top of page

Kalimantan Tengah Dorong Pembangunan Modern Berbasis Hutan dan Desa


Orangutan berada di kawasan hutan tropis Kalimantan Tengah yang menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. (Foto: Dok. Kalteng Network)
Orangutan berada di kawasan hutan tropis Kalimantan Tengah yang menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan dan pelestarian lingkungan. (Foto: Dok. Kalteng Network)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama bertahun-tahun, pembangunan di Indonesia selalu berkiblat ke Jawa: kota-kota ramai tumbuh, industri bertambah, dan ekonomi terpusat pada urbanisasi besar. Desa, area hijau, perlahan tergeser oleh jalan tol dan gedung. Tapi, di antara model lama ini, Kalimantan Tengah datang dengan peluang berbeda. Mereka punya kesempatan jadi provinsi hijau pertama di Indonesia tumbuh secara ekonomi tanpa harus meniru pola urbanisasi ala Jawa.


Ini bukan sekadar wacana. Kenyataannya, Kalimantan Tengah punya karakter geografis dan demografis yang unik. Dengan luas sekitar 153 ribu kilometer persegi dan penduduk yang tidak banyak, kepadatannya cuma sekitar 18 orang per kilometer persegi. Bandingkan dengan Jawa yang bisa mencapai lebih dari 1.200 orang! Masih banyak ruang di Kalimantan Tengah untuk membangun dengan cara yang lebih terencana dan ramah lingkungan.


Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah mulai serius dengan gagasan Green Kalteng atau Kalteng Hijau. Konsep ini masuk resmi ke visi pembangunan lewat RPJMD Kalimantan Tengah 2021–2026. Fokusnya jelas: pembangunan berkelanjutan, tata ruang yang ramah lingkungan, pertumbuhan ekonomi hijau. Visi “Kalimantan Tengah Makin BERKAH” juga menegaskan pembangunan berbasis Green Kalteng.


Musrenbang RPJMD Kalimantan Tengah 2025–2029 memperkuat arah itu. Gubernur H. Agustiar Sabran berkali-kali bilang pembangunan di sini harus pakai filosofi Huma Betang harmoni, kebersamaan, dan keberlanjutan lingkungan. Prinsip SDGs juga mulai diadopsi dalam perencanaan.


Langkah ini rasanya penting, karena banyak daerah di Indonesia sudah membayar mahal akibat pembangunan yang cuma mengejar fisik. Lihat saja kota-kota besar di Jawa: polusi, kemacetan, ruang hijau menyempit, kualitas hidup pun turun. Kalimantan Tengah punya kesempatan untuk menghindari masalah yang sama, selagi urbanisasi di sana belum melaju terlalu cepat.


Sekarang, pemerintah setempat mulai menyeimbangkan antara investasi dan keberlanjutan lingkungan. Tema pembangunan di tahun 2024 jelas: “Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi yang Berkelanjutan (Growth Green)” lewat investasi dengan infrastruktur menuju Kalteng Elok dan Ramah. ([PPID Kalteng]) Jadi, investasi boleh jalan, tapi keberlanjutan tetap jadi perhatian utama.


Modal ekologis Kalimantan Tengah juga besar. Hutan tropis masih luas, gambut strategis ada di mana-mana sehingga posisinya penting buat menjaga iklim global. Pemerintah provinsi juga sudah merancang aksi adaptasi perubahan iklim untuk menghadapi risiko di bidang pertanian, kesehatan, dan sumber daya air.


Yang seru, pembangunan hijau di Kalimantan Tengah bisa jalan bareng perkembangan ekonomi digital dan desa modern. Urbanisasi di Jawa berlangsung cepat, sementara desa di Kalimantan Tengah masih kuat dan punya ruang hidup yang luas. Ini membuka peluang buat model baru: ekonomi tumbuh tanpa semua aktivitas dipusatkan di kota besar.


Sekarang mulai kelihatan, desa mandiri tumbuh, pemerintahan desa makin digital, ekonomi kreatif berbasis budaya lokal ikut berkembang. Internet dan teknologi membantu masyarakat tetap terhubung tanpa harus pindah ke kota besar. Modernisasi bukan berarti harus urbanisasi, yang penting masyarakat ikut maju tanpa harus kehilangan akar.


Di skala nasional, posisi Kalimantan Tengah makin strategis setelah ada Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan. Memang, IKN ada di Kalimantan Timur, tapi dampaknya pelan-pelan terasa di seluruh Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah. Ini jadi peluang buat provinsi menentukan identitas pembangunannya sendiri, sebelum urbanisasi jadi tekanan besar.


Tentu tantangan tetap ada. Kalimantan Tengah masih tergantung pada sektor ekstraktif: perkebunan, pertambangan. Kalau ekspansinya dibiarkan tanpa pengawasan, bukan nggak mungkin pola kerusakan lingkungan di Jawa terulang di sini. Maka, pembangunan hijau butuh konsistensi kebijakan, pengawasan tata ruang yang ketat, dan keberanian pemerintah menjaga keseimbangan investasi dan lingkungan.


Pada akhirnya, Kalimantan Tengah ada di persimpangan. Mau ikut pola urbanisasi besar-besaran seperti Jawa, atau membangun model baru yang lebih hijau, seimbang, dan manusiawi. Kalau provinsi ini bisa konsisten, bukan mustahil Kalimantan Tengah jadi bukti pertama di Indonesia bahwa ekonomi bisa maju tanpa mengorbankan ruang hidup dan lingkungan. Penulis : Emuna Asie

Editor : Ivonne Hana

Comments


bottom of page