BPBD Kotim Usulkan Penambahan Helikopter Water Bombing untuk Percepat Penanganan Karhutla
- Fransisca Fethy Angelina
- 2 days ago
- 3 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengusulkan penambahan satu unit helikopter water bombing yang disiagakan di Bandara H Asan Sampit untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Usulan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya frekuensi kejadian karhutla di Kotim. Saat ini, Kalimantan Tengah hanya memiliki dua helikopter water bombing yang masih diprioritaskan untuk penanganan kebakaran berskala besar di Kabupaten Pulang Pisau.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan kebutuhan armada pemadaman dari udara di wilayahnya sudah semakin mendesak.
"Untuk saat ini, dua helikopter water bombing yang tersedia di Kalimantan Tengah masih diprioritaskan untuk penanganan di Pulang Pisau. Di sana kebakarannya cukup besar dan ketersediaan air di permukaan juga sangat terbatas," ujarnya, Jumat (17/7/2026).
Menurut Multazam, BPBD Kotim telah mengajukan permohonan penambahan satu unit helikopter agar dapat bersiaga di Bandara H Asan Sampit. Keberadaan armada tersebut dinilai penting untuk mempercepat pemadaman, terutama di lokasi kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
"Kami sudah mengajukan permohonan. Mudah-mudahan ada tambahan satu unit helikopter water bombing lagi yang bisa siaga di Bandara H Asan Sampit untuk mendukung penanganan karhutla di Kotim," katanya.
Berdasarkan data BPBD, sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 telah terdeteksi lebih dari 300 titik panas (hotspot) di Kotawaringin Timur. Luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 145 hektare.
Dari sisi luasan kebakaran, Kotim menempati peringkat kedua di Kalimantan Tengah setelah Kabupaten Pulang Pisau. Namun, jika dilihat dari jumlah kejadian, Kotim menjadi daerah dengan frekuensi karhutla terbanyak di provinsi tersebut.
"Kalau dari sisi luasan kebakaran, kita berada di urutan kedua setelah Pulang Pisau. Tetapi kalau frekuensi kejadian, Kotim yang paling banyak," ungkapnya.
Multazam menjelaskan, operasional helikopter water bombing dilakukan berdasarkan laporan tim pemadam di lapangan yang dipadukan dengan hasil patroli udara. Patroli dilaksanakan dua kali setiap hari, yakni pada pagi hari untuk wilayah utara Kalimantan Tengah dan siang hari menuju wilayah barat, termasuk Kabupaten Kotawaringin Timur.
"Hasil pemantauan udara kemudian dianalisis untuk menentukan titik kebakaran yang menjadi prioritas pemadaman agar penanganan lebih efektif," jelasnya.
Selain menghadapi ancaman karhutla, BPBD Kotim juga mulai menangani dampak musim kemarau berupa krisis air bersih. Hingga pertengahan Juli, empat desa telah rutin mengajukan bantuan distribusi air bersih, yakni Desa Kuin Permai, Lempuyang, Regei Lestari, dan Jaya Karet.
Menurut Multazam, setiap kali distribusi dibutuhkan sekitar 15.000 hingga 20.000 liter air atau setara empat hingga lima mobil tangki.
"Permintaan mereka bukan hanya sekali pengiriman, tetapi secara berkala. Dalam satu kali distribusi, kebutuhan air mencapai sekitar 15.000 hingga 20.000 liter sehingga diperlukan sekitar empat sampai lima mobil tangki," katanya.
BPBD juga mewaspadai potensi krisis air bersih di wilayah Pulau Hanaut dan Seranau. Saat musim kemarau, kedua kawasan tersebut rawan mengalami intrusi air laut yang menyebabkan sumber air tawar berubah menjadi payau dan tidak layak dikonsumsi.
"Ancaman kekeringan masih berpotensi bertambah. Kita bahkan belum masuk ke wilayah Pulau Hanaut dan Seranau yang memiliki kerentanan lebih tinggi karena saat musim kemarau sering terjadi intrusi air laut sehingga air menjadi tidak layak dikonsumsi," pungkasnya.
Apabila kondisi kekeringan semakin memburuk, distribusi air bersih ke wilayah tersebut akan dilakukan melalui jalur sungai, sebagaimana pernah diterapkan saat musim kemarau ekstrem pada 2015 dan 2019. Pemerintah daerah berharap penambahan helikopter water bombing dapat segera terealisasi agar penanganan karhutla berlangsung lebih cepat dan penyebaran api dapat dikendalikan sebelum meluas. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments