top of page

Scroll, Swipe, Repeat: Apakah Anak Muda Kalteng Sedang Kehilangan Ruang Sosial Nyata?

Ilustrasi anak muda yang semakin sibuk dengan dunia digital dan media sosial, hingga perlahan kehilangan interaksi sosial secara nyata. (Foto: Pexels)
Ilustrasi anak muda yang semakin sibuk dengan dunia digital dan media sosial, hingga perlahan kehilangan interaksi sosial secara nyata. (Foto: Pexels)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Di Palangka Raya, dan hampir di setiap sudut Kalimantan Tengah, ada satu pemandangan yang gampang ditemui sekarang yaitu sekumpulan anak muda duduk bareng di coffee shop atau tempat nongkrong, tapi semuanya sibuk dengan HP masing-masing.


Ngobrolnya singkat. Mata lebih sering ke layar, bukannya ke teman di depan. Kadang suasana jadi hening, padahal di tengah tongkrongan. Rasanya aneh, tapi udah jadi kebiasaan.


Jadi, pertanyaan muncul apakah generasi muda Kalteng pelan-pelan kehilangan ruang sosial nyata gara-gara hidup menatap layar digital?


Sekarang, media sosial benar-benar jadi bagian utama kehidupan anak muda di Indonesia. Data BPS mengatakan, persentase anak muda yang pakai internet terus naik dari tahun ke tahun lebih dari 87 persen. Internet buat generasi muda Kalteng bukan cuma alat komunikasi tapi sudah jadi tempat mencari hiburan, pertemanan, validasi, dan juga membangun identitas.


Tiap hari mereka pakai TikTok, Instagram, X, dan lain-lain. Cara mereka bicara berubah, cara berpikir juga ikut, bahkan cara membangun hubungan tidak sama lagi.


Data BPS tahun 2025 menyebutkan kalau 83,8 persen pelajar Indonesia usia 5–23 tahun menggunakan internet, dan mayoritas buat hiburan atau media sosial. Di Kalteng, situasinya terasa banget.


Dulu, ruang sosial anak muda itu lapangan, taman, atau kumpul komunitas. Sekarang, banyak yang lebih sering nongkrong sambil scrolling tanpa henti. Nongkrong sih, tapi lebih ke update medsos daripada ngobrol langsung.


Angelica, mahasiswa di Palangka Raya, bilang, “Kadang kumpul ramai, tapi semua sibuk sendiri lihat HP.”


Medsos memang bawa banyak manfaat. Anak muda di daerah bisa gampang dapet info, belajar skill baru, bangun jaringan pertemanan sampai ke luar kota bahkan luar negeri. Banyak juga yang mulai kerja online, bikin bisnis, atau jadi konten kreator.


Tapi, makin banyak peneliti yang bilang, adanya dampak ke pola hubungan sosial generasi muda. Riset “Teen Talk” menyebut medsos memang bantu remaja cari koneksi sosial, tapi juga bikin pengalaman negatif dapat membuat seseorang jadi makin kesepian, tekanan sosial meningkat, validasi berlebihan.


Banyak anak muda punya ribuan followers, tapi tetap merasa sendiri di kehidupan nyata.


Di Kalteng, perubahan ini agak unik. Budaya sosial masih cukup kuat, terutama di keluarga dan komunitas lokal. Tapi anak muda kota mulai cenderung individualis. Lebih banyak yang milih di kamar sambil online, daripada ikut kegiatan sosial langsung.


Suryati, warga Palangka Raya, bilang, “Dulu anak-anak sore main di luar. Sekarang banyak yang diam di rumah sambil online.”


Pemerintah Indonesia juga mulai serius soal dampak medsos ke anak dan remaja. Tahun 2026, rencananya bakal dibatasin akses medsos untuk umur tertentu, buat mencegah kecanduan digital, cyberbullying, dan masalah mental.


Walaupun begitu, sebenarnya masalah utama bukan hanya durasi main medsos. Yang lebih penting, ruang sosial nyata masih kurang buat anak muda di daerah seperti Kalteng. Taman aktif, tempat komunitas, fasilitas seni yang tidak semua kota punya. Jadi, media sosial jadi alternatif yang paling gampang.


Ironisnya, makin sering terkoneksi digital, makin jauh juga rasanya dari orang lain secara emosional.


Penelitian soal perilaku sosial remaja digital juga nunjukin kalau generasi muda sebenarnya masih butuh hubungan nyata yang bermakna nggak cukup interaksi sebentar di layar.


Tapi di Kalteng, sekarang mulai ada komunitas lari, klub diskusi, event kreatif lokal, dan cara nongkrong yang lebih produktif di coffee shop. Generasi muda ternyata tetap cari koneksi nyata, walau dunia digital dominan.


Masalahnya bukan anak muda nggak mau sosialisasi. Cara mereka aja yang berubah. Mereka hidup di dua dunia nyata dan digital.


Sekarang, tantangannya adalah gimana caranya ruang sosial nyata tetap hidup, meski kebiasaan scroll, swipe, repeat makin mendominasi hari-hari mereka.


Sebab, internet memang bikin kita bisa terhubung kapan aja. Tapi itu belum tentu bikin kita benar-benar merasa dekat satu sama lain. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page