Search Results
2900 results found with an empty search
- Tak Harus Merantau, Karier Besar Kini Bisa Dimulai dari Kota Kecil
PALANGKA RAYA, KALTENG NETWORK – Sudah lama anak-anak muda di Kalimantan Tengah merasa kalau karier yang sukses itu harus diraih di kota besar. Jakarta, Surabaya, Bandung, atau bahkan luar negeri dan semua dianggap pusat impian. Rasanya, kalau tidak ke sana, masa depan kurang cerah. Tapi sekarang, teknologi digital mulai mengubah cara pandang itu. Fenomena kerja fleksibel atau work from anywhere sekarang semakin terasa di kalangan anak muda. Cuma modal laptop dan internet, kamu bisa kerja untuk perusahaan di Jakarta, urus bisnis online yang pelanggannya se-Indonesia, bahkan ikut proyek dari luar negeri—nggak perlu angkat kaki dari Palangka Raya, Sampit, atau Pangkalan Bun. Pertanyaannya, kota-kota di Kalimantan Tengah ini, apa bisa jadi tempat lahirnya karier keren di zaman digital? Perubahan ini memang nggak terjadi begitu aja. Dunia kerja berubah secara global. Microsoft lewat laporan Work Trend Index 2025 mengatakan, teknologi digital dan kecerdasan buatan sudah benar-benar ngacak-ngacak cara organisasi bekerja. Di Indonesia, 97 persen pemimpin bisnis mengaku tahun 2025 adalah titik balik buat strategi kerja dan operasional, soalnya transformasi digital makin ngebut jalannya. Di Indonesia sendiri, kerja digital tumbuh cepat banget. Industri ekonomi kreatif, yang intinya main di teknologi dan internet, diprediksi menyerap sekitar 27,4 juta pekerja di 2025, alias 18,7 persen dari total tenaga kerja nasional. Itu artinya, makin banyak profesi yang nggak lagi terikat tempat atau gedung kantor. Anak muda Kalteng sekarang udah mulai ngerasain langsung. Profesi seperti desainer grafis, editor video, programmer, digital marketer, content creator, penerjemah, admin medsos, sampai konsultan bisnis online, bisa dikerjakan dari mana aja asal internet lancar. “Dulu saya kira harus ke Jakarta buat kerja di bidang digital. Sekarang banyak proyek bisa dikerjain dari Palangka Raya,” cerita Andika, freelancer desain grafis yang melayani klien-klien di kota besar Indonesia. Riset soal Generasi Z dan kerja jarak jauh juga bilang, fleksibilitas jadi nilai tambah utama buat anak muda. Ada riset yang survei 385 pekerja Gen Z di Indonesia, dan hasilnya, sistem kerja jarak jauh bikin hidup lebih seimbang dan kepuasan kerja naik. Buat anak muda di Kalteng, ini jelas jadi keuntungan. Mereka tetap bisa dekat sama keluarga, nggak harus beradaptasi sama lingkungan baru di kota mahal, dan biaya hidup tetap ramah di dompet. Pengeluaran nggak segila di ibu kota, tapi rezeki tetap bisa didapet dari mana aja. Tapi, peluang besar ini datang sama tantangan juga. Internet yang stabil jadi syarat wajib. Di beberapa kota besar di Kalteng, sudah cukup oke. Tapi begitu masuk daerah yang lebih pelosok, koneksi kadang masih jadi hambatan dan bikin kerja jarak jauh tidak mulus. Soal persaingan juga, sekarang makin terbuka. Dulu cuma saingan sama orang di kota sendiri, sekarang lawannya talenta dari seluruh Indonesia, bahkan dunia. Makanya, skill digital, komunikasi, dan melek teknologi jadi kunci utama. Di sisi lain, tren global juga bergeser. Banyak perusahaan nggak sepenuhnya kerja dari rumah ataupun kantor, tapi pilih hybrid: kadang di rumah, kadang ngantor. Riset perusahaan teknologi internasional juga nunjukkin, kebanyakan tetap kasih fleksibilitas meski minta pegawai datang ke kantor beberapa hari dalam seminggu. Jadi, masa depan dunia kerja tidak hanya dari rumah atau full dari kantor. Kombinasi dua-duanya kayaknya bakal jadi norma baru. Tapi, peluang buat bangun karier dari kota kecil jelas jauh lebih terbuka dari sepuluh tahun lalu. Perubahan gaya kerja ini juga bagus buat Kalimantan Tengah sendiri. Kalau makin banyak anak muda bisa kerja digital dari daerah, arus pindah ke kota besar bisa berkurang. Penghasilan dari luar bisa masuk lagi ke ekonomi lokal, dipakai belanja harian, investasi, atau buka bisnis baru di rumah sendiri. Bahkan, penelitian dari luar negeri bilang, tren kerja jarak jauh bisa memacu pertumbuhan ekonomi daerah, soalnya bisnis nggak cuma kejebak di kota besar aja. Akhirnya, soal apakah kota kecil bisa jadi tempat karier besar, jawaban itu mulai kelihatan. Di era internet dan ekonomi digital, lokasi udah bukan satu-satunya faktor penentu kesuksesan. Sekarang, kemampuan, kreativitas, jaringan, dan kemauan buat terus belajar jauh lebih penting. Buat anak muda Kalimantan Tengah, peluang itu nyata. Karier besar memang masih banyak lahir di Jakarta, Singapura, atau Tokyo. Tapi jangan salah, bisa jadi orang yang menjalankannya justru sedang ngetik dari rumah, coffee shop, atau ruang kerja sederhana di Palangka Raya, Sampit, atau kota kecil lain di Bumi Tambun Bungai. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana
- Fenomena Anak Muda Kalteng yang Kembali Bertani, Tren Sementara atau Peluang Besar?
Ilustrasi aktivitas anak muda di lahan pertanian. (Foto: Ilustrasi) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Profesi petani sering dipandang kurang menarik, terutama buat anak muda. Tidak heran banyak yang memilih ke kota besar, mencari kerja kantoran, atau melanjutkan pendidikan, daripada meneruskan usaha di sawah orang tua. Tapi, belakangan, peta mulai bergeser, termasuk di Kalimantan Tengah. Ada gelombang baru yaitu anak-anak muda yang kembali atau bahkan pertama kali terjun ke dunia pertanian. Mereka nggak cuma menanam padi atau sayur dengan cara lama, tapi juga ngulik hidroponik, kebun digital, bahkan bisnis pertanian yang pakai aplikasi sampai pemasaran online. Anak-anak muda ini memang berbeda gaya dari generasi sebelumnya. Bertani sekarang, buat mereka, bukan sekadar kerja fisik dan peluh yang mengucur di sawah. Mereka menggabungkan teknologi, main konten di media sosial, bahkan bisnis online. Ada yang jual hasil panen langsung ke konsumen lewat Instagram dan marketplace, ada juga yang bikin video edukasi bertani atau malah menciptakan produk-produk turunan dari hasil kebunnya. Dulu pertanian terasa konvensional, sekarang sudah mulai naik derajat jadi peluang bisnis yang follow tren anak muda. Coba lihat angka dari Badan Pusat Statistik (BPS): menurut Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial di Indonesia (umur 19–39 tahun) udah tembus 6,18 juta orang, atau hampir 22 persen dari total petani nasional. Sebenarnya belum jadi mayoritas, tapi kehadiran mereka penting banget buat peremajaan dunia pertanian Indonesia. Buat Kalteng sendiri, kehadiran petani muda ini diperhitungkan. Daerah seluas itu, banyak lahan tidur—potensi pertanian dan perkebunan terbuka lebar. Komoditas sawit dan karet memang sudah lama jadi andalan ekonomi. Tapi peluang buat bisnis sayuran, buah tropis, sampai pertanian urban yang kekinian itu juga besar banget. Dr. Rinto Alexandro, pengamat pertanian dari Universitas Palangka Raya, bilang kalau pola pikir anak muda sekarang memang beda. Mereka tidak melihat bertani cuma sebagai pewaris lahan keluarga, tapi lebih ke peluang bisnis yang bisa digarap profesional. “Sekarang banyak anak muda melihat pertanian bukan hanya soal menanam, tapi juga manajemen, pemasaran, teknologi, dan peluang usaha,” katanya di beberapa diskusi. Teknologi menjadi salah satu kunci kenapa banyak anak muda mulai pede terjun ke pertanian. Beda sama orang tua dulu yang jual hasil panen ke tengkulak atau cuma di pasar tradisional, petani muda sekarang punya akses luas lewat media sosial dan marketplace. Mereka gampang belajar teknik bertani kekinian, bahkan dari YouTube atau kursus online, tanpa harus meninggalkan desa. Isu ketahanan pangan yang terus disorot juga bikin pertanian kembali seksi. Lembaga dunia kayak FAO berkali-kali ingetin pentingnya regenerasi petani, karena usia petani rata-rata makin tua. Kalau nggak ada anak muda yang turun gunung, rantai produksi pangan bisa goyah di masa depan. Meski tren ini positif, jangan dibikin seolah-olah tantangannya kecil. Nyatanya, banyak juga hambatannya. Modal usaha susah didapat, soal lahan sering bikin pusing, harga komoditas naik turun, dan kadang akses teknologi di desa juga masih kurang. Di grup-grup petani muda, mereka terang-terangan bilang butuh pelatihan, akses pasar, bahkan sarana pendukung lebih baik supaya mereka bisa berkembang dan nggak setengah-setengah di pertanian. Meskipun begitu, tetap ada alasan buat optimis. Data terbaru BPS bilang ada kenaikan jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia, sekarang tembus 28,4 juta—lebih tinggi dari sepuluh tahun lalu. Angka itu nunjukin sektor ini masih nempel kuat di ekonomi masyarakat dan daya tarik ekonominya masih besar. Di Kalteng, pertanian kekinian makin nyambung sama geliat ekonomi kreatif. Anak muda sekarang bisa dapat duit bukan cuma dari hasil panen, tapi juga dari produk olahan, pemasaran digital, sampai wisata edukasi pertanian dan konten kreatif. Jadi, bertani itu tidak lagi hanya soal produksi pangan, tapi udah masuk ke ekonomi yang lebih luas dan lekat sama gaya hidup. Yang pasti, pola pikir anak muda soal pertanian sedang berubah. Kalau dulu pertanian jadi opsi terakhir, sekarang makin banyak yang anggap ini peluang masa depan. Tantangannya: apakah daerah mampu nyiapin ekosistem biar anak muda bisa sukses di bidang ini? Kalau dukungan buat inovasi, teknologi, dan akses pasar terus jalan, baliknya anak muda ke pertanian bukan cuma tren musiman. Bisa-bisa ini awal lahirnya generasi baru petani Kalteng yang cara kerjanya lebih modern, kreatif, dan sanggup bersaing di ekonomi masa depan. Penulis: Emuna Asie Editor: Angel
- Bisakah Konten Lokal Kalteng Menjadi Karier Masa Depan?
Generasi muda memanfaatkan platform digital untuk mengangkat budaya dan potensi daerah. (Foto: Ilustrasi) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Dulu, profesi impian anak muda itu tidak jauh-jauh dari jadi PNS, guru, dokter, atau karyawan perusahaan besar. Tapi sekarang, daftar itu makin panjang. Di era media sosial kayak sekarang, pilihan makin beragam—banyak yang ingin jadi kreator konten, YouTuber, podcaster, videografer, atau mengelola media digital. Nah, pertanyaannya, bikin konten soal Kalimantan Tengah itu bisa jadi karier beneran nggak sih? Pertanyaan ini semakin penting belakangan ini, soalnya kreator lokal Kalteng justru makin ramai. Kita lihat aja, ada yang bikin konten wisata, kuliner khas Dayak, kehidupan pedalaman, bisnis UMKM, sampai gaya hidup anak muda di kota. Dengan TikTok, YouTube, Instagram, dan Facebook, siapa aja bisa jadi produsen cerita dan punya audiens sendiri. Tren ini nyambung banget sama dorongan ekonomi kreatif di Indonesia. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi kreatif akan menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja tahun 2025—itu sekitar 18,7% dari total tenaga kerja nasional. Ekonomi kreatif ini luas, mulai dari konten digital, desain komunikasi visual, fotografi, sampai film dan media baru yang cukup digandrungi generasi Z sama milenial. Sektor ini bukan pelengkap lagi, sekarang malah jadi salah satu tulang punggung ekonomi nasional. Kalau lihat tingkat nasional, peluang buat para kreator juga makin terbuka lebar. Menurut laporan Digital 2025 Indonesia, sekarang ada lebih dari 143 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia. Audiens sebesar itu bikin peluang monetisasi lewat iklan, kerja sama brand, pemasaran afiliasi, atau jual produk digital terus bertambah. Buat Kalteng, sebenarnya peluangnya unik. Selama ini, kebanyakan konten digital didominasi kreator dari Jawa. Banyak cerita lokal daerah lain yang belum terangkat. Padahal, Kalteng punya kekayaan budaya, lanskap alam, dan kehidupan sosial yang warna-warni. Lihat saja Taman Nasional Sebangau, Sungai Kahayan, tradisi masyarakat Dayak, kuliner seperti juhu singkah dan wadai tradisional, atau kehidupan desa di pinggiran sungai. Semua itu menarik, tapi belum banyak yang bener-bener mengangkatnya dengan cara profesional dan konsisten. “Orang luar sering penasaran sama hal-hal yang buat kita sehari-hari sudah biasa. Justru di situ letak uniknya,” kata Arif Pratama, kreator video perjalanan yang pernah jelajahi beberapa wilayah di Kalimantan. Ini juga sejalan sama tren dunia. Riset dari Goldman Sachs bilang, ekonomi kreator diperkirakan nilainya tembus US$480 miliar di tahun 2027—nyaris dua kali lipat dari sebelumnya. Orang makin banyak mengonsumsi konten digital, model monetisasi juga makin beragam. Tapi ya, membangun karier dari konten lokal nggak sesimpel upload video lalu nunggu viral. Tantangan paling gede itu konsistensi. Banyak kreator baru berhenti di tengah jalan karena audiensnya lambat naik atau belum dapat penghasilan tetap. Masalah lain, kualitas produksi. Di tengah banjirnya video baru setiap hari, cuma konten dengan cerita kuat, visual bagus, dan ciri khas jelas yang biasanya bisa bertahan. Tantangan lainnya lagi, di Kalteng ekosistem kreatif masih terbilang terbatas. Studio kreatif, pelatihan profesional, dan jaringan industri belum sebanyak di Jakarta atau Surabaya. Tapi sekarang teknologi cukup membantu, kok. Banyak anak muda belajar otodidak lewat internet, bahkan kolaborasi lintas kota bisa jalan tanpa harus pergi ke mana-mana. Menariknya, tren ini bikin anak muda mulai ngelihat karier dengan cara yang berbeda. Survei global Morning Consult menunjukkan, Gen Z banyak yang tertarik jadi kreator konten karena ngerasa lebih leluasa berkarya dan peluang ekonominya besar. Di Kalimantan Tengah, peluang ini sebenarnya bukan cuma soal individu. Konten lokal juga bisa promosi wisata, ngenalin budaya, bantu UMKM, dan nunjukin potensi investasi. Sukses satu kreator, bisa bawa dampak lebih luas buat daerah. Walau begitu, pelaku industri kreatif ingetin juga: jadi kreator konten itu bukan sekadar soal cari popularitas. Perlu skill dan strategi. Mulai dari nulis cerita, ngambil gambar, ngedit video, tahu algoritma platform, sampai bangun kedekatan sama audiens. Semua itu bagian dari pekerjaan, bukan iseng semata. Buat anak muda Kalteng, pertanyaan ‘konten lokal bisa jadi karier masa depan nggak sih?’ kayaknya mulai terjawab sekarang. Dengan perkembangan teknologi, konsumsi digital yang makin naik, dan banyaknya cerita daerah yang belum terangkat, peluang itu nggak cuma wacana. Pada akhirnya, tantangan terbesarnya bukan soal ‘ada nggak pasarnya’, tapi siapa yang siap menceritakan Kalteng secara menarik, konsisten, dan profesional. Kalau ada yang bisa jawab tantangan itu, konten lokal bakal lebih dari sekadar ekspresi diri—dia bisa jadi profesi menjanjikan buat generasi muda Kalteng di masa depan. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana
- Generasi Festival: Kenapa Event Anak Muda Sekarang Lebih Ramai daripada Seminar?
