Search Results
2730 results found with an empty search
- Perang Masa Depan Tidak Akan Dimulai dengan Senjata, Tapi dengan Gangguan Distribusi Makanan
Aktivitas pedagang sayur di pasar tradisional saat menjajakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. (Foto: RRI) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama ini, orang selalu menganggap perang sebagai sesuatu yang dimulai dengan bom, invasi, atau baku tembak antarnegara. Tapi sekarang, bentuknya mulai berubah. Ancaman terhadap negara tidak cuma datang dari kekuatan militer namun juga distribusi pangan pun dapat menjadi senjata. Krisis makanan diam-diam berubah jadi alat geopolitik yang bisa melemahkan negara tanpa satu pun peluru ditembakkan. Setelah pandemi COVID-19 dan berbagai konflik global dalam beberapa tahun terakhir, semua orang mulai sadar betapa rentannya sistem distribusi. Gangguan pengiriman barang dan naiknya biaya logistik bikin harga pangan meningkat. Banyak negara kerepotan bukan karena hasil panen habis, tapi karena distribusinya kacau. Kalau jalur logistik terganggu, efeknya langsung terasa yaitu harga jadi mahal dan ekonomi nasional ikut goyah. Data dari sektor pertanian Indonesia tahun 2025 menunjukkan ketergantungan terhadap impor pangan strategis masih tinggi. Kementerian Pertanian mencatat, impor gandum Indonesia tahun 2024 tembus 12,2 juta ton naik dari sebelumnya sekitar 10,9 juta ton. Impor beras pun ikut meroket jadi lebih dari 4 juta ton. Semua itu memperlihatkan betapa stabilitas pangan Indonesia sangat bergantung pada perdagangan internasional dan jalur distribusi global yang aman. Di sisi lain, konflik geopolitik terbaru semakin memperlihatkan bagaimana pangan dijadikan alat tekanan. Contohnya, gangguan di Selat Hormuz bikin distribusi pupuk global terganggu dan muncul keresahan soal krisis pangan baru. Menteri Luar Negeri Inggris bahkan sudah memperingatkan, krisis pupuk bisa langsung mengancam produksi makanan dunia dan menambah jumlah orang yang rawan pangan. Gangguan distribusi di satu tempat ternyata bisa menimbulkan efek domino ke sistem pangan global. Bukan cuma konflik fisik, ancaman dari segi ekonomi digital juga mulai muncul. Rantai pasok pangan dunia sekarang sangat bertumpu pada logistik modern, pelabuhan digital, data perdagangan, hingga sistem distribusi otomatis. Penelitian terbaru soal kerentanan sistem pangan global menyebutkan, dalam dua dekade terakhir, ketergantungan pada rantai pasok pupuk, energi, dan makanan utama terus meningkat. Bahkan, sampai 22 persen konsumsi kalori dunia bisa lenyap kalau terjadi isolasi perdagangan besar atau gangguan distribusi internasional. Perubahan iklim memperbesar risiko konflik pangan. Gelombang panas, kekeringan, banjir, dan rusaknya lahan pertanian mulai mengganggu produksi makanan di negara-negara penghasil. Contohnya, pada beberapa tahun terakhir Brazil salah satu lumbung pangan dunia yang memproduksi kedelai, jagung, kopi, dan tebu terganggu akibat cuaca ekstrem. Akibatnya, bukan cuma pasar domestik yang terguncang, tapi harga pangan internasional juga ikut naik. Indonesia sendiri cukup rawan terhadap ancaman distribusi pangan karena negeri ini merupakan negara kepulauan. Distribusi bahan pokok sangat tergantung pada jalur laut dan logistik antarpulau. Gangguan kecil di pelabuhan, cuaca buruk, atau masalah distribusi bahan bakar, bisa langsung memengaruhi pasokan makanan di daerah-daerah. Ketergantungan terhadap gandum dan bahan pangan impor bikin Indonesia sensitif banget terhadap konflik global dan naiknya harga internasional. Sekarang, definisi kekuatan negara mulai bergeser. Dulu, kekuatan militer dianggap satu-satunya ukuran keamanan nasional. Tapi di dunia yang semakin penuh ketidakpastian, kemampuan menjaga ketahanan pangan dan distribusi logistik justru jadi kunci. Negara yang gagal menjaga stabilitas distribusi makanan bisa menghadapi lonjakan harga, kepanikan, dan konflik sosial di rumah sendiri. Jadi, perang masa depan mungkin nggak dimulai dengan dentuman senjata atau tank di jalan. Konflik bisa tumbuh pelan-pelan lewat gangguan distribusi makanan, kelangkaan pupuk, permainan perdagangan komoditas, atau naiknya harga kebutuhan sehari-hari yang bikin masyarakat resah. Kalau pangan sudah jadi alat geopolitik, distribusi makanan bukan cuma soal ekonomi. Ini jadi bagian dari strategi pertahanan negara di era modern. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna
- Generasi AI Ghost Worker: Kelas Pekerja Bayangan di Balik Revolusi Kecerdasan Buatan
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan dan digitalisasi. (Foto: BBC News) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan atau AI terus berkembang—dan makin banyak orang bicara soal masa depan digital yang cerah. Perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba memperkenalkan sistem AI yang lebih pintar, dari chatbot hingga generator gambar, penerjemah otomatis, sampai teknologi analisis data yang rumit. Tapi, kalau kita lihat lebih dalam, sebenarnya ada sekelompok pekerja yang jarang diperhatikan dan tidak pernah disebut dalam sistem ketenagakerjaan modern. Mereka bekerja diam-diam, tersebar di berbagai negara berkembang, membantu melatih, memperbaiki, dan menjaga sistem AI supaya tetap jalan. Orang-orang seperti ini mulai dikenal sebagai “Generasi AI Ghost Worker.” Mereka jadi tulang punggung perkembangan AI dunia, tapi identitas dan profesinya tetap samar—hampir kayak tak kasatmata. Banyak orang masih percaya bahwa AI itu sudah sepenuhnya otomatis. Kenyataannya, hampir semua sistem AI modern sangat bergantung pada tangan manusia. Di balik jawaban chatbot yang cepat, kemampuan AI membaca gambar atau memahami bahasa, ada jutaan tugas kecil yang dikerjakan manusia setiap hari. Mulai dari memberi label pada data, mengoreksi jawaban AI yang keliru, menyaring konten berbahaya, hingga melatih AI untuk memahami emosi dan bahasa. Semuanya dikerjakan lewat platform outsourcing digital global, sistem kerjanya berbasis microtask dan upahnya rendah. Fenomena ini tumbuh cepat di negara-negara berkembang. Negara seperti India, Filipina, Kenya, dan Indonesia punya banyak tenaga kerja digital dan biaya upah yang murah. Di Indonesia, pekerjaan seperti ini makin sering muncul di platform freelance, grup media sosial, atau situs crowdsourcing luar negeri. Banyak anak muda jadi data annotator, AI trainer, sampai moderator konten, sering tanpa sadar kalau pekerjaan mereka sebenarnya masuk dalam rantai pengembangan teknologi milik perusahaan global. Yang bikin miris, sampai sekarang belum ada data resmi yang benar-benar menggambarkan berapa jumlah pekerja AI informal di Indonesia. Pemerintah juga belum punya klasifikasi pekerja khusus untuk jenis pekerjaan seperti ini. Para ghost worker AI ini memang tidak bisa dibilang pekerja formal, tapi juga tak bisa disamakan dengan pekerja informal pada umumnya. Mereka bekerja secara online, ikut masuk ke ekonomi global, tapi sama sekali tidak punya perlindungan hukum, jaminan sosial, apalagi kepastian soal karier. Maka lahirlah kelas pekerja baru yang posisinya di wilayah abu-abu dalam sistem ketenagakerjaan kita. Sementara perusahaan teknologi di negara maju untung besar bahkan sampai miliaran dolar sehingga ketimpangan justru makin terlihat. Pekerjaan AI yang berat dan monoton dialihkan ke tenaga kerja murah di negara berkembang. Para pekerja digital tiap hari harus menyelesaikan ribuan tugas repetitif dengan bayaran seadanya. Ada juga yang setiap hari berhadapan dengan konten kekerasan, pornografi, dan ujaran kebencian tanpa dukungan mental yang sepadan. Status mereka hanya sebagai pekerja kontrak digital atau freelancer anonim, jadi perlindungan atas kondisi kerjanya hampir nol. Akhirnya muncul ketimpangan baru yang mirip “kolonialisme digital.” Dulu, negara berkembang hanya jadi penyedia bahan mentah. Sekarang, giliran “tenaga” mereka, waktu, perhatian, kemampuan berpikir, dan tenaga kognitif yang terus diekstraksi perusahaan teknologi dunia. Perusahaan-perusahaan ini untung besar, sementara pekerja yang kerja keras di belakang layar, tetap tak dikenali dan tak dapat pengakuan yang layak. Sampai sekarang, pemerintah di banyak negara lebih sibuk pada soal regulasi teknologi, keamanan data, atau ancaman otomatisasi. Padahal, masalah pekerja AI informal ini malah bisa berubah jadi masalah sosial dan ekonomi baru di masa depan. Tanpa aturan jelas, jutaan anak muda bisa terjebak dalam sistem kerja digital bergaji rendah tanpa masa depan karier yang pasti. Indonesia pun berisiko hanya jadi pemasok tenaga kerja AI murah, tanpa banyak mendapat manfaat ekonomi yang benar-benar terasa dari booming industri ini. Pada akhirnya, kemunculan Generasi AI Ghost Worker membuktikan kalau revolusi teknologi tidak benar-benar menghapus peran manusia. Justru perkembangan AI melahirkan jenis pekerjaan baru yang makin tidak tampak. Semakin canggih sistem AI yang kita lihat, semakin banyak juga manusia anonim yang bekerja di belakang layar. Mereka tidak punya kantor besar, profesi resmi, apalagi pengakuan sosial. Tapi, tanpa mereka, sistem AI modern mungkin tidak akan pernah bekerja seperti yang kita kenal sekarang. Bagaimana menurut mu? Sampaikan pendapatmu melalui kolom komentar ini ya! Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna
- “Quiet Nationalism”: Ketika Anak Muda Mulai Menjauh dari Globalisasi Tanpa Menjadi Nasionalis
Massa aksi membawa bendera saat demonstrasi berlangsung di pusat kota. (Foto: The Jakarta Post) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama beberapa dekade, globalisasi selalu dikibarkan sebagai tanda kemajuan zaman. Anak muda disuruh berpikiran luas, kerja lintas negara, mengikuti budaya internasional, dan lain-lain. Tapi, setelah pandemi, ekonomi global goyah, konflik geopolitik makin sering, dan tekanan sosial media nggak kunjung reda, mulai terasa ada perubahan. Anak muda sekarang nggak lagi sepenuhnya percaya dengan cerita indah globalisasi. Tapi lucunya, mereka juga nggak jadi nasionalis garis keras kayak generasi dulu. Di sini, lahir satu tren baru: “Quiet Nationalism” semacam nasionalisme diam-diam, namun tidak heboh. Fenomena ini nggak muncul dalam bentuk demo besar atau gerakan politik. Quiet Nationalism lebih kelihatan dalam pola hidup sehari-hari, pilihan karier, dan gaya konsumsi. Banyak anak muda mulai nggak tertarik lagi sama mimpi global yang dulu dianggap keren. Kerja di perusahaan multinasional, pindah ke luar negeri, atau ikut budaya global, sekarang nggak otomatis jadi tanda sukses. Malah, makin banyak yang pingin hidup lebih lokal, sederhana, dan dekat dengan komunitas sendiri. Kalau dilihat di berbagai negara, bentuknya beda-beda. Di Jepang dan Korea Selatan, misalnya, banyak anak muda meninggalkan impian masuk korporasi besar dan memilih pekerjaan fleksibel, yang dekat dengan lingkungannya. Di Eropa dan Amerika, minat pada produk dalam negeri dan gaya hidup mandiri makin naik. Sementara di Indonesia, anak muda semakin suka bisnis lokal, budaya daerah, dan kerja di komunitas digital kecil, daripada ngejar karier di perusahaan internasional. Yang menarik, semua ini bukan lahir dari semangat patriotisme klasik. Anak muda nggak sepenuhnya menolak budaya asing, teknologi global, atau hubungan internasional. Media sosial global tetap dipakai, budaya luar tetap dinikmati, hubungan dengan dunia luar tetap ada. Tapi secara mental, mereka mulai ragu: bener nggak sih globalisasi kasih rasa aman dan masa depan pasti? Ekonomi susah, biaya hidup naik, persaingan kerja makin berat, dan situasi politik internasional nggak jelas sehingga hal tersebut bikin banyak anak muda merasa sistem global udah nggak memihak lagi. Quiet Nationalism juga muncul karena lelah dengan budaya kompetisi global yang terus digenjot. Bertahun-tahun, mereka dipaksa jadi “warga dunia” yang harus produktif, mobile, dan kompetitif tingkat internasional. Tapi kenyataan setelah pandemi, banyak orang malah merasa makin nggak stabil. Harga kebutuhan melambung, peluang kerja formal berkurang, tekanan media sosial bikin standar hidup makin tinggi dan sulit diraih. Akhirnya, beberapa anak muda mulai mencari rasa aman melalui identitas lokal dan komunitas kecil yang lebih nyata. Di Indonesia sendiri, gejala Quiet Nationalism mulai kelihatan. Semakin banyak yang lebih memilih produk lokal, budaya daerah, dan pekerjaan komunitas digital. Skeptis terhadap perusahaan global ataupun narasi sukses internasional. Kerja di luar negeri atau masuk korporasi besar nggak lagi jadi tujuan hidup utama. Justru, makin banyak yang pilih bangun usaha sendiri, kerja mandiri, atau tinggal sederhana di daerah asal. Quiet Nationalism beda banget dengan nasionalisme tradisional yang identik dengan simbol politik, ideologi negara, atau anti-asing. Fenomena ini jauh lebih personal dan kultural. Bisa dilihat dari keputusan sehari-hari kayak pilih produk lokal, bangun komunitas sendiri, dan ngurangin ketergantungan pada sistem global. Karena nggak heboh dan nggak terorganisasi secara politik, memang sering nggak kelihatan, tapi pengaruhnya udah mulai terasa di perilaku sosial anak muda. Kalau tren ini terus berjalan, dunia bakal masuk era baru pasca-globalisasi. Hubungan internasional masih ada, teknologi global tetap dipakai, tapi kepercayaan emosional ke sistem global pelan-pelan luntur. Anak muda nggak menolak dunia internasional, tapi mereka juga nggak lagi menggantungkan hidup pada globalisasi. Quiet Nationalism jadi bukan sekadar tren, tapi refleksi perubahan psikologis generasi muda yang makin butuh rasa aman, identitas, dan kontrol hidup di tengah dunia yang serba nggak pasti. -red Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna
- Ini Kata Gen Z Kalteng yang Merantau ke Jakarta, Worth It Gak, Sih?
