top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Pemkab Kobar Kembangkan Wisata Budaya, Rumah Betang hingga Istana Kuning Jadi Andalan

Rumah Betang di Desa Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat, menjadi salah satu ikon wisata budaya yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. (Foto: Visit Kobar)
Rumah Betang di Desa Pasir Panjang, Kabupaten Kotawaringin Barat, menjadi salah satu ikon wisata budaya yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat. (Foto: Visit Kobar)

KALTENG NETWORK, PANGKALAN BUN – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus memperkuat sektor pariwisata dengan mengembangkan wisata budaya dan sejarah sebagai daya tarik baru. Langkah ini diharapkan mampu melengkapi pesona Taman Nasional Tanjung Puting sekaligus memperpanjang lama kunjungan wisatawan ke Bumi Marunting Batu Aji.


Sejumlah destinasi budaya mulai diprioritaskan, di antaranya Rumah Betang di Desa Pasir Panjang, Makam Kyai Gede, Astana Al-Nursari, Istana Kuning, Rumah Mangkubumi, Kolam Pemandian Tujuh Putri, hingga berbagai festival budaya yang rutin digelar setiap tahun.


Kepala Dinas Pariwisata Kotawaringin Barat, Rona Nirmala, mengatakan Rumah Betang di Desa Pasir Panjang telah ditetapkan sebagai pusat ekobudaya yang menjadi ruang penyambutan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.


"Setiap tamu yang datang akan disambut dengan tarian adat Dayak. Tidak hanya menyaksikan pertunjukan, mereka juga diajak ikut menari sehingga dapat merasakan langsung kekayaan budaya masyarakat Dayak," ujarnya, Jumat (17/7/2026).

Menurut Rona, konsep tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih berkesan bagi wisatawan. Selain menikmati wisata alam, pengunjung juga dapat mengenal tradisi, seni, dan kearifan lokal masyarakat Dayak yang masih terjaga.


Selain itu, Makam Kyai Gede di Kecamatan Kotawaringin Lama diproyeksikan sebagai pusat wisata religi. Kawasan tersebut setiap tahunnya dipadati ribuan peziarah, terutama saat pelaksanaan haul.


"Makam Kyai Gede sudah kita tetapkan sebagai pusat wisata budaya religi karena setiap tahun selalu ramai dikunjungi masyarakat, baik untuk berziarah maupun menghadiri haul," katanya.

Pemerintah daerah juga terus mengembangkan kawasan peninggalan Kerajaan Kutaringin, seperti Istana Kuning, Rumah Mangkubumi, Kolam Pemandian Tujuh Putri, dan Astana Al-Nursari sebagai destinasi wisata sejarah.


"Fokus pengembangan pariwisata tidak hanya pada Taman Nasional Tanjung Puting dan Pantai Kubu. Kini kita juga mengembangkan sektor wisata budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi," tambah Rona.

Penguatan identitas budaya daerah turut dilakukan melalui penyelenggaraan berbagai agenda tahunan, seperti Festival Budaya Marunting Batu Aji dan Pawai Nasi Adab yang menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Kotawaringin Barat.


Menurut Rona, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi media promosi budaya lokal yang mampu menarik minat wisatawan.


"Momen seperti ini menjadi ruang untuk memperlihatkan kekayaan budaya Kobar agar semakin dikenal masyarakat luas dan menarik minat wisatawan berkunjung," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kotawaringin Barat Nurhidayah menegaskan bahwa tahun 2026 menjadi momentum untuk mempercepat pengembangan wisata budaya. Salah satu fokus utama adalah menjadikan Desa Pasir Panjang sebagai desa wisata budaya karena masyarakatnya masih menjaga tradisi adat Dayak.


Selain memiliki Rumah Betang sebagai ikon budaya, desa tersebut juga dikenal sebagai simbol kerukunan antarumat beragama. Di kawasan itu berdiri masjid, gereja, dan balai Hindu Kaharingan yang berada berdampingan.


"Desa Pasir Panjang memiliki kekuatan budaya yang masih lestari dan letaknya sangat strategis karena dekat dengan pusat Kota Pangkalan Bun. Ini menjadi modal besar untuk dikembangkan sebagai desa wisata budaya," kata Nurhidayah.

Pemkab Kobar juga mulai menginventarisasi berbagai objek wisata budaya, khususnya di Kecamatan Kotawaringin Lama yang merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Kutaringin.


"Kecamatan Kotawaringin Lama memiliki nilai sejarah yang sangat kuat, mulai dari peninggalan kerajaan hingga Makam Kyai Gede. Kawasan ini akan terus dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan religi," tegasnya.

Kepala Desa Pasir Panjang, Tamel Otol, menyambut baik penetapan desanya sebagai desa wisata budaya. Menurutnya, program tersebut tidak hanya mendorong pelestarian budaya Dayak, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata.


"Pengembangan desa wisata budaya tidak hanya meningkatkan kunjungan wisata, tetapi juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui pelestarian seni, tradisi, dan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun," ucapnya. -red

Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page