Ilustrasi perbandingan antusiasme anak muda dalam menghadiri festival dan seminar. (Foto: Ilustrasi) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Dulu, seminar, diskusi publik, atau pelatihan formal jadi kegiatan favorit untuk mahasiswa dan pelajar. Tapi suasana sekarang berubah banget. Di berbagai kota Kalimantan Tengah, event macam festival, creative market, konser komunitas, pameran UMKM muda, sampai acara olahraga dan hobi malah jauh lebih gampang menarik perhatian anak muda. Seminar konvensional mulai sepi peminat. Situasi ini kelihatan jelas. Hampir setiap minggu ada festival kreatif, lari bareng komunitas, event otomotif, atau bazar UMKM muda yang penuh anak-anak usia 17–30 tahun di Palangka Raya. Seminar formal? Jangankan pengunjung ribuan, terkadang hanya puluhan saja yang datang. Tren ini bukan cuma musiman. Banyak peneliti bilang, Gen Z punya cara baru dalam belajar, bersosialisasi, dan mencari pengalaman. Anak-anak internet terbiasa dengan aktivitas interaktif, bukan sekadar duduk dengar ceramah. Penelitian dari Universitas Indonesia pun setuju, mereka menemukan kepuasan anak muda hadir di sebuah event itu ditentukan oleh kualitas program dan pengalaman yang didapat. Bagi anak muda, festival itu jauh lebih dari hiburan saja. Di sana, mereka ketemu orang baru, memperluas jaringan, belajar keterampilan, bahkan nemu peluang kerja atau bisnis. Satu event bisa jadi ajang dengerin musik, ikut workshop, belanja produk UMKM lokal, sambil sekalian membangun relasi dengan komunitas. “Kalau seminar biasanya datang, duduk, dengar, lalu pulang. Kalau festival lebih seru karena bisa belajar sambil ikut aktivitas lain,” kata Dhea Lestari, mahasiswa Palangka Raya. Pendapat Dhea makin kuat setelah lihat studi soal perilaku Gen Z. Motivasi hadir di acara buat mereka itu soal pengalaman, interaksi sosial, dan langsung terlibat. Bukan cuma terima informasi, mereka pengen jadi bagian dari pengalaman itu sendiri. Media sosial juga berperan besar. Generasi sekarang hidup di dunia di mana pengalaman mereka bisa langsung diposting di Instagram, TikTok, dan platform lain. Event yang seru, unik, dan banyak ruang interaksi bakal cepat viral. Seminar formal yang hanya presentasi? Kurang bisa nyebar dan nggak terlalu menarik buat konten. Tapi sebenarnya, tidak hanya soal konten. Anak muda mencari pengalaman yang otentik, ingin langsung berinteraksi, plus ada rasa memiliki di komunitas tertentu. Fenomena ini juga berdampak ke ekonomi lokal. Festival bukan sekadar hiburan; kini jadi motor ekonomi kreatif. Studi soal festival komunitas Indonesia nemu acara kayak gini bikin ekosistem kolaborasi, pelaku UMKM, seniman lokal, komunitas, dan masyarakat saling terlibat dan dapat manfaat bersama. Di Kalimantan Tengah, peluang baru terbuka. Anak muda tidak hanya jadi peserta, tapi mulai jadi penyelenggara, kreator konten, fotografer, videografer, desainer promosi, dan pelaku bisnis yang ikut terlibat di berbagai event. Festival, jadi ruang sosial sekaligus peluang ekonomi. Bukan berarti seminar harus hilang. Seminar tetap punya peran penting buat pengembangan pengetahuan dan kompetensi, tapi tantangannya sekarang: gimana caranya bikin format yang lebih pas buat karakter generasi baru. Beberapa kampus dan komunitas mulai menggabungkan seminar dengan festival—talkshow interaktif, workshop praktis, pameran karya, atau pertunjukan seni. Konsep seperti ini, terbukti lebih menarik anak muda. Pengalamannya lebih lengkap. Intinya, festival makin ramai bukan karena anak muda malas belajar. Justru, mereka ingin belajar dan cari inspirasi, tapi dengan proses yang interaktif, sosial, dan nyata sesuai kebutuhan mereka. Buat anak muda Kalimantan Tengah, festival hari ini sudah jadi tempat belajar, bertemu dengan orang, berkarya, dan membangun masa depan. Inilah alasan kenapa generasi festival makin tumbuh dan jadi bagian penting dari kehidupan generasi muda di daerah. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana
- Mengapa Anak Muda Kalteng Mulai Lebih Suka Belajar dari YouTube daripada dari Sekolah?
Seorang pelajar belajar melalui video edukasi di internet. (Foto: Ilustrasi) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Kenapa sekarang anak muda di Kalimantan Tengah makin suka belajar dari YouTube daripada dari sekolah? Jawabannya tidak jauh-jauh dari kebiasaan sehari-hari mereka. Coba kita lihat, ketika ingin belajar desain grafis, ngedit video, latihan bahasa asing, mulai bisnis online, atau butuh bantuan buat ngerjain PR yang susah, mayoritas tidak langsung buka buku pelajaran. Mereka justru buka YouTube. Ini sudah menjadi fenomena yang semakin ramai di kalangan pelajar dan mahasiswa. Buat generasi muda hari ini, YouTube tidak cuma jadi tempat cari hiburan, tapi berubah menjadi semacam sekolah online terbesar—mudah dijangkau, kapan aja, dari mana aja. Ada alasan kuat di balik perubahan ini. Penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Data dari BPS tahun 2024 mengatakan, 79,51 persen penduduk usia lima tahun ke atas aktif mengakses internet. Anak muda adalah kelompok paling aktif, apalagi buat cari info atau materi pembelajaran. Di Kalimantan Tengah sendiri, tren ini makin kelihatan. Akses internet sekarang jauh lebih luas, anak muda tidak harus pergi ke kota besar buat dapet ilmu baru. Siswa di Palangka Raya bisa pelajari teknik editing video yang sama persis seperti yang dipelajari anak-anak di Jakarta, Tokyo, bahkan New York, hanya memodalkan sebuah ponsel di tangan. “Kalau ada materi yang rasanya susah dimengerti di kelas, aku biasanya langsung cari di YouTube. Penjelasannya bisa lebih gampang dipahami, soalnya ada gambar dan videonya,” kata Nabila Putri, siswi SMA dari Palangka Raya. Fleksibilitas menjadi magnet utama mengapa YouTube digemari. Kalau belajar di kelas, waktunya kaku, terbatas jam pelajaran. Video di YouTube bebas, bisa diulang-ulang, dijeda kapan aja, bahkan dipercepat sesuai kebutuhan masing-masing. Soal efektif atau tidak, terdapat buktinya. Sebuah penelitian di International Journal of Educational Technology in Higher Education menemukan bahwa belajar lewat video membuat konsep pelajaran jadi lebih masuk ke otak, karena visual dan audio digabung jadi satu. Banyak pelajar, pada akhirnya, lebih gampang memahami lewat cara ini dibanding cuma baca buku saja. Plus, punya kendali sendiri saat belajar bikin anak-anak jadi lebih aktif dan tidak cuma duduk manis nunggu pelajaran. Materi yang dipelajari pun tidak terbatas hanya dipelajaran sekolah. Anak muda Kalteng pakai YouTube buat belajar hal-hal yang jarang disentuh di kelas formal. Mulai dari desain grafis, fotografi, editing video, coding, sampai marketing digital dan bahasa asing. Laporan Digital 2025 Indonesia (DataReportal) juga ngasih tahu, YouTube masih jadi salah satu platform paling favorit di Indonesia. Banyak yang datang buat hiburan, tapi semakin banyak yang datang buat belajar juga. Menariknya, kebiasaan ini ikut mengubah cara pandang generasi muda soal pendidikan. Dulu, sekolah dianggap satu-satunya sumber ilmu. Sekarang, sekolah jadi fondasi utama, tapi pengetahuan dan skill tambahan dicari lewat internet. Apakah ini berarti sekolah menjadi tidak penting? tidak juga. Pendapat banyak ahli pendidikan, termasuk Prof. Anies Baswedan, jelas: teknologi itu pelengkap, bukan pengganti sekolah. Sekolah bukan cuma transfer ilmu akan tapi juga menjadi sarana untuk membangun karakter, kerja tim, komunikasi, disiplin, dan interaksi sosial. Semua itu susah banget didapat lewat layar HP. Di sisi lain, tidak semua info di internet bisa dipercaya mentah-mentah. Literasi digital jadi tantangan utama. Menurut UNESCO, generasi muda penting punya kemampuan cek fakta, supaya bisa bedain mana info yang kredibel, mana yang sekadar hoaks. Tanpa skill ini, mudah banget tersesat di lautan informasi yang nggak jelas. Tapi perkembangan ini sebenarnya peluang besar buat Kalimantan Tengah. Selama ini, pendidikan daerah sering terkendala akses ke sumber belajar. Internet mulai mengatasi masalah ini pelan-pelan. Sekarang, anak-anak dari pelosok bisa belajar materi yang sama kayak teman-teman mereka di kota besar. Yang juga tidak kalah keren, anak muda sekarang jadi generasi pembelajar aktif. Mereka tidak cuma nunggu materi dikasih guru. Kalau mentok, langsung cari jawaban sendiri. Mereka belajar karena memang penasaran, bukan cuma karena harus lulus ujian. Tapi, para pendidik selalu bilang, pilihan terbaik bukan tentang memilih sekolah atau YouTube. Dua-duanya saling melengkapi. Sekolah kasih dasar kuat, bimbingan, serta ruang buat tumbuh sosial. YouTube kasih akses luas dan skill yang lebih praktis. Buat anak muda Kalteng, perubahan ini jelas banget terasa. Cara belajar udah berubah total. Ruang kelas sekarang nggak lagi sebatas empat dinding sekolah. Bisa ada di mana aja—di depan layar HP, laptop, ataupun tablet yang terhubung ke internet. Jadi, pertanyaannya bukan lagi soal mana yang lebih disukai—belajar di sekolah atau di YouTube. Yang penting, bagaimana caranya memaksimalkan kedua sumber ini. Supaya anak muda Kalimantan Tengah bisa belajar lebih banyak, lebih cepat, dan siap bersaing di masa depan. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel
- Banmus DPRD Kalteng Susun Agenda Strategis hingga Juli 2026
Suasana Rapat Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Provinsi Kalimantan Tengah bersama Tim Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka penyusunan jadwal kegiatan DPRD hingga Juli 2026, Senin (8/6/2026). (Foto. Dok. MMC Kalteng) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Badan Musyawarah (Banmus) DPRD Provinsi Kalimantan Tengah bersama Tim Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah menyusun kembali jadwal kegiatan DPRD Masa Persidangan III Tahun Sidang 2026. Rapat berlangsung di Ruang Rapat Gabungan DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Senin (8/6/2026). Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah diwakili Asisten Administrasi Umum Setda Provinsi Kalimantan Tengah, Sunarti. Dalam rapat tersebut, pemerintah daerah menyampaikan dukungan terhadap agenda yang telah disusun DPRD sekaligus memberikan masukan terkait sejumlah program strategis daerah. Sunarti mengatakan penyusunan jadwal menjadi langkah penting untuk memastikan pelaksanaan agenda DPRD dan pemerintah daerah dapat berjalan secara terkoordinasi. “Pada prinsipnya kami mengikuti jadwal yang telah disusun. Apabila terdapat kegiatan strategis pemerintah daerah yang waktunya bersamaan, tentu akan kami sampaikan sebagai bahan penyesuaian bersama,” ujarnya. Berdasarkan hasil rapat, DPRD Provinsi Kalimantan Tengah akan melaksanakan sejumlah agenda penting hingga akhir Juli 2026. Pada pertengahan Juni, DPRD dijadwalkan membahas beberapa rancangan peraturan daerah, antara lain terkait perpustakaan, kearsipan, dan penyelesaian sengketa pertanahan. Selain itu, DPRD juga akan menggelar rapat paripurna dengan agenda penyerahan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah Tahun Anggaran 2025 serta pembahasan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD Tahun Anggaran 2025. Memasuki Juli 2026, pembahasan Raperda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD akan dilanjutkan melalui rapat Badan Anggaran bersama Tim Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah sebelum memasuki tahap persetujuan bersama antara DPRD dan pemerintah daerah. DPRD juga dijadwalkan membahas Rancangan Kebijakan Umum APBD (KUA) dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (PPAS) Tahun Anggaran 2027. Rangkaian kegiatan Masa Persidangan III selanjutnya akan ditutup dengan pelaksanaan reses perseorangan anggota DPRD pada 19 hingga 26 Juli 2026. Rapat dipimpin Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kalimantan Tengah Riska Agustin serta dihadiri Wakil Ketua II Muhammad Ansyari, Wakil Ketua III Junaidi, jajaran Sekretariat DPRD, tim ahli, dan perangkat daerah terkait. Penyusunan jadwal tersebut diharapkan dapat mendukung kelancaran pelaksanaan agenda DPRD dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah hingga akhir Masa Persidangan III Tahun Sidang 2026. -red Penulis: Angel Editor: Emuna Asie Sumber: MMC Kalteng
- Mahasiswa UMPR Pelajari Pemuliaan Tanaman di UPT Dinas TPHP Kalteng
Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya mengikuti kunjungan lapangan dan pembelajaran mengenai pemuliaan tanaman serta teknologi kultur jaringan di UPT BPPBTPH Dinas TPHP Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (5/6/2026). (Foto. Dok. MMC Kalteng) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Sebanyak 30 mahasiswa Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Muhammadiyah Palangka Raya (UMPR) melakukan kunjungan lapangan ke UPT Balai Pengembangan Produksi Benih Tanaman Pangan Hortikultura (BPPBTPH) Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, Jumat (5/6/2026). Kegiatan yang didampingi dua dosen pengampu Mata Kuliah Pemuliaan Tanaman tersebut bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai pemuliaan tanaman, produksi benih, serta penerapan teknologi kultur jaringan dalam pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. Rombongan mahasiswa disambut Kepala UPT BPPBTPH, Isnawati, bersama jajaran tenaga teknis. Dalam kesempatan itu, mahasiswa memperoleh penjelasan mengenai proses produksi benih hortikultura, teknik seleksi dalam pemuliaan tanaman, serta upaya menjaga mutu dan ketersediaan benih unggul. Isnawati mengatakan kunjungan lapangan menjadi sarana penting untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku kuliah dengan praktik yang diterapkan di lapangan. “Melalui kegiatan ini, mahasiswa dapat melihat secara langsung proses pengembangan benih dan bibit unggul, termasuk pemanfaatan teknologi yang mendukung peningkatan kualitas produksi pertanian,” ujarnya. Salah satu agenda utama dalam kunjungan tersebut adalah peninjauan Laboratorium Kultur Jaringan. Pada kesempatan itu, mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai tahapan perbanyakan tanaman secara in vitro, mulai dari persiapan media, sterilisasi bahan tanaman, proses inokulasi, hingga pembentukan bibit yang siap memasuki tahap aklimatisasi. Kepala Seksi Perbanyakan Benih Hortikultura, Goalter Zoko, menjelaskan bahwa teknologi kultur jaringan berperan penting dalam mempercepat perbanyakan varietas unggul sehingga dapat tersedia lebih cepat bagi masyarakat maupun pelaku usaha pertanian. Selain mengunjungi laboratorium, mahasiswa juga meninjau screen house aklimatisasi untuk mempelajari proses adaptasi bibit hasil kultur jaringan sebelum ditanam di lapangan. Kegiatan berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab terkait teknologi perbenihan serta inovasi pertanian modern. Dosen pengampu Mata Kuliah Pemuliaan Tanaman UMPR, Nurul Hidayati, menyampaikan bahwa kunjungan lapangan menjadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman yang bertujuan memperkaya wawasan mahasiswa terhadap penerapan ilmu pemuliaan tanaman di dunia kerja. Melalui kegiatan tersebut, UMPR berharap kerja sama dengan lembaga teknis di bidang pertanian dapat terus diperkuat guna mendukung peningkatan kualitas pendidikan, penelitian, dan pengembangan sumber daya manusia pertanian yang unggul dan berdaya saing. -red Penulis: Angel Editor: Emuna Asie Sumber: MMC Kalteng
- Stranas PK Jadi Instrumen Penguatan Tata Kelola di Kalteng
Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menyampaikan sambutan pada kegiatan Kunjungan dan Koordinasi Capaian serta Kendala Pelaksanaan Stranas PK di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Senin (8/6/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran menegaskan bahwa Strategi Nasional Pencegahan Korupsi (Stranas PK) menjadi instrumen penting dalam memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik. Penegasan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Kunjungan dan Koordinasi Capaian serta Kendala Pelaksanaan Stranas PK di Kalimantan Tengah yang berlangsung di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Senin (8/6/2026). Menurut Agustiar, implementasi Stranas PK tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan administrasi maupun pelaporan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memastikan setiap program pembangunan berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. “Stranas PK menjadi bagian penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan akuntabel sehingga pembangunan dapat berjalan optimal,” ujarnya. Ia mengatakan, tantangan pembangunan saat ini menuntut sistem pemerintahan yang terintegrasi, didukung pengawasan yang kuat, serta pengambilan keputusan yang berbasis data dan informasi yang akurat. Untuk mendukung hal tersebut, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah terus mendorong optimalisasi Sistem Informasi Pemerintah Daerah (SIPD), penguatan tata kelola pengadaan barang dan jasa, serta peningkatan peran Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Gubernur juga meminta Inspektorat Daerah Provinsi Kalimantan Tengah untuk terus melakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan aksi-aksi Stranas PK guna mengidentifikasi berbagai kendala yang memerlukan tindak lanjut. Sementara itu, Koordinator Harian Stranas PK, Sari Anggraini, menjelaskan bahwa kunjungan tim Stranas PK ke Kalimantan Tengah difokuskan pada tiga area prioritas, yakni implementasi SIPD, pengadaan barang dan jasa pemerintah, serta penguatan fungsi APIP. Ketiga aspek tersebut dinilai memiliki peran penting dalam mendorong tata kelola pemerintahan yang lebih baik sekaligus memperkuat upaya pencegahan korupsi di daerah. Melalui koordinasi tersebut, diharapkan pelaksanaan Stranas PK di Kalimantan Tengah dapat berjalan lebih optimal serta mendukung terwujudnya pemerintahan yang bersih, efektif, dan berintegritas. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri
- Bocah 11 Tahun Dilaporkan Tenggelam di Sungai Kapuas, Tim SAR Gabungan Lakukan Pencarian
Tim SAR Gabungan melakukan penyisiran di Sungai Kapuas, Desa Sei Hanyu, Kecamatan Kapuas Hulu, dalam upaya mencari Jio Norahito (11) yang dilaporkan tenggelam, Senin (8/6/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, KAPUAS – Tim SAR Gabungan masih melakukan pencarian terhadap Jio Norahito (11), seorang bocah yang dilaporkan tenggelam di Sungai Kapuas, RT 05 Desa Sei Hanyu, Kecamatan Kapuas Hulu, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Peristiwa tersebut terjadi pada Minggu (7/6/2026) sekitar pukul 08.30 WIB. Berdasarkan informasi yang diperoleh, Jio saat itu berada di kawasan sungai bersama sejumlah temannya dan sempat berenang sebelum dinyatakan hilang. Setelah selesai berenang, bocah tersebut terakhir kali terlihat berada di tepi sungai. Namun, beberapa saat kemudian teman-temannya tidak lagi melihat keberadaannya. Dugaan sementara, Jio tenggelam dan terbawa arus Sungai Kapuas. Warga bersama keluarga sempat melakukan pencarian secara mandiri hingga malam hari. Karena belum membuahkan hasil, kejadian tersebut kemudian dilaporkan kepada Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Palangka Raya. Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Palangka Raya, AA Ketut Alit Supartana, mengatakan tim rescue telah diberangkatkan untuk membantu proses pencarian. “Pagi ini, Senin (8/6/2026), Tim SAR Gabungan melaksanakan briefing kesiapan personel dan peralatan sebelum bergerak melakukan penyisiran di area yang telah ditentukan,” ujarnya. Pada hari kedua operasi, pencarian difokuskan di sepanjang aliran sungai yang diduga menjadi lokasi tenggelamnya korban. Tim melakukan penyisiran menggunakan perahu dan peralatan pendukung lainnya. Koordinator Lapangan Basarnas, Malik, mengatakan strategi pencarian saat ini dipusatkan pada jalur perairan guna mempercepat proses pencarian. Operasi SAR melibatkan Tim Rescue Kantor SAR Palangka Raya, Polsek Kapuas Hulu, relawan Balakar 545 Kapuas, keluarga korban, serta masyarakat setempat. Hingga Senin siang, Tim SAR Gabungan masih melanjutkan pencarian dan berupaya menemukan Jio Norahito yang dilaporkan hilang di Sungai Kapuas. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri
- Bapas Sampit dan Kejari Kotim Bahas Implementasi Pidana Kerja Sosial dan Pengawasan
Jajaran Bapas Kelas II Sampit dan Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur saat membahas implementasi pidana kerja sosial dan pengawasan guna memperkuat sinergi antarpenegak hukum, Senin (8/6/2026). (Foto. Dok. Wiyandri) KALTENG NETWORK, SAMPIT – Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Sampit bersama Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur menggelar pertemuan koordinasi guna membahas implementasi pidana kerja sosial dan pidana pengawasan, Senin (8/6/2026). Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur tersebut dihadiri Kepala Bapas Kelas II Sampit Prayudha Rachmadany beserta jajaran dan Kepala Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur bersama jajaran. Dalam pertemuan tersebut, kedua instansi membahas penerapan regulasi terkait pidana kerja sosial dan pengawasan yang menjadi bagian dari pengembangan sistem pemidanaan dan pembimbingan kemasyarakatan. Kepala Bapas Kelas II Sampit, Prayudha Rachmadany, mengatakan koordinasi lintas lembaga diperlukan untuk menyamakan pemahaman dalam pelaksanaan kebijakan tersebut di lapangan. “Koordinasi ini penting untuk membangun kesamaan persepsi dan memperkuat sinergi antarpenegak hukum dalam mendukung pelaksanaan pidana kerja sosial dan pengawasan secara efektif,” ujarnya. Sebagai tindak lanjut, Bapas Sampit dan Kejaksaan Negeri Kotawaringin Timur berencana menggelar pertemuan lanjutan yang melibatkan Pengadilan Negeri Sampit serta Kejaksaan Negeri Seruyan. Pertemuan tersebut akan difokuskan pada penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) sebagai pedoman pelaksanaan pidana kerja sosial dan pengawasan bagi seluruh pihak yang terlibat. Melalui koordinasi tersebut, diharapkan implementasi regulasi dapat berjalan lebih optimal, terukur, dan memberikan kepastian dalam pelaksanaan tugas masing-masing instansi. Kegiatan berlangsung lancar dan menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antarpenegak hukum dalam mendukung sistem peradilan pidana yang lebih efektif dan berorientasi pada pembinaan masyarakat. -red Penulis: Angel Editor: Wiyandri
- Dolar AS Tembus Rp18.042, Menguat di Tengah Ketidakpastian Ekonomi Global
Dolar AS terus menguat hingga menembus Rp18.042. Ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya permintaan aset aman menjadi faktor utama yang mendorong penguatan mata uang Amerika Serikat. (Foto: AI Generated) KALTENG NETWORK, INDONESIA - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah terus menunjukkan tren penguatan dan menembus level psikologis Rp18.000. Berdasarkan data pasar keuangan yang dihimpun dari LSEG (London Stock Exchange Group) pada Kamis (4/6/2026), dolar AS berada di kisaran Rp18.042 per rupiah. Kenaikan nilai dolar AS terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang mendorong investor mencari aset yang dinilai lebih aman atau safe haven. Kondisi tersebut membuat permintaan terhadap dolar AS meningkat dan berdampak pada penguatan mata uang tersebut terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah. Selain dipengaruhi sentimen global, pergerakan dolar AS juga didorong oleh dinamika pasar keuangan internasional serta perkembangan kebijakan ekonomi dan moneter di sejumlah negara. Ketika ketidakpastian meningkat, investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih stabil, sehingga memperkuat posisi dolar AS di pasar global. Dalam beberapa pekan terakhir, dolar AS terus bergerak naik terhadap rupiah. Penguatan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan hingga aktivitas masyarakat yang berkaitan dengan transaksi valuta asing. Kenaikan dolar AS dapat meningkatkan biaya impor barang dan bahan baku dari luar negeri. Sebab, sebagian besar transaksi perdagangan internasional masih menggunakan mata uang dolar. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan biaya produksi dan harga sejumlah barang yang bergantung pada komponen impor. Selain itu, masyarakat yang memiliki kebutuhan pembayaran dalam dolar AS, seperti biaya pendidikan di luar negeri, perjalanan internasional, maupun kewajiban utang dalam valuta asing, juga dapat merasakan dampak dari penguatan mata uang Amerika tersebut. Di sisi lain, kondisi ini dapat memberikan keuntungan bagi pelaku usaha yang berorientasi ekspor. Pendapatan yang diperoleh dalam dolar AS akan memiliki nilai tukar yang lebih tinggi ketika dikonversi ke rupiah, sehingga berpotensi meningkatkan penerimaan eksportir. Pemerintah dan Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar keuangan serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan yang tersedia. Upaya tersebut dilakukan untuk menjaga kepercayaan pasar, mengendalikan inflasi, dan mendukung stabilitas ekonomi nasional. Sejumlah analis memperkirakan pergerakan dolar AS masih akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global, kondisi geopolitik, serta arah kebijakan moneter internasional dalam beberapa waktu ke depan. Selama ketidakpastian global masih berlangsung, volatilitas nilai tukar diperkirakan tetap tinggi. Penulis: Angel Editor: Ivonne Hana Sumber data: LSEG (London Stock Exchange Group), 4 Juni 2026.
- Kenalan dengan Halimah, Kepala SMPIT Hasanka Boarding School Peraih Juara 1 Duta Guru CBP Rupiah 2026
Halimatus Sa’diah, S.Pd., Gr., Kepala SMPIT Hasanka Boarding School Palangka Raya, berhasil meraih Juara 1 Duta Guru CBP Rupiah 2026 tingkat Kalimantan Tengah dan siap melangkah ke tingkat nasional. (Foto: Dok. Halimah) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Kepala SMPIT Hasanka Boarding School Palangka Raya, Halimatus Sa’diah, S.Pd., Gr. atau yang akrab disapa Halimah, berhasil meraih Juara 1 Duta Guru Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah 2026 tingkat Kalimantan Tengah, baru-baru ini. Prestasi tersebut diraih berkat komitmennya dalam mengembangkan edukasi literasi keuangan bagi peserta didik melalui inovasi digital di lingkungan sekolah. Ketertarikan Halimah mengikuti ajang Duta Guru CBP Rupiah 2026 bermula dari keresahannya melihat masyarakat yang lebih memandang rupiah hanya sebagai angka. Menurutnya, mata uang Indonesia bukan sekadar alat transaksi, tetapi juga identitas bangsa yang harus dihargai dan dijaga bersama. “Banyak orang membicarakan rupiah hanya dari sisi angka, padahal rupiah merupakan identitas bangsa yang harus dihargai dan dijaga bersama,” katanya. Halimah mengaku mulai mendalami edukasi literasi keuangan sejak 2025. Pada 2026, ia mulai fokus mencari solusi terhadap permasalahan pengelolaan keuangan di kalangan remaja. Ia menilai masih banyak peserta didik yang belum memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, serta belum disiplin dalam mengatur keuangan pribadi. “Permasalahan utama remaja saat ini adalah masih rendahnya pemahaman tentang pengelolaan keuangan, termasuk membedakan kebutuhan dan keinginan,” jelasnya. Berangkat dari kondisi tersebut, Yayasan Hasanka menghadirkan inovasi berupa E-Money Smart Card Hasanka sebagai langkah meningkatkan kedisiplinan dan literasi keuangan digital. Program tersebut diterapkan kepada seluruh keluarga besar Yayasan Hasanka yang terdiri dari guru, staf, dan peserta didik. Melalui sistem itu, orang tua dan sekolah dapat memantau penggunaan uang peserta didik secara berkala sehingga anak-anak lebih disiplin dalam mengelola keuangan pribadi. Di balik keberhasilannya meraih juara pertama, Halimah mengaku tantangan terbesar yang dihadapi adalah membagi waktu antara tanggung jawab sebagai kepala sekolah dan persiapan kompetisi. Selain itu, ia juga harus memastikan program E-Money Smart Card Hasanka dapat terus berkembang dan menjadi solusi yang tepat bagi peserta didik. Meski berhasil menjadi Juara 1 Duta Guru CBP Rupiah 2026, Halimah mengaku tidak pernah berekspektasi terlalu jauh dalam kompetisi tersebut. “Saya tidak menyangka bisa meraih juara pertama. Fokus saya hanya memberikan yang terbaik dan menjalankan semua tanggung jawab dengan maksimal,” ungkapnya. Kini, setelah mendapatkan amanah sebagai Juara 1 Duta Guru CBP Rupiah Bank Indonesia Kalimantan Tengah, Halimah berharap dapat memberikan kontribusi lebih luas dalam meningkatkan pemahaman generasi muda terhadap pengelolaan keuangan dan pentingnya menghargai rupiah. Ia juga berharap inovasi yang dijalankan di SMPIT Hasanka Boarding School dapat menjadi inspirasi dalam membangun budaya literasi keuangan di lingkungan pendidikan, baik di Kalimantan Tengah maupun tingkat nasional. -red Penulis: Angel Editor: Ivonne Hana