Ilustrasi: Hingar-bingar kota Jakarta (dokumentasi pribadi). KALTENGNETWORK, JAKARTA- Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, tingkat migrasi keluar penduduk Kalimantan Tengah tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat hanya sekitar 5% masyarakat Kalimantan Tengah yang melakukan migrasi keluar seumur hidup. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di Pulau Kalimantan, sedikit di atas Kalimantan Barat yang berada di angka 3%. Sebagai perbandingan, Kalimantan Selatan berada di angka 8%, Kalimantan Timur 7%, dan Kalimantan Utara mencapai 10%. Meski demikian, fenomena merantau di kalangan generasi muda Kalteng kini semakin terlihat. Akses pendidikan yang lebih luas, perkembangan dunia kerja, hingga kemudahan mobilitas membuat banyak anak muda mulai melirik kota-kota besar untuk membangun masa depan. Jakarta masih menjadi tujuan paling populer. Meski status ibu kota negara telah berpindah ke IKN, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, jaringan profesional, dan peluang karier di Indonesia. Tim Kalteng Network berkesempatan mewawancarai lima gen-z asal Kalimantan Tengah yang kini menjalani kehidupan di Jakarta. Bagi mereka, apakah keras dan cepatnya ritme megapolitan ini sebanding dengan peluang yang ditawarkan? Nius, 25 tahun, baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutannya setelah 1,5 tahun tinggal di Jakarta. Pemuda asal Puruk Cahu yang kini berprofesi sebagai ASN itu mengaku pengalamannya di Jakarta membuka cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan dan dunia kerja. “Jakarta worth it untuk orang yang memang ingin berkembang dan memaksimalkan potensinya. Tapi memang ritme hidupnya cepat, macet, dan orang-orang cenderung fokus dengan urusan masing-masing,” ujarnya. Meski berharap bisa ditempatkan di daerah asal, Nius mengaku tetap terbuka apabila suatu saat harus bekerja di pusat. Cerita serupa datang dari Asmi, 26 tahun, yang kini bekerja sebagai project manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Berbeda dengan sebagian orang yang merasa kewalahan dengan kehidupan Jakarta, Asmi justru merasa cocok dengan ritme kota yang serba cepat. “Dari dulu memang bercita-cita kerja di Jakarta. Menurutku ini cocok-cocokan, dan aku kebetulan cocok,” katanya. Meski sesekali merasa homesick, Asmi mengaku belum memiliki rencana untuk kembali menetap di Kalimantan Tengah dalam waktu dekat. Sementara itu, Sesa, 25 tahun, telah tujuh tahun merantau di Jakarta sejak masa kuliah. Kini ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan swasta asal Korea Selatan dan mengandalkan kemampuan bahasa Koreanya dalam dunia profesional. “Peluang di Jakarta memang lebih banyak, bukan cuma dari jumlah tapi juga ragam pekerjaannya. Terutama untuk ranah profesional. Tapi kita juga harus punya value lebih karena persaingannya ketat,” ungkapnya. Untuk jangka panjang, Sesa juga belum berencana kembali ke Kalteng selain untuk berlibur atau pulang sementara menemui keluarga. Berbeda dari yang lain, Vanco, 25 tahun, melihat Jakarta bukan sebagai tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju karier yang lebih luas. Lulusan UGM tersebut kini memasuki tahun ketiganya sebagai management trainee di salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia. “Kalau untuk jangka panjang, pengennya justru kerja di luar negeri. Menurutku sekarang peluang remote working juga mulai banyak, jadi sebenarnya pilihan karier tidak harus selalu terikat di satu kota,” ujarnya. Pandangan serupa juga disampaikan Onne, 25 tahun, yang kini bekerja di bidang penilaian kerugian bangunan di industri asuransi. Menurutnya, Jakarta memberikan banyak pengalaman dan kesempatan untuk berkembang di usia muda. “Pilihan kerja di sini memang jauh lebih banyak. Tapi kalau bicara jangka panjang dan berkeluarga, kembali ke Palangka Raya masih jadi pilihan yang kuat buatku,” katanya. Menariknya, meski hampir seluruh narasumber mengakui Jakarta menawarkan peluang karier yang lebih luas, tidak semuanya memandang megapolitan ini sebagai tujuan akhir hidup mereka. Bagi sebagian anak muda Kalteng, Jakarta lebih terasa sebagai ruang untuk belajar, mempercepat karier, membangun jaringan, dan memperluas perspektif sebelum menentukan langkah berikutnya. Tak semua orang cocok dengan ritme Jakarta yang cepat, kompetitif, dan melelahkan. Namun bagi sebagian generasi muda Kalteng, merantau menjadi pengalaman yang membantu mereka bertumbuh baik secara profesional maupun pribadi. Pada akhirnya, pertanyaan “worth it atau tidak” tampaknya bukan soal kota mana yang lebih baik. Semua kembali pada tujuan hidup, prioritas, dan fase yang sedang dijalani masing-masing orang. Bagaimana menurutmu, Pembaca Cerdas? Apakah kamu juga punya mimpi untuk merantau? -red
- Musprov XII INKINDO Kalteng Dorong Transformasi Jasa Konsultansi yang Kompetitif dan Berkelanjutan
Suasana Musyawarah Provinsi (Musprov) XII INKINDO Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Kamis (21/5/2026), yang membahas penguatan sinergi jasa konsultansi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan dan berdaya saing. KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (INKINDO) Kalimantan Tengah menggelar Musyawarah Provinsi (Musprov) XII Tahun 2026 di Hotel Best Western Palangka, Palangka Raya, Kamis (21/5/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Transformasi Jasa Konsultansi untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Berdaya Saing” sebagai bentuk komitmen memperkuat peran jasa konsultansi dalam mendukung pembangunan daerah yang berkualitas. Musprov XII menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus memperkuat sinergi antara INKINDO dan pemerintah daerah dalam menghadapi tantangan pembangunan di era modern. Kegiatan itu dihadiri jajaran pemerintah daerah, pelaku jasa konsultansi, serta anggota INKINDO dari berbagai kabupaten dan kota di Kalimantan Tengah. Dalam sambutan Gubernur Kalimantan Tengah yang dibacakan Plt. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kalteng, Darliansjah, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyampaikan apresiasi terhadap kontribusi INKINDO dalam mendukung pembangunan daerah. Menurutnya, pembangunan yang merata hingga wilayah pedalaman membutuhkan dukungan seluruh pihak, termasuk organisasi profesi di bidang jasa konsultansi. “Melalui Musprov ini, kami berharap INKINDO Kalimantan Tengah semakin solid dan mampu memperkuat sinergi dalam mendukung pembangunan daerah,” ujar Darliansjah. Ia menegaskan, upaya mewujudkan Kalimantan Tengah yang maju, sejahtera, dan bermartabat menuju Indonesia Emas 2045 memerlukan kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat. Darliansjah juga menekankan pentingnya perencanaan pembangunan yang matang, terukur, dan berkelanjutan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan di masa depan. Karena itu, INKINDO dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong profesionalisme, inovasi, dan integritas tenaga konsultan di Kalimantan Tengah. Ia berharap Musprov XII dapat menghasilkan kepemimpinan dan program kerja yang semakin kuat untuk mendukung kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Sementara itu, perwakilan Panitia Pelaksana Musprov XII INKINDO Kalteng, Aprias Surya, menegaskan komitmen organisasi dalam mendukung pembangunan daerah melalui peningkatan kualitas jasa konsultansi dan penguatan tenaga profesional lokal. Menurutnya, kepengurusan baru yang akan terbentuk diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata, termasuk mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam setiap proses pembangunan. Aprias menjelaskan, sejak berdiri pada 1983, INKINDO Kalteng telah terlibat aktif dalam berbagai sektor pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pengawasan proyek strategis di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Ia berharap Musprov XII menjadi pijakan untuk memperkuat kontribusi organisasi secara berkelanjutan. Dalam kegiatan tersebut, INKINDO Kalteng juga menyoroti sejumlah tantangan di sektor jasa konsultansi, seperti perubahan regulasi yang cepat, penyesuaian anggaran pemerintah, hingga kondisi geografis Kalimantan Tengah yang memengaruhi distribusi barang dan jasa. Luas wilayah Kalimantan Tengah dan tingginya biaya logistik dinilai menjadi tantangan tersendiri dalam pelaksanaan proyek pembangunan di lapangan. Meski demikian, INKINDO Kalteng menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan peran tenaga profesional lokal agar pembangunan daerah tetap berjalan efektif, berkualitas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat luas. -red
- BI Kalteng Siapkan Pesona Tambun Bungai 2026 untuk Dorong UMKM dan Edukasi Rupiah
KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kalimantan Tengah kembali akan menggelar agenda tahunan Pesona Tambun Bungai 2026 sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah. Kegiatan tersebut menjadi bentuk kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung pengembangan UMKM dan pertumbuhan ekonomi daerah. Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Tengah, Yuliansah Andrias, mengatakan Pesona Tambun Bungai 2026 akan dilaksanakan pada 29 hingga 31 Mei 2026 di Duta Mall Palangka Raya. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam Podcast Diskominfosantik Kalteng yang disiarkan langsung dari arena Kalteng Expo 2026 di halaman GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Rabu (20/5/2026). Menurut Yuliansah, kegiatan tersebut telah memasuki pelaksanaan tahun kelima sejak pertama kali digelar pada 2022. Pemilihan Duta Mall sebagai lokasi kegiatan bertujuan agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi, edukasi, dan produk-produk unggulan UMKM Kalimantan Tengah. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mendorong pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah secara inklusif dan berkelanjutan melalui sinergi dan kolaborasi,” ujarnya. Ia menjelaskan, Pesona Tambun Bungai 2026 mengusung konsep 3E, yakni Exhibition, Education, dan Empowerment. Melalui Exhibition, BI Kalteng akan memfasilitasi promosi produk-produk unggulan seperti kerajinan, wastra, kuliner, dan kopi binaan Bank Indonesia serta dinas terkait guna memperluas akses pasar UMKM. Sementara melalui Education dan Empowerment, masyarakat dan pelaku usaha akan mendapatkan edukasi mengenai literasi keuangan digital, keamanan transaksi, hingga pengembangan kapasitas produk agar UMKM mampu bersaing dan menembus pasar ekspor. Tidak hanya menyasar pelaku usaha, kegiatan tersebut juga melibatkan berbagai komunitas masyarakat dan generasi muda melalui kompetisi basket serta seni barista kopi. Selain itu, BI Kalteng juga mendorong pengembangan ekosistem ekonomi syariah melalui digitalisasi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) bekerja sama dengan Baznas. Program sertifikasi Juru Sembelih Halal (Juleha) menjelang Hari Raya Idul Adha juga akan dilaksanakan bersama MUI dan UIN Palangka Raya. Di akhir dialog, Yuliansah mengajak masyarakat untuk ikut memeriahkan rangkaian kegiatan Kalteng Expo, Festival Budaya Isen Mulang (FBIM), dan Pesona Tambun Bungai 2026. “Mari bersama-sama memanfaatkan momentum ini untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cinta, bangga, dan paham rupiah, serta menggunakan transaksi digital secara aman dan bijak,” pungkasnya. -red Foto: MMC Kalteng
- Gubernur Kalteng Resmi Buka Pasar Murah untuk Mahasiswa dalam Rangka Hari Jadi ke-69 Provinsi
Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran saat membuka kegiatan Pasar Murah bagi Mahasiswa dalam rangka Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah di Halaman Istana Isen Mulang Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Rabu (20/05/2026). KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Gubernur Kalimantan Tengah H. Agustiar Sabran resmi membuka kegiatan Pasar Murah Spesial Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah yang ditujukan bagi mahasiswa di Halaman Istana Isen Mulang Rumah Jabatan Gubernur Kalteng, Rabu (20/05/2026). Program tersebut menjadi bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam membantu memenuhi kebutuhan pokok mahasiswa, khususnya mahasiswa asal pedalaman, penerima KIP Kuliah, serta mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Dalam sambutannya, Gubernur menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah menjadi momentum penting untuk memperkuat perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa. Ia menegaskan bahwa efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi pelayanan masyarakat, melainkan memastikan penggunaan anggaran dilakukan secara tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi warga. “Setiap anggaran yang digunakan harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Agustiar Sabran. Menurutnya, pelaksanaan pasar murah khusus mahasiswa merupakan salah satu bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap generasi muda agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasar selama menempuh pendidikan. Gubernur juga menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam mendukung pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan pangan mahasiswa agar mereka dapat fokus belajar dan meraih cita-cita. Ia menyebut pembangunan sumber daya manusia tetap menjadi prioritas utama pemerintah daerah melalui berbagai program seperti Beasiswa Satu Rumah Satu Sarjana dan sekolah gratis dalam program Kartu Huma Betang Sejahtera (KHBS). “Karena masa depan Kalimantan Tengah dan Indonesia ada di tangan generasi muda,” katanya. Agustiar juga mengajak mahasiswa untuk terus bersemangat, berani bermimpi besar, dan terus berkarya demi kemajuan daerah. Sementara itu, Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden menjelaskan bahwa pasar murah tersebut bertujuan membantu mahasiswa memperoleh kebutuhan pokok dengan harga terjangkau sekaligus mendukung stabilisasi harga bahan pokok dan pengendalian inflasi daerah. Program itu diperuntukkan bagi mahasiswa asal pedalaman Kalimantan Tengah, penerima KIP Kuliah, dan mahasiswa dari keluarga kurang mampu. Dalam kegiatan tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyalurkan sebanyak 3.500 paket sembako murah yang terdiri dari beras 5 kilogram, gula pasir 1 kilogram, dan minyak goreng 2 liter. Nilai setiap paket mencapai Rp149.500, namun pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp139.500 sehingga mahasiswa hanya perlu membayar Rp10 ribu untuk mendapatkan satu paket sembako. Selain paket sembako murah, Gubernur Kalimantan Tengah juga memberikan bantuan uang tunai sebesar Rp100 ribu kepada mahasiswa penerima manfaat. Kegiatan tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda Provinsi Kalimantan Tengah, staf ahli gubernur, para asisten sekda, kepala perangkat daerah, instansi vertikal, serta pimpinan perguruan tinggi di Kalimantan Tengah. -red Foto: MMC Kalteng
- Pemprov Kalteng Tingkatkan Tata Kelola Sawit Rakyat Lewat Bimtek Pendataan 2026
Suasana saat pelaksanaan Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tim Pendataan Perkebunan Sawit Rakyat Tahun 2026 di Aula Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (20/5/2026). KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui Dinas Perkebunan menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tim Pendataan Perkebunan Sawit Rakyat Tahun 2026 di Aula Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut dibuka Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Tengah Linae Victoria Aden yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik, Darliansjah. Dalam sambutannya, Darliansjah mengatakan bimtek tersebut menjadi langkah strategis dalam memperkuat tata kelola perkebunan kelapa sawit rakyat yang berkelanjutan di Kalimantan Tengah. Menurutnya, peningkatan kualitas pendataan dan pemetaan kebun sawit rakyat sangat penting untuk mendukung penyusunan kebijakan pembangunan perkebunan yang lebih tepat sasaran. “Kegiatan ini memiliki peran penting dalam memperkuat tata kelola perkebunan sawit rakyat melalui pendataan dan pemetaan yang lebih terpadu dan berkelanjutan,” ujarnya. Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil pendataan yang bersumber dari Dana Bagi Hasil (DBH) Sawit Tahun 2025, tercatat sebanyak 889 pekebun sawit rakyat dengan luas lahan mencapai 4.108,713 hektare. Pada tahun 2026, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menargetkan pendataan terhadap 1.500 pekebun sawit rakyat guna menghasilkan data yang lebih akurat, terintegrasi, dan dapat digunakan sebagai dasar penyusunan kebijakan pembangunan perkebunan berkelanjutan. Darliansjah juga mengingatkan seluruh tim pendata agar menjaga integritas, ketelitian, dan kejujuran saat melakukan pendataan di lapangan. Menurutnya, data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan menjadi fondasi penting dalam mendukung pembangunan perkebunan rakyat. “Data yang akurat dan valid sangat penting agar kebijakan pembangunan perkebunan dapat berjalan tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesejahteraan pekebun sawit rakyat,” tegasnya. Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Rizky R. Badjuri melalui Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan, Acmad Sugianor, menyampaikan bahwa penguatan sistem pendataan menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan sektor perkebunan yang modern dan berkelanjutan. Ia menjelaskan, perkebunan sawit rakyat memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah sehingga diperlukan sistem pendataan yang terverifikasi dan terintegrasi. “Melalui bimtek ini, petugas pendataan diharapkan memiliki kemampuan teknis yang lebih baik dalam proses pendataan, verifikasi, dan validasi data perkebunan sawit rakyat,” katanya. Acmad menambahkan, peserta bimtek juga dibekali pemahaman mengenai penggunaan perangkat pemetaan digital, pengumpulan data berbasis geospasial, serta standar verifikasi data di lapangan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan perkebunan tidak hanya bergantung pada dukungan anggaran, tetapi juga memerlukan komitmen, profesionalisme, dan kerja sama seluruh pihak terkait. Kegiatan bimtek tersebut dilaksanakan selama tiga hari, mulai 20 hingga 22 Mei 2026, dan diikuti 25 peserta dari kabupaten dan kota se-Kalimantan Tengah serta Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah. -red Foto: MMC Kalteng
- DPRD Murung Raya Ingatkan Warga Waspadai Potensi Bencana Akibat Curah Hujan Tinggi
Anggota DPRD Murung Raya, Imanudin, saat melakukan kunjungan ke salah satu desa di wilayah Kabupaten Murung Raya. KALTENG NETWORK, PURUK CAHU - Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, Imanudin mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana alam akibat intensitas hujan yang terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Menurut Imanudin, curah hujan yang tinggi berpotensi memicu banjir dan tanah longsor, terutama di wilayah yang rawan terdampak bencana. “Hujan yang turun hampir setiap hari dapat memicu bencana seperti banjir dan longsor, khususnya di daerah-daerah rawan,” ujar Imanudin di Puruk Cahu, Rabu. Ia menjelaskan, saat ini sejumlah desa mulai terdampak banjir, terutama wilayah dengan kontur tanah rendah seperti Desa Muara Sumpoi dan Desa Juking Pajang di Kecamatan Murung. Politisi PKS yang berasal dari daerah pemilihan I meliputi Kecamatan Murung dan Tanah Siang Selatan itu meminta masyarakat lebih berhati-hati saat beraktivitas, khususnya warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Barito dan kawasan perbukitan. “Kami mengingatkan masyarakat agar selalu waspada dan memperhatikan kondisi lingkungan sekitar mengingat hujan terus turun setiap hari,” katanya. Selain itu, Imanudin meminta pemerintah daerah melalui instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, termasuk memastikan tim tanggap darurat siap bergerak sewaktu-waktu. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat bekerja sama menjaga keselamatan lingkungan dan segera melaporkan jika terdapat potensi bencana di wilayah masing-masing. Sementara itu, berdasarkan laporan harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Murung Raya per 20 Mei 2026 pukul 06.00 WIB, tinggi permukaan air Sungai Barito mengalami kenaikan hingga mencapai level 7 meter dengan status siaga. -red Foto: Antara News Kalteng
- DPRD Apresiasi Prestasi Jagau Nyai Murung Raya di Ajang Jagau Nyai Kalteng 2026
Wakil Ketua I DPRD Murung Raya, Dina Maulidah berfoto bersama Jagau dan Nyai asal Kabupaten Murung Raya usai malam puncak grand final pemilihan Jagau Nyai Kalimantan Tengah 2026 di GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Selasa malam (19/5/2026). KALTENG NETWORK, PURUK CAHU - Wakil Ketua DPRD Murung Raya, Dina Maulidah memberikan apresiasi atas prestasi yang diraih perwakilan Kabupaten Murung Raya pada ajang pemilihan Jagau Nyai Kalimantan Tengah 2026 yang digelar di GOR Indoor Serbaguna Palangka Raya, Selasa (19/5) malam Dina menilai penampilan Jagau dan Nyai asal Murung Raya sudah maksimal dalam menunjukkan bakat dan kemampuan mereka selama mengikuti ajang tersebut. “Terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan seluruh pihak yang telah mendukung Jagau Nyai Kalteng sehingga Murung Raya berhasil meraih prestasi sebagai Jagau Nyai Favorit,” ujar Dina saat dihubungi dari Puruk Cahu, Rabu (20/5). Dalam ajang tersebut, perwakilan Murung Raya berhasil meraih sejumlah penghargaan. Jagau Murung Raya, Alviano, meraih gelar Jagau Favorit sekaligus Jagau Berbakat. Sementara Nyai Murung Raya, Cladira Sasmita, memperoleh penghargaan sebagai Nyai Intelegensia. Dina menyampaikan ucapan selamat kepada keduanya yang dinilai telah membawa nama baik Kabupaten Murung Raya di tingkat provinsi. “Selamat kepada Jagau dan Nyai Murung Raya yang telah mengharumkan nama daerah. Tetap bangga dengan hasil yang diraih dan terus semangat untuk meraih prestasi berikutnya,” katanya. Politisi PKB tersebut berharap capaian itu dapat menjadi motivasi bagi generasi muda Murung Raya lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri dan berprestasi di berbagai bidang. Menurutnya, pemuda dan pemudi Murung Raya memiliki kemampuan yang tidak kalah dibanding daerah lain apabila terus dibina dan diberikan ruang untuk berkembang. “Kita memiliki banyak potensi yang bisa terus diasah agar mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan, baik untuk diri sendiri maupun daerah,” tambahnya. Ia juga berharap semakin banyak generasi muda Murung Raya yang mampu menorehkan prestasi hingga tingkat nasional bahkan internasional. Selain itu, pemerintah daerah diharapkan terus memberikan dukungan dan apresiasi kepada anak muda yang berhasil membawa nama baik daerah. -red Foto: Antara News Kalteng
- Pedagang Nasi Kuning Keluhkan Harga Ikan Gabus Naik dan Pasokan Mulai Langka
Ilustrasi: Nasi kuning dengan lauk ikan gabus KALTENG NETWORK, SAMPIT - Kenaikan harga ikan gabus atau ikan haruan mulai dikeluhkan para pedagang nasi kuning di Sampit. Ikan yang menjadi salah satu lauk khas kuliner Kalimantan itu kini semakin sulit didapat dengan harga yang terus melonjak. Selama ini ikan gabus menjadi pilihan utama pelengkap nasi kuning karena memiliki cita rasa gurih dan banyak diminati masyarakat. Namun dalam beberapa pekan terakhir, harga ikan tersebut mengalami kenaikan cukup signifikan di sejumlah pasar tradisional. Salah seorang pedagang nasi kuning di kawasan Taman Kota Sampit, Narullah, mengatakan kondisi tersebut mulai memengaruhi biaya operasional usahanya. Menurutnya, harga ikan gabus yang biasanya relatif stabil kini meningkat tajam sehingga menyulitkan pedagang dalam menghitung modal usaha. “Kalau harga ikan terus naik, mau tidak mau harga jual atau porsi harus disesuaikan. Tapi kami juga khawatir pelanggan jadi berkurang,” ujarnya, Kamis (21/5). Ia menjelaskan, selain harga yang tinggi, pasokan ikan gabus di pasar juga mulai berkurang. Jika tersedia, harga ikan gabus bahkan bisa mencapai Rp90 ribu hingga Rp100 ribu per kilogram. Para pedagang menduga kondisi cuaca serta menurunnya hasil tangkapan nelayan menjadi salah satu penyebab terbatasnya pasokan ikan gabus di pasaran. Meski menghadapi kenaikan harga dan kelangkaan pasokan, pedagang nasi kuning tetap berusaha mempertahankan kualitas rasa agar pelanggan tetap bertahan. Sebagian pedagang memilih mengurangi porsi lauk, sementara lainnya mencoba menggunakan alternatif lauk lain untuk sementara waktu. Warga yang biasa membeli nasi kuning berharap harga ikan gabus dapat kembali normal. Mereka menilai nasi kuning dengan lauk ikan gabus sudah menjadi menu sarapan khas yang sulit digantikan. Para pedagang juga berharap pemerintah maupun pihak terkait dapat membantu menstabilkan harga dan menjaga ketersediaan pasokan ikan gabus agar usaha kecil tetap dapat berjalan tanpa memberatkan masyarakat. “Kami berharap ada perhatian dari pemerintah terhadap kesulitan pedagang kecil seperti kami,” pungkas Narullah. -red
- Mau Beli Emas? Ikuti Tips Ini Dulu Biar Gak Boncos
Ilustrasi: Emas batang, emas digital, dan emas perhiasan (AI generated). KALTENGNETWORK - Di tengah ketidakstablian ekonomi, emas masih jadi komoditi penjaga inflasi yang paling diminati. Harganya yang naik stabil dari tahun ke tahun membuat banyak orang beralih menabung uangnya ke instrumen ini. Sekarang meski harganya sudah sangat naik dibanding beberapa tahun ke belakang, ia kembali booming terutama di kalangan investor muda. Jangan beli emas hanya karena FOMO, perhatikan tips berikut biar nggak boncos, ya, Pembaca Cerdas! Tujuan Beli Emas Kalau mau kaya dalam semalam, jangan beli emas, ya! Emas adalah instrumen investasi jangka panjang yang umumnya bukan bertujuan profit, tapi lebih agar menjaga harta benda aman dari inflasi. Pastikan tujuan nabung emas jelas, ya. Emas Fisik vs Emas Digital, Mana Lebih Cocok? Emas Fisik Emas fisik biasanya berbentuk batangan atau perhiasan yang bisa disimpan sendiri. Kelebihannya, Pembaca Cerdas bisa memilikinya langsung secara fisik dan tidak bergantung pada aplikasi atau sistem digital. Kekurangannya, perlu tempat penyimpanan sendiri yang aman, selain itu modal awalnya juga lebih besar daripada beli digital. Umumnya sulit kalau mau beli ketengan, nih, Pembaca Cerdas. Emas Digital Beda dengan fisik, emas digital memungkinkan pengguna membeli emas mulai dari nominal kecil lewat aplikasi. Emas digital lebih mudah diakses, praktis, dan lebih cocok buat nabung rutin. Namun emas digital biasanya memerlukan biaya tambahan kalau Pembaca Cerdas suatu saat ingin "mencetak"-nya menjadi emas fisik. Selain itu, legalitas platform, mekanisme penyimpanan emas, biaya layanan, dan spread yang umumnya lebih tinggi dari emas fisik harus tetap jadi pertimbangan ya, Pembaca Cerdas. Apa itu spread? Spread adalah selisih antara harga beli dan harga jual kembali (buyback). Misalnya, Pembaca Cerdas membeli emas seharga Rp2 juta, tapi kalau langsung dijual lagi di hari yang sama, bisa jadi hanya dihargai Rp1,8 juta. Artinya, belum tentu untung meskipun harga emas terlihat naik. Spread ini penting untuk dipahami, baik untuk emas fisik maupun digital. Beberapa platform emas digital bahkan punya spread yang cukup besar, jadi jangan lupa diperhatikan ya, Pembaca Cerdas. Jangan Asal Beli Saat Harga Lagi Viral Say no to FOMO, say no to panic buying! Harga sedang tinggi saat hal ini terjadi dan bisa berisiko rugi. Baiknya beli emas memang "nyicil" dan bertahap agar lebih aman. Tetap mawas dalam membaca pergerakan pasar dan ekonomi agar mendapatkan emas di nilai terbaik. Pilih Tempat Pembelian yang Resmi dan Terpercaya Pastikan membeli emas di toko atau platform resmi yang menyediakan sertifikat atau jaminan kepemilikan. Untuk emas digital, cek juga apakah platform tersebut diawasi lembaga resmi dan benar-benar memiliki cadangan emas sesuai jumlah transaksi pengguna. Simpan Bukti dan Sertifikat Banyak orang menganggap sepele nota pembelian atau sertifikat emas, padahal dokumen tersebut sangat berpengaruh pada harga jual kembali. Emas dengan dokumen lengkap biasanya lebih mudah dijual dan dihargai lebih baik. Jangan Pakai Uang Darurat Meski dianggap relatif aman, emas tetap termasuk instrumen investasi. Artinya, jangan membeli emas menggunakan uang kebutuhan sehari-hari atau dana darurat. Idealnya, gunakan dana dingin agar kondisi finansial tetap aman meski harga emas naik turun. Investasi Aman Dimulai dari Pengetahuan Emas memang bisa menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. Tapi seperti investasi lainnya, keuntungan tidak datang cuma karena ikut tren. Jadi, sebelum checkout emas cuma karena takut ketinggalan hype, pastikan dulu tujuan dan perhitungan finansialmu sudah jelas. -red













