7 hours ago3 min read


Updated: May 22

KALTENGNETWORK, JAKARTA- Jika dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia, tingkat migrasi keluar penduduk Kalimantan Tengah tergolong rendah. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat hanya sekitar 5% masyarakat Kalimantan Tengah yang melakukan migrasi keluar seumur hidup. Angka ini menjadi salah satu yang terendah di Pulau Kalimantan, sedikit di atas Kalimantan Barat yang berada di angka 3%. Sebagai perbandingan, Kalimantan Selatan berada di angka 8%, Kalimantan Timur 7%, dan Kalimantan Utara mencapai 10%.
Meski demikian, fenomena merantau di kalangan generasi muda Kalteng kini semakin terlihat. Akses pendidikan yang lebih luas, perkembangan dunia kerja, hingga kemudahan mobilitas membuat banyak anak muda mulai melirik kota-kota besar untuk membangun masa depan. Jakarta masih menjadi tujuan paling populer.
Meski status ibu kota negara telah berpindah ke IKN, Jakarta tetap menjadi pusat bisnis, jaringan profesional, dan peluang karier di Indonesia.
Tim Kalteng Network berkesempatan mewawancarai lima gen-z asal Kalimantan Tengah yang kini menjalani kehidupan di Jakarta. Bagi mereka, apakah keras dan cepatnya ritme megapolitan ini sebanding dengan peluang yang ditawarkan?
Nius, 25 tahun, baru saja menyelesaikan pendidikan lanjutannya setelah 1,5 tahun tinggal di Jakarta. Pemuda asal Puruk Cahu yang kini berprofesi sebagai ASN itu mengaku pengalamannya di Jakarta membuka cara pandang yang lebih luas tentang kehidupan dan dunia kerja.
“Jakarta worth it untuk orang yang memang ingin berkembang dan memaksimalkan potensinya. Tapi memang ritme hidupnya cepat, macet, dan orang-orang cenderung fokus dengan urusan masing-masing,” ujarnya.
Meski berharap bisa ditempatkan di daerah asal, Nius mengaku tetap terbuka apabila suatu saat harus bekerja di pusat.
Cerita serupa datang dari Asmi, 26 tahun, yang kini bekerja sebagai project manager di sebuah perusahaan swasta di Jakarta Selatan. Berbeda dengan sebagian orang yang merasa kewalahan dengan kehidupan Jakarta, Asmi justru merasa cocok dengan ritme kota yang serba cepat.
“Dari dulu memang bercita-cita kerja di Jakarta. Menurutku ini cocok-cocokan, dan aku kebetulan cocok,” katanya.
Meski sesekali merasa homesick, Asmi mengaku belum memiliki rencana untuk kembali menetap di Kalimantan Tengah dalam waktu dekat.
Sementara itu, Sesa, 25 tahun, telah tujuh tahun merantau di Jakarta sejak masa kuliah. Kini ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan swasta asal Korea Selatan dan mengandalkan kemampuan bahasa Koreanya dalam dunia profesional.
“Peluang di Jakarta memang lebih banyak, bukan cuma dari jumlah tapi juga ragam pekerjaannya. Terutama untuk ranah profesional. Tapi kita juga harus punya value lebih karena persaingannya ketat,” ungkapnya.
Untuk jangka panjang, Sesa juga belum berencana kembali ke Kalteng selain untuk berlibur atau pulang sementara menemui keluarga.
Berbeda dari yang lain, Vanco, 25 tahun, melihat Jakarta bukan sebagai tujuan akhir, melainkan batu loncatan menuju karier yang lebih luas. Lulusan UGM tersebut kini memasuki tahun ketiganya sebagai management trainee di salah satu bank swasta terkemuka di Indonesia.
“Kalau untuk jangka panjang, pengennya justru kerja di luar negeri. Menurutku sekarang peluang remote working juga mulai banyak, jadi sebenarnya pilihan karier tidak harus selalu terikat di satu kota,” ujarnya.
Pandangan serupa juga disampaikan Onne, 25 tahun, yang kini bekerja di bidang penilaian kerugian bangunan di industri asuransi. Menurutnya, Jakarta memberikan banyak pengalaman dan kesempatan untuk berkembang di usia muda.
“Pilihan kerja di sini memang jauh lebih banyak. Tapi kalau bicara jangka panjang dan berkeluarga, kembali ke Palangka Raya masih jadi pilihan yang kuat buatku,” katanya.
Menariknya, meski hampir seluruh narasumber mengakui Jakarta menawarkan peluang karier yang lebih luas, tidak semuanya memandang megapolitan ini sebagai tujuan akhir hidup mereka. Bagi sebagian anak muda Kalteng, Jakarta lebih terasa sebagai ruang untuk belajar, mempercepat karier, membangun jaringan, dan memperluas perspektif sebelum menentukan langkah berikutnya.
Tak semua orang cocok dengan ritme Jakarta yang cepat, kompetitif, dan melelahkan. Namun bagi sebagian generasi muda Kalteng, merantau menjadi pengalaman yang membantu mereka bertumbuh baik secara profesional maupun pribadi.
Pada akhirnya, pertanyaan “worth it atau tidak” tampaknya bukan soal kota mana yang lebih baik. Semua kembali pada tujuan hidup, prioritas, dan fase yang sedang dijalani masing-masing orang.
Bagaimana menurutmu, Pembaca Cerdas? Apakah kamu juga punya mimpi untuk merantau? -red
Penulis: Fransisca Fethy Angelina
Editor: Emuna Asie




Comments