berubah paling awal justru bukan urusan isi dompet, melainkan ruang mental anak mudanya. Di Kalimantan Tengah, saat internet mulai merambah wilayah yang sebelumnya terisolasi, perlahan tetapi pasti, generasi mudanya mulai menemukan cara baru untuk memandang dunia, masa depan, dan siapa diri mereka sebenarnya. Efek kesejahteraan memang belum kelihatan instan pada peningkatan pendapatan. Namun, perubahan pola pikir—yang sering kali luput dari perhatian—sudah berjalan lebih dulu. Mereka yang dulunya tumbuh dalam ruang sosial yang sekatnya sempit, sekarang bisa mengintip dunia luar tanpa perlu mengangkat kaki dari kampung halaman. Lewat media sosial, video tutorial, dan platform belajar online, mereka menyaksikan langsung keragaman gaya hidup, peluang kerja, pendidikan, hingga kebudayaan dari segala penjuru dunia, semua hanya lewat layar ponsel. Apalagi, penetrasi internet di Kalimantan Tengah memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat bahwa rumah tangga yang telah mengakses internet di provinsi ini sudah menembus angka 78 persen pada tahun 2025—sebuah lonjakan drastis dibanding lima tahun sebelumnya. Proyek perluasan jaringan pun masih terus digenjot untuk menyisir sisa-sisa wilayah blank spot di pedalaman. Langkah ini diperkuat oleh kehadiran program-program berbasis komunitas seperti Kampung Internet dan digitalisasi administrasi desa. Di berbagai pelosok Kalimantan Tengah saat ini, internet bukan lagi barang mewah yang asing, melainkan sudah melebur menjadi bagian dari ritme rutinitas sehari-hari. Menariknya, dampak paling radikal dari konektivitas ini muncul pada cara anak muda membayangkan masa depan mereka. Anak-anak desa mulai menyadari bahwa garis hidup mereka tidak melulu harus berakhir menjadi petani, guru, atau buruh setempat. Internet memperkenalkan ragam profesi baru yang dulunya hanya ada di lanskap perkotaan, mulai dari content creator, desainer digital, editor video, freelancer online, hingga pekerja remote yang mengandalkan keahlian teknologi. Sikap percaya diri mereka pun mulai bermunculan. Kini, semakin banyak anak muda pedalaman yang berani memamerkan karyanya di media sosial, memproduksi konten lokal yang mengenalkan keunikan budaya daerah, hingga membangun komunitas digital bersama teman-temannya. Internet memberi mereka ruang untuk merasa setara—bahwa anak pedalaman pun memiliki garis awal kompetisi yang sama dengan anak-anak di kota besar. Fenomena lokal ini sejalan dengan temuan riset global mengenai dampak teknologi pada pemuda pedesaan. Studi dalam jurnal Information Technology for Development menyebutkan bahwa akses internet di desa tidak sekadar membuka keran ekonomi, melainkan memperluas skala mimpi dan aspirasi sosial penggunanya. Anak muda desa yang terpapar internet cenderung memiliki optimisme masa depan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Kondisi ini melahirkan generasi dengan identitas "ganda" di Kalimantan Tengah: mereka hidup secara fisik di desa, tetapi memiliki cakrawala berpikir yang global. Mereka tetap akrab dan hormat pada hukum adat serta kebudayaan lokal, namun di saat yang sama, mereka fasih berselancar di tengah tren digital dunia. Pola adaptasi sosial ini memutus rantai kebiasaan lama yang memaksa anak muda berpindah (hijrah) secara fisik ke kota besar hanya demi berburu peluang. Pemerintah daerah sendiri mulai menangkap pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM) lewat jalur digital ini. Program penunjang seperti Sistem Informasi dan Administrasi Pemerintah Desa (SIAPDes) serta pelatihan UMKM digital terus diperluas. Hasilnya bukan cuma soal urusan birokrasi yang lebih cepat, melainkan terbukanya ruang bagi desa untuk akrab dengan inovasi. Tentu saja, lompatan mental ini bukan tanpa risiko. Internet membawa peluang besar, sekaligus tekanan psikologis yang tidak kalah berat. Saban hari disuguhi standar hidup global di media sosial membuat anak muda desa rentan terjebak dalam jebakan komparasi sosial. Internet memperluas mimpi mereka, tetapi jika tidak diimbangi dengan kesiapan fasilitas pendidikan yang konkret dan ketersediaan lapangan kerja yang riil, mimpi tersebut bisa berubah menjadi rasa cemas dan minder. Oleh karena itu, sekadar menancapkan tiang pemancar di desa barulah langkah pembuka. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengarahkan konektivitas tersebut agar mampu membangun kualitas manusia dan menyediakan ruang kreatif yang sehat bagi anak muda desa. Jika dikelola dengan tepat, internet akan melahirkan varietas generasi baru: mereka yang memilih tetap tinggal di desanya, tetapi mampu bersaing di panggung nasional bahkan global. Pada akhirnya, perubahan terbesar dari masuknya internet ke wilayah pedesaan bukanlah soal statistik ekonomi digital. Yang benar-benar bergeser adalah cara anak-anak muda memandang harga diri mereka. Internet menghapus perasaan bahwa mereka hidup di pinggiran dunia. Untuk pertama kalinya, anak muda di pedalaman Kalimantan Tengah bisa percaya bahwa masa depan yang cerah tidak selalu harus dikejar ke kota besar, sebab mereka bisa menciptakannya sendiri dari tanah tempat mereka dilahirkan. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hana

  • Kalimantan Tengah Dorong Pembangunan Modern Berbasis Hutan dan Desa

    Orangutan berada di kawasan hutan tropis Kalimantan Tengah yang menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama bertahun-tahun, pembangunan di Indonesia selalu berkiblat ke Jawa: kota-kota ramai tumbuh, industri bertambah, dan ekonomi terpusat pada urbanisasi besar. Desa, area hijau, perlahan tergeser oleh jalan tol dan gedung. Tapi, di antara model lama ini, Kalimantan Tengah datang dengan peluang berbeda. Mereka punya kesempatan jadi provinsi hijau pertama di Indonesia tumbuh secara ekonomi tanpa harus meniru pola urbanisasi ala Jawa. Ini bukan sekadar wacana. Kenyataannya, Kalimantan Tengah punya karakter geografis dan demografis yang unik. Dengan luas sekitar 153 ribu kilometer persegi dan penduduk yang tidak banyak, kepadatannya cuma sekitar 18 orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Jawa yang bisa mencapai lebih dari 1.200 orang! Masih banyak ruang di Kalimantan Tengah untuk membangun dengan cara yang lebih terencana dan ramah lingkungan. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mulai serius dengan gagasan Green Kalteng atau Kalteng Hijau. Konsep ini masuk resmi ke visi pembangunan lewat RPJMD Kalimantan Tengah 2021–2026. Fokusnya jelas: pembangunan berkelanjutan, tata ruang yang ramah lingkungan, pertumbuhan ekonomi hijau. Visi “Kalimantan Tengah Makin BERKAH” juga menegaskan pembangunan berbasis Green Kalteng. Musrenbang RPJMD Kalimantan Tengah 2025–2029 memperkuat arah itu. Gubernur H. Agustiar Sabran berkali-kali bilang pembangunan di sini harus pakai filosofi Huma Betang harmoni, kebersamaan, dan keberlanjutan lingkungan. Prinsip SDGs juga mulai diadopsi dalam perencanaan. Langkah ini rasanya penting, karena banyak daerah di Indonesia sudah membayar mahal akibat pembangunan yang cuma mengejar fisik. Lihat saja kota-kota besar di Jawa: polusi, kemacetan, ruang hijau menyempit, kualitas hidup pun turun. Kalimantan Tengah punya kesempatan untuk menghindari masalah yang sama, selagi urbanisasi di sana belum melaju terlalu cepat. Sekarang, pemerintah setempat mulai menyeimbangkan antara investasi dan keberlanjutan lingkungan. Tema pembangunan di tahun 2024 jelas: “Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan (Growth Green)” lewat investasi dengan infrastruktur menuju Kalteng Elok dan Ramah. ([PPID Kalteng]) Jadi, investasi boleh jalan, tapi keberlanjutan tetap jadi perhatian utama. Modal ekologis Kalimantan Tengah juga besar. Hutan tropis masih luas, gambut strategis ada di mana-mana sehingga posisinya penting buat menjaga iklim global. Pemerintah provinsi juga sudah merancang aksi adaptasi perubahan iklim untuk menghadapi risiko di bidang pertanian, kesehatan, dan sumber daya air. Yang seru, pembangunan hijau di Kalimantan Tengah bisa jalan bareng perkembangan ekonomi digital dan desa modern. Urbanisasi di Jawa berlangsung cepat, sementara desa di Kalimantan Tengah masih kuat dan punya ruang hidup yang luas. Ini membuka peluang buat model baru: ekonomi tumbuh tanpa semua aktivitas dipusatkan di kota besar. Sekarang mulai kelihatan, desa mandiri tumbuh, pemerintahan desa makin digital, ekonomi kreatif berbasis budaya lokal ikut berkembang. Internet dan teknologi membantu masyarakat tetap terhubung tanpa harus pindah ke kota besar. Modernisasi bukan berarti harus urbanisasi, yang penting masyarakat ikut maju tanpa harus kehilangan akar. Di skala nasional, posisi Kalimantan Tengah makin strategis setelah ada Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Memang, IKN ada di Kalimantan Timur, tapi dampaknya pelan-pelan terasa di seluruh Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah. Ini jadi peluang buat provinsi menentukan identitas pembangunannya sendiri, sebelum urbanisasi jadi tekanan besar. Tentu tantangan tetap ada. Kalimantan Tengah masih tergantung pada sektor ekstraktif: perkebunan, pertambangan. Kalau ekspansinya dibiarkan tanpa pengawasan, bukan nggak mungkin pola kerusakan lingkungan di Jawa terulang di sini. Maka, pembangunan hijau butuh konsistensi kebijakan, pengawasan tata ruang yang ketat, dan keberanian pemerintah menjaga keseimbangan investasi dan lingkungan. Pada akhirnya, Kalimantan Tengah ada di persimpangan. Mau ikut pola urbanisasi besar-besaran seperti Jawa, atau membangun model baru yang lebih hijau, seimbang, dan manusiawi. Kalau provinsi ini bisa konsisten, bukan mustahil Kalimantan Tengah jadi bukti pertama di Indonesia bahwa ekonomi bisa maju tanpa mengorbankan ruang hidup dan lingkungan. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hana

  • Generasi Dayak Digital: Ketika Anak Muda Kalteng Mengubah Identitas Lokal Menjadi Ekonomi Kreatif

    Generasi muda Kalimantan Tengah dalam kegiatan media digital dan ekonomi kreatif daerah. (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Generasi muda Dayak di Kalimantan Tengah sekarang tidak hanya menjaga budaya lama, mereka mulai memadukan identitas lokal dengan teknologi dan ekonomi kreatif. Bukan lagi sekadar rumah betang, tarian daerah, atau upacara adat budaya Dayak mereka kini hadir di dunia digital lewat desain grafis, fashion kekinian, konten media sosial, musik elektronik, video dokumenter, sampai promosi wisata online. Cara pandang terhadap budaya lokal pun berubah anak-anak muda kota sekarang melihat warisan Dayak bukan lagi sebagai hal kuno, melainkan sesuatu yang punya nilai ekonomi dan bisa dikembangkan menjadi tren kreatif. Ekonomi digital di Kalimantan Tengah memang tumbuh pesat dalam dua tahun terakhir. Pemerintah provinsi bersama Bank Indonesia terus mendorong ekosistem ini melalui event seperti Borneo Digital Economy Creative Festival (Decafest) 2025 dan Pesona Tambun Bungai. Di festival ini, UMKM, komunitas kreatif, dan pelaku ekonomi digital saling berkolaborasi. Jadi, acaranya tidak cuma menjadi hiburan semata, tetapi juga membuka peluang nyata untuk tumbuh bersama sebagai pelaku ekonomi kreatif. Bicara soal data, Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS di Kalimantan Tengah menembus 16,5 juta hingga Agustus 2025, dengan nilai mencapai Rp2,2 triliun. Angka ini melonjak lebih dari 100% dibanding tahun lalu. Menariknya, sebagian besar merchant adalah pelaku UMKM yang mayoritas digerakkan oleh anak muda. Artinya, transformasi digital sudah menjadi bagian dari urusan isi dompet masyarakat, bukan cuma agenda di atas kertas milik pemerintah atau institusi besar. Lewat modal konektivitas ini, anak muda Dayak sekarang bisa memasarkan kain motif modern, aksesori etnik, ilustrasi digital, hingga konten wisata lokal lewat marketplace dan media sosial. Mereka tidak harus bergantung pada pasar tradisional; internet membuka jalur langsung ke pasar nasional bahkan global. Sekarang, budaya lokal resmi jadi aset ekonomi yang punya daya jual tinggi—bukan lagi sekadar simbol tradisi yang pasif. Dampaknya pun terasa pada kepercayaan diri mereka. Anak muda tidak lagi merasa budaya Dayak itu tertinggal. Identitas lokal justru menjadi sumber kreativitas, tempat mereka aktif membangun tren dan bukannya sekadar jadi penonton modernisasi. Pemerintah daerah pun ikut menangkap momentum ini. Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran, menekankan agar digitalisasi di Kalteng tetap berjalan selaras dengan pelestarian nilai lokal. Festival seperti Decafest sengaja dirancang menjadi ruang inovasi digital yang tetap mengakar kuat pada identitas budaya Bumi Tambun Bungai. Perubahan masif ini tentu tidak lepas dari makin luasnya akses internet di pelosok daerah. Lewat TikTok, Instagram, YouTube, dan karya desain digital, mereka bisa mempromosikan keunikan Dayak langsung ke audiens global. Pola pelestarian budaya pun bergeser menjadi lebih partisipatif; tidak lagi sekadar seremonial tahunan, melainkan berbasis kreativitas digital sehari-hari. Ke depannya, Kalimantan Tengah punya peluang besar membangun ekonomi kreatif yang unik dan berbeda dari daerah lain, tanpa harus terus-menerus bergantung pada sektor tambang dan perkebunan. Identitas Dayak telah naik kelas; dari warisan leluhur menjadi soft power dan aset ekonomi yang bisa diandalkan. Modernisasi ternyata tidak harus menyingkirkan tradisi. Jika transformasi ini terus berkembang, maka generasi baru Dayak Digital kemungkinan akan menjadi wajah baru Kalimantan Tengah di era ekonomi kreatif Indonesia.

