top of page

Internet Desa Melahirkan Generasi Kreatif Baru di Kalimantan Tengah

Ilustrasi kecepatan internet tinggi yang mendukung aktivitas digital lebih lancar dan tanpa hambatan. (Foto: Pexels)
Ilustrasi kecepatan internet tinggi yang mendukung aktivitas digital lebih lancar dan tanpa hambatan. (Foto: Pexels)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama ini, kita biasanya mengukur pembangunan internet di pedesaan lewat angka-angka teknis semata berapa menara yang berdiri, seberapa cepat jaringan, atau berapa persen transaksi digital yang melonjak. Pemerintah dan perusahaan teknologi kerap memakai jargon “internet masuk desa” sebagai bukti mutlak bahwa ekonomi daerah bakal ikut mengebut.


Namun, jika mau jujur, aspek yang berubah paling awal justru bukan urusan isi dompet, melainkan ruang mental anak mudanya. Di Kalimantan Tengah, saat internet mulai merambah wilayah yang sebelumnya terisolasi, perlahan tetapi pasti, generasi mudanya mulai menemukan cara baru untuk memandang dunia, masa depan, dan siapa diri mereka sebenarnya.


Efek kesejahteraan memang belum kelihatan instan pada peningkatan pendapatan. Namun, perubahan pola pikir—yang sering kali luput dari perhatian—sudah berjalan lebih dulu. Mereka yang dulunya tumbuh dalam ruang sosial yang sekatnya sempit, sekarang bisa mengintip dunia luar tanpa perlu mengangkat kaki dari kampung halaman. Lewat media sosial, video tutorial, dan platform belajar online, mereka menyaksikan langsung keragaman gaya hidup, peluang kerja, pendidikan, hingga kebudayaan dari segala penjuru dunia, semua hanya lewat layar ponsel.


Apalagi, penetrasi internet di Kalimantan Tengah memang berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Tengah mencatat bahwa rumah tangga yang telah mengakses internet di provinsi ini sudah menembus angka 78 persen pada tahun 2025—sebuah lonjakan drastis dibanding lima tahun sebelumnya. Proyek perluasan jaringan pun masih terus digenjot untuk menyisir sisa-sisa wilayah blank spot di pedalaman.


Langkah ini diperkuat oleh kehadiran program-program berbasis komunitas seperti Kampung Internet dan digitalisasi administrasi desa. Di berbagai pelosok Kalimantan Tengah saat ini, internet bukan lagi barang mewah yang asing, melainkan sudah melebur menjadi bagian dari ritme rutinitas sehari-hari.


Menariknya, dampak paling radikal dari konektivitas ini muncul pada cara anak muda membayangkan masa depan mereka. Anak-anak desa mulai menyadari bahwa garis hidup mereka tidak melulu harus berakhir menjadi petani, guru, atau buruh setempat. Internet memperkenalkan ragam profesi baru yang dulunya hanya ada di lanskap perkotaan, mulai dari content creator, desainer digital, editor video, freelancer online, hingga pekerja remote yang mengandalkan keahlian teknologi.


Sikap percaya diri mereka pun mulai bermunculan. Kini, semakin banyak anak muda pedalaman yang berani memamerkan karyanya di media sosial, memproduksi konten lokal yang mengenalkan keunikan budaya daerah, hingga membangun komunitas digital bersama teman-temannya. Internet memberi mereka ruang untuk merasa setara—bahwa anak pedalaman pun memiliki garis awal kompetisi yang sama dengan anak-anak di kota besar.

Fenomena lokal ini sejalan dengan temuan riset global mengenai dampak teknologi pada pemuda pedesaan.


Studi dalam jurnal Information Technology for Development menyebutkan bahwa akses internet di desa tidak sekadar membuka keran ekonomi, melainkan memperluas skala mimpi dan aspirasi sosial penggunanya. Anak muda desa yang terpapar internet cenderung memiliki optimisme masa depan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.


Kondisi ini melahirkan generasi dengan identitas "ganda" di Kalimantan Tengah: mereka hidup secara fisik di desa, tetapi memiliki cakrawala berpikir yang global. Mereka tetap akrab dan hormat pada hukum adat serta kebudayaan lokal, namun di saat yang sama, mereka fasih berselancar di tengah tren digital dunia. Pola adaptasi sosial ini memutus rantai kebiasaan lama yang memaksa anak muda berpindah (hijrah) secara fisik ke kota besar hanya demi berburu peluang.


Pemerintah daerah sendiri mulai menangkap pentingnya investasi sumber daya manusia (SDM) lewat jalur digital ini. Program penunjang seperti Sistem Informasi dan Administrasi Pemerintah Desa (SIAPDes) serta pelatihan UMKM digital terus diperluas. Hasilnya bukan cuma soal urusan birokrasi yang lebih cepat, melainkan terbukanya ruang bagi desa untuk akrab dengan inovasi.


Tentu saja, lompatan mental ini bukan tanpa risiko. Internet membawa peluang besar, sekaligus tekanan psikologis yang tidak kalah berat. Saban hari disuguhi standar hidup global di media sosial membuat anak muda desa rentan terjebak dalam jebakan komparasi sosial. Internet memperluas mimpi mereka, tetapi jika tidak diimbangi dengan kesiapan fasilitas pendidikan yang konkret dan ketersediaan lapangan kerja yang riil, mimpi tersebut bisa berubah menjadi rasa cemas dan minder.


Oleh karena itu, sekadar menancapkan tiang pemancar di desa barulah langkah pembuka. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana mengarahkan konektivitas tersebut agar mampu membangun kualitas manusia dan menyediakan ruang kreatif yang sehat bagi anak muda desa. Jika dikelola dengan tepat, internet akan melahirkan varietas generasi baru: mereka yang memilih tetap tinggal di desanya, tetapi mampu bersaing di panggung nasional bahkan global.


Pada akhirnya, perubahan terbesar dari masuknya internet ke wilayah pedesaan bukanlah soal statistik ekonomi digital. Yang benar-benar bergeser adalah cara anak-anak muda memandang harga diri mereka. Internet menghapus perasaan bahwa mereka hidup di pinggiran dunia. Untuk pertama kalinya, anak muda di pedalaman Kalimantan Tengah bisa percaya bahwa masa depan yang cerah tidak selalu harus dikejar ke kota besar, sebab mereka bisa menciptakannya sendiri dari tanah tempat mereka dilahirkan. Penulis : Emuna Asie

Editor : Ivonne Hana

Comments


bottom of page