top of page

Kalimantan Tengah Diam-Diam Jadi Contoh Desa Masa Depan Indonesia


Hamparan kawasan hutan dan permukiman masyarakat di Kalimantan Tengah. (Foto: Dok. Kalteng Network)
Hamparan kawasan hutan dan permukiman masyarakat di Kalimantan Tengah. (Foto: Dok. Kalteng Network)

KALTENG NETWORK, PALANGAK RAYA - Selama ini, orang lebih sering mengenal Kalimantan Tengah dari cerita tentang hutan, perkebunan, tambang, dan kebakaran lahan. Tapi, di balik semua itu, ada perubahan besar yang lambat laun berkembang, meski jarang disorot secara nasional. Desa-desa di Kalimantan Tengah bergerak cepat, pemerintahan mulai menggunakan digitalisasi, status pembangunan naik, ekonomi lokal berbasis teknologi sedang bertumbuh, dan internet mulai masuk ke pelosok. Diam-diam, Kalimantan Tengah berubah menjadi semacam laboratorium pembangunan desa masa depan Indonesia.


Bukti perubahan itu terlihat cukup jelas. Dalam tiga tahun terakhir, jumlah desa mandiri di Kalimantan Tengah melonjak. Catatan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa setempat menyebutkan, pada tahun 2022 terbentuk 87 desa mandiri. Lalu, pada tahun 2025, jumlahnya meningkat menjadi 278 desa. Sementara desa tertinggal turun jauh, dari 229 menjadi 65 desa saja, dan desa sangat tertinggal bahkan sudah tak ditemukan lagi sejak tahun 2023.


Peningkatan tersebut menunjukkan perubahan struktur pembangunan desa yang cukup cepat dibanding persepsi publik terhadap Kalimantan Tengah selama ini. Dari total 1.432 desa, sekarang ada 757 desa yang masuk kategori maju dan mandiri. Kabupaten seperti Kotawaringin Timur punya 75 desa mandiri, paling tinggi di provinsi ini, disusul Kotawaringin Barat dengan 53 desa mandiri.


Tapi perubahan itu bukan hanya tentang pembangunan fisik saja namun sistem administrasi dan pengelolaan pemerintahan desa pun juga mulai berubah arah. Pemerintah provinsi belakangan ini mendorong digitalisasi desa lewat program Sistem Informasi dan Administrasi Pemerintah Desa (SIAPDes). Program ini membantu desa mengurus administrasi, layanan publik, data pembangunan, dan potensi ekonomi secara digital. Di tahun 2025, pemerintah provinsi bahkan menggelar pelatihan SIAPDes buat desa-desa di wilayah pedalaman agar digitalisasi semakin cepat tercapai.


Jelas, arah pembangunannya mulai bergeser ke arah yang lebih positif. Jika sebelumnya, desa selalu dianggap tertinggal dan sepenuhnya bergantung ke kota. Sekarang, desa mulai diarahkan supaya bisa tumbuh sendiri, jadi pusat pertumbuhan ekonomi, punya administrasi sendiri, bahkan terhubung secara digital.


Transformasi ini makin nyata karena akses internet di desa-desa turut meluas dalam dua tahun terakhir. Program Kampung Internet dari pemerintah pusat, sejak 2025, mempercepat masuknya internet ke desa-desa yang sebelumnya “blank spot”. Pemerintah juga menanggung biaya internet untuk desa hingga satu tahun demi mempercepat konektivitas.


Masuknya internet menawarkan lebih dari sekadar komunikasi yang lebih baik. Generasi muda di pedesaan Kalimantan Tengah dapat akses pendidikan digital, kerja daring, jualan produk lokal ke mana-mana, sampai menekuni ekonomi kreatif lewat medsos. Perubahan terbesar sering bukan langsung di dompet, tapi di pola pikir anak-anak mudanya.


Lihat saja sekarang ekonomi kreatif lokal tumbuh, media digital ramai dipakai promosi budaya dan produk daerah, pemerintah daerah aktif dorong UMKM digital, dan desa mulai keluar dari pola lama yang hanya mengandalkan pertanian dan sumber daya alam. Putar balik sedikit saja, desa-desa ini sudah mulai menyelam pelan-pelan ke dunia ekonomi digital.


Menariknya, semua perubahan ini terjadi tanpa dorongan urbanisasi seperti di Jawa. Banyak desa di sini masih luas, lingkungannya relatif terjaga, hubungan sosial antarwarga pun erat. Ini kesempatan besar untuk membangun desa modern yang tetap kuat identitas sosial dan ruang hidupnya.


Selama ini pembangunan di Indonesia selalu condong ke kota besar. Sekarang, Kalimantan Tengah seperti menunjukkan bahwa desa pun bisa jadi pusat transformasi ekonomi dan digital. Kalau tren desa mandiri, digitalisasi, dan internet terus jalan, Kalimantan Tengah sangat mungkin jadi contoh bagaimana wilayah non-kota tumbuh tanpa harus meniru urbanisasi ala Jawa.


Alhasil, Kalimantan Tengah menarik dipandang bukan cuma sebagai sumber daya alam, tapi juga sebagai laboratorium sosial buat desa masa depan. Desa-desa ini membuktikan bahwa modernisasi tak selamanya mesti dimulai dari kota besar. Siapa tahu, dalam beberapa tahun lagi, justru desa-desa di sini yang muncul sebagai wajah baru transformasi digital Indonesia. -red Penulis : Emuna Asie

Editor : Ivonne Hana

Comments


bottom of page