top of page
KN.png

Mengapa Kita Selalu Merasa Kekurangan Waktu?


Ke mana waktu kita pergi? (Gambar: AI generated)
Ke mana waktu kita pergi? (Gambar: AI generated)

KALTENGNETWORK- Jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya, hidup kita seharusnya lebih efisien. Kita tidak perlu pergi ke perpustakaan untuk mencari informasi. Tidak perlu mengirim surat dan menunggu berhari-hari untuk mendapat balasan. Tidak perlu datang langsung ke bank hanya untuk melakukan transfer. Bahkan makanan, transportasi, dan berbagai kebutuhan sehari-hari bisa dipesan hanya melalui ponsel.


Namun, malah muncul paradoks yang menarik. Banyak orang justru merasa semakin sibuk.

Kalimat seperti "tidak sempat", "lagi banyak kerjaan", atau "waktu sehari rasanya kurang" terdengar semakin umum. Padahal secara teori, kita memiliki alat yang dapat menyelesaikan banyak hal lebih cepat dibandingkan generasi mana pun sebelumnya.


Lalu ke mana sebenarnya waktu kita pergi?

Salah satu jawabannya mungkin terletak pada cara teknologi mengubah ekspektasi kita.

Dahulu, sebuah surat membutuhkan waktu berhari-hari untuk sampai ke tujuan. Hari ini, pesan dapat dikirim dalam hitungan detik. Namun kemudahan tersebut juga menciptakan harapan baru bahwa setiap pesan harus segera dibalas. Sekarang kita bisa dihubungi hampir setiap saat.


Teknologi memang membuat komunikasi lebih cepat, tetapi juga membuat kita lebih mudah dijangkau. Akibatnya, batas antara waktu bekerja dan waktu beristirahat menjadi semakin kabur. Banyak orