top of page

Generasi Dayak Digital: Ketika Anak Muda Kalteng Mengubah Identitas Lokal Menjadi Ekonomi Kreatif

Generasi muda Kalimantan Tengah dalam kegiatan media digital dan ekonomi kreatif daerah.                               (Foto: Dok. Kalteng Network)
Generasi muda Kalimantan Tengah dalam kegiatan media digital dan ekonomi kreatif daerah. (Foto: Dok. Kalteng Network)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Generasi muda Dayak di Kalimantan Tengah sekarang tidak hanya menjaga budaya lama, mereka mulai memadukan identitas lokal dengan teknologi dan ekonomi kreatif. Bukan lagi sekadar rumah betang, tarian daerah, atau upacara adat budaya Dayak mereka kini hadir di dunia digital lewat desain grafis, fashion kekinian, konten media sosial, musik elektronik, video dokumenter, sampai promosi wisata online. Cara pandang terhadap budaya lokal pun berubah anak-anak muda kota sekarang melihat warisan Dayak bukan lagi sebagai hal kuno, melainkan sesuatu yang punya nilai ekonomi dan bisa dikembangkan menjadi tren kreatif.

Ekonomi digital di Kalimantan Tengah memang tumbuh pesat dalam dua tahun terakhir. Pemerintah provinsi bersama Bank Indonesia terus mendorong ekosistem ini melalui event seperti Borneo Digital Economy Creative Festival (Decafest) 2025 dan Pesona Tambun Bungai. Di festival ini, UMKM, komunitas kreatif, dan pelaku ekonomi digital saling berkolaborasi. Jadi, acaranya tidak cuma menjadi hiburan semata, tetapi juga membuka peluang nyata untuk tumbuh bersama sebagai pelaku ekonomi kreatif.

Bicara soal data, Bank Indonesia mencatat transaksi QRIS di Kalimantan Tengah menembus 16,5 juta hingga Agustus 2025, dengan nilai mencapai Rp2,2 triliun. Angka ini melonjak lebih dari 100% dibanding tahun lalu. Menariknya, sebagian besar merchant adalah pelaku UMKM yang mayoritas digerakkan oleh anak muda. Artinya, transformasi digital sudah menjadi bagian dari urusan isi dompet masyarakat, bukan cuma agenda di atas kertas milik pemerintah atau institusi besar.

Lewat modal konektivitas ini, anak muda Dayak sekarang bisa memasarkan kain motif modern, aksesori etnik, ilustrasi digital, hingga konten wisata lokal lewat marketplace dan media sosial. Mereka tidak harus bergantung pada pasar tradisional; internet membuka jalur langsung ke pasar nasional bahkan global. Sekarang, budaya lokal resmi jadi aset ekonomi yang punya daya jual tinggi—bukan lagi sekadar simbol tradisi yang pasif.

Dampaknya pun terasa pada kepercayaan diri mereka. Anak muda tidak lagi merasa budaya Dayak itu tertinggal. Identitas lokal justru menjadi sumber kreativitas, tempat mereka aktif membangun tren dan bukannya sekadar jadi penonton modernisasi.

Pemerintah daerah pun ikut menangkap momentum ini. Gubernur Kalteng, H. Agustiar Sabran, menekankan agar digitalisasi di Kalteng tetap berjalan selaras dengan pelestarian nilai lokal. Festival seperti Decafest sengaja dirancang menjadi ruang inovasi digital yang tetap mengakar kuat pada identitas budaya Bumi Tambun Bungai.

Perubahan masif ini tentu tidak lepas dari makin luasnya akses internet di pelosok daerah. Lewat TikTok, Instagram, YouTube, dan karya desain digital, mereka bisa mempromosikan keunikan Dayak langsung ke audiens global. Pola pelestarian budaya pun bergeser menjadi lebih partisipatif; tidak lagi sekadar seremonial tahunan, melainkan berbasis kreativitas digital sehari-hari.

Ke depannya, Kalimantan Tengah punya peluang besar membangun ekonomi kreatif yang unik dan berbeda dari daerah lain, tanpa harus terus-menerus bergantung pada sektor tambang dan perkebunan. Identitas Dayak telah naik kelas; dari warisan leluhur menjadi soft power dan aset ekonomi yang bisa diandalkan. Modernisasi ternyata tidak harus menyingkirkan tradisi. Jika transformasi ini terus berkembang, maka generasi baru Dayak Digital kemungkinan akan menjadi wajah baru Kalimantan Tengah di era ekonomi kreatif Indonesia.

Comments


bottom of page