  • Kalimantan Tengah Diam-Diam Jadi Contoh Desa Masa Depan Indonesia

    Hamparan kawasan hutan dan permukiman masyarakat di Kalimantan Tengah. (Foto: Dok. Kalteng Network) KALTENG NETWORK, PALANGAK RAYA - Selama ini, orang lebih sering mengenal Kalimantan Tengah dari cerita tentang hutan, perkebunan, tambang, dan kebakaran lahan. Tapi, di balik semua itu, ada perubahan besar yang lambat laun berkembang, meski jarang disorot secara nasional. Desa-desa di Kalimantan Tengah bergerak cepat, pemerintahan mulai menggunakan digitalisasi, status pembangunan naik, ekonomi lokal berbasis teknologi sedang bertumbuh, dan internet mulai masuk ke pelosok. Diam-diam, Kalimantan Tengah berubah menjadi semacam laboratorium pembangunan desa masa depan Indonesia. Bukti perubahan itu terlihat cukup jelas. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah desa mandiri di Kalimantan Tengah melonjak. Catatan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa setempat menyebutkan, pada tahun 2022 terbentuk 87 desa mandiri. Lalu, pada tahun 2025, jumlahnya meningkat menjadi 278 desa. Sementara desa tertinggal turun jauh, dari 229 menjadi 65 desa saja, dan desa sangat tertinggal bahkan sudah tak ditemukan lagi sejak tahun 2023. Peningkatan tersebut menunjukkan perubahan struktur pembangunan desa yang cukup cepat dibanding persepsi publik terhadap Kalimantan Tengah selama ini. Dari total 1.432 desa, sekarang ada 757 desa yang masuk kategori maju dan mandiri. Kabupaten seperti Kotawaringin Timur punya 75 desa mandiri, paling tinggi di provinsi ini, disusul Kotawaringin Barat dengan 53 desa mandiri. Tapi perubahan itu bukan hanya tentang pembangunan fisik saja namun sistem administrasi dan pengelolaan pemerintahan desa pun juga mulai berubah arah. Pemerintah provinsi belakangan ini mendorong digitalisasi desa lewat program Sistem Informasi dan Administrasi Pemerintah Desa (SIAPDes). Program ini membantu desa mengurus administrasi, layanan publik, data pembangunan, dan potensi ekonomi secara digital. Di tahun 2025, pemerintah provinsi bahkan menggelar pelatihan SIAPDes buat desa-desa di wilayah pedalaman agar digitalisasi semakin cepat tercapai. Jelas, arah pembangunannya mulai bergeser ke arah yang lebih positif. Jika sebelumnya, desa selalu dianggap tertinggal dan sepenuhnya bergantung ke kota. Sekarang, desa mulai diarahkan supaya bisa tumbuh sendiri, jadi pusat pertumbuhan ekonomi, punya administrasi sendiri, bahkan terhubung secara digital. Transformasi ini makin nyata karena akses internet di desa-desa turut meluas dalam dua tahun terakhir. Program Kampung Internet dari pemerintah pusat, sejak 2025, mempercepat masuknya internet ke desa-desa yang sebelumnya “blank spot”. Pemerintah juga menanggung biaya internet untuk desa hingga satu tahun demi mempercepat konektivitas. Masuknya internet menawarkan lebih dari sekadar komunikasi yang lebih baik. Generasi muda di pedesaan Kalimantan Tengah dapat akses pendidikan digital, kerja daring, jualan produk lokal ke mana-mana, sampai menekuni ekonomi kreatif lewat medsos. Perubahan terbesar sering bukan langsung di dompet, tapi di pola pikir anak-anak mudanya. Lihat saja sekarang ekonomi kreatif lokal tumbuh, media digital ramai dipakai promosi budaya dan produk daerah, pemerintah daerah aktif dorong UMKM digital, dan desa mulai keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan pertanian dan sumber daya alam. Putar balik sedikit saja, desa-desa ini sudah mulai menyelam pelan-pelan ke dunia ekonomi digital. Menariknya, semua perubahan ini terjadi tanpa dorongan urbanisasi seperti di Jawa. Banyak desa di sini masih luas, lingkungannya relatif terjaga, hubungan sosial antarwarga pun erat. Ini kesempatan besar untuk membangun desa modern yang tetap kuat identitas sosial dan ruang hidupnya. Selama ini pembangunan di Indonesia selalu condong ke kota besar. Sekarang, Kalimantan Tengah seperti menunjukkan bahwa desa pun bisa jadi pusat transformasi ekonomi dan digital. Kalau tren desa mandiri, digitalisasi, dan internet terus jalan, Kalimantan Tengah sangat mungkin jadi contoh bagaimana wilayah non-kota tumbuh tanpa harus meniru urbanisasi ala Jawa. Alhasil, Kalimantan Tengah menarik dipandang bukan cuma sebagai sumber daya alam, tapi juga sebagai laboratorium sosial buat desa masa depan. Desa-desa ini membuktikan bahwa modernisasi tak selamanya mesti dimulai dari kota besar. Siapa tahu, dalam beberapa tahun lagi, justru desa-desa di sini yang muncul sebagai wajah baru transformasi digital Indonesia. -red Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hana

  • Ini Kata Gen Z Kalteng yang Merantau ke Jakarta, Worth It Gak, Sih?

    Ilustrasi: Hingar-bingar kota Jakarta (dokumentasi pribadi). KALTENGNETWORK, JAKARTA- Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, tingkat migrasi keluar penduduk Kalimantan Tengah tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat hanya sekitar 5% masyarakat Kalimantan Tengah yang melakukan migrasi keluar seumur hidup. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di Pulau Kalimantan, sedikit di atas Kalimantan Barat yang berada di angka 3%. Sebagai perbandingan, Kalimantan Selatan berada di angka 8%, Kalimantan Timur 7%, dan Kalimantan Utara mencapai 10%. Meski demikian, fenomena merantau di kalangan generasi muda Kalteng kini semakin terlihat. Akses pendidikan yang lebih luas, perkembangan dunia kerja, hingga kemudahan mobilitas membuat banyak anak muda mulai melirik kota-kota besar untuk membangun masa depan. Jakarta masih menjadi tujuan paling populer. Meski status ibu kota negara telah berpindah ke IKN, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, jaringan profesional, dan peluang karier di Indonesia. Tim Kalteng Network berkesempatan mewawancarai lima gen-z asal Kalimantan Tengah yang kini menjalani kehidupan di Jakarta. Bagi mereka, apakah keras dan cepatnya ritme megapolitan ini sebanding dengan peluang yang ditawarkan? Nius, 25 tahun, baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutannya setelah 1,5 tahun tinggal di Jakarta. Pemuda asal Puruk Cahu yang kini berprofesi sebagai ASN itu mengaku pengalamannya di Jakarta membuka cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan dan dunia kerja. “Jakarta worth it untuk orang yang memang ingin berkembang dan memaksimalkan potensinya. Tapi memang ritme hidupnya cepat, macet, dan orang-orang cenderung fokus dengan urusan masing-masing,” ujarnya. Meski berharap bisa ditempatkan di daerah asal, Nius mengaku tetap terbuka apabila suatu saat harus bekerja di pusat. Cerita serupa datang dari Asmi, 26 tahun, yang kini bekerja sebagai project manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Berbeda dengan sebagian orang yang merasa kewalahan dengan kehidupan Jakarta, Asmi justru merasa cocok dengan ritme kota yang serba cepat. “Dari dulu memang bercita-cita kerja di Jakarta. Menurutku ini cocok-cocokan, dan aku kebetulan cocok,” katanya. Meski sesekali merasa homesick, Asmi mengaku belum memiliki rencana untuk kembali menetap di Kalimantan Tengah dalam waktu dekat. Sementara itu, Sesa, 25 tahun, telah tujuh tahun merantau di Jakarta sejak masa kuliah. Kini ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan swasta asal Korea Selatan dan mengandalkan kemampuan bahasa Koreanya dalam dunia profesional. “Peluang di Jakarta memang lebih banyak, bukan cuma dari jumlah tapi juga ragam pekerjaannya. Terutama untuk ranah profesional. Tapi kita juga harus punya value lebih karena persaingannya ketat,” ungkapnya. Untuk jangka panjang, Sesa juga belum berencana kembali ke Kalteng selain untuk berlibur atau pulang sementara menemui keluarga. Berbeda dari yang lain, Vanco, 25 tahun, melihat Jakarta bukan sebagai tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju karier yang lebih luas. Lulusan UGM tersebut kini memasuki tahun ketiganya sebagai management trainee di salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia. “Kalau untuk jangka panjang, pengennya justru kerja di luar negeri. Menurutku sekarang peluang remote working juga mulai banyak, jadi sebenarnya pilihan karier tidak harus selalu terikat di satu kota,” ujarnya. Pandangan serupa juga disampaikan Onne, 25 tahun, yang kini bekerja di bidang penilaian kerugian bangunan di industri asuransi. Menurutnya, Jakarta memberikan banyak pengalaman dan kesempatan untuk berkembang di usia muda. “Pilihan kerja di sini memang jauh lebih banyak. Tapi kalau bicara jangka panjang dan berkeluarga, kembali ke Palangka Raya masih jadi pilihan yang kuat buatku,” katanya. Menariknya, meski hampir seluruh narasumber mengakui Jakarta menawarkan peluang karier yang lebih luas, tidak semuanya memandang megapolitan ini sebagai tujuan akhir hidup mereka. Bagi sebagian anak muda Kalteng, Jakarta lebih terasa sebagai ruang untuk belajar, mempercepat karier, membangun jaringan, dan memperluas perspektif sebelum menentukan langkah berikutnya. Tak semua orang cocok dengan ritme Jakarta yang cepat, kompetitif, dan melelahkan. Namun bagi sebagian generasi muda Kalteng, merantau menjadi pengalaman yang membantu mereka bertumbuh baik secara profesional maupun pribadi. Pada akhirnya, pertanyaan “worth it atau tidak” tampaknya bukan soal kota mana yang lebih baik. Semua kembali pada tujuan hidup, prioritas, dan fase yang sedang dijalani masing-masing orang. Bagaimana menurutmu, Pembaca Cerdas? Apakah kamu juga punya mimpi untuk merantau? -red Penulis: Fransisca Fethy Angelina Editor: Emuna Asie

  • Borneo itu Bukan Kalimantan! Ini Penjelasannya

    Ilustrasi: peta pulau Borneo (sumber: Google Maps) KALTENGNETWORK - Seringkali kita mendengar nama "Borneo" untuk menyebut Kalimantan, bahkan banyak yang mengira Borneo adalah terjemahan bahasa Inggris untuk pulau Kalimantan. Faktanya, Borneo berbeda dengan Kalimantan. Kalimantan adalah bagian dari Borneo, tapi Borneo bukan hanya Kalimantan. Berikut penjelasannya. Banyak orang masih menganggap “Borneo” dan “Kalimantan” adalah istilah yang sama. Padahal, keduanya memiliki arti yang berbeda, baik secara geografis maupun politik. Meski sama-sama merujuk pada pulau terbesar ketiga di dunia, penggunaan kedua nama ini bergantung pada konteks dan wilayahnya. Borneo adalah nama internasional untuk seluruh pulau besar yang berada di Asia Tenggara. Pulau ini dihuni oleh tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam. Secara luas, sekitar 73 persen wilayah Borneo berada di Indonesia, sementara sisanya terbagi antara Malaysia dan Brunei. Di tingkat global, nama “Borneo” lebih sering digunakan dalam peta dunia, penelitian internasional, hingga dokumenter alam. Pulau ini terkenal karena hutan hujan tropisnya yang sangat tua, keanekaragaman hayati, serta habitat satwa langka seperti orangutan, bekantan, dan macan dahan. Sementara itu, Kalimantan adalah nama yang digunakan Indonesia untuk menyebut wilayah Indonesia yang berada di Pulau Borneo. Wilayah Kalimantan terdiri dari lima provinsi, yaitu Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara. Artinya, semua Kalimantan adalah bagian dari Borneo, tetapi tidak semua Borneo adalah Kalimantan. Perbedaan nama ini muncul dari sejarah dan penggunaan budaya masing-masing negara. Dalam konteks internasional, nama “Borneo” sudah digunakan sejak era kolonial Eropa. Sementara di Indonesia, istilah “Kalimantan” lebih populer digunakan masyarakat lokal dan kemudian menjadi nama resmi wilayah Indonesia di pulau tersebut. Menariknya, di beberapa literatur lama, kata “Kalimantan” sebenarnya pernah digunakan untuk menyebut seluruh pulau, bukan hanya wilayah Indonesia. Namun seiring waktu, penggunaannya menjadi lebih spesifik. Perbedaan ini terlihat sederhana, tetapi penting dipahami agar tidak terjadi kekeliruan, terutama dalam penulisan berita, pendidikan, maupun diskusi geografis. -red Penulis : Ivonne Hana Editor : Emuna Asie

bottom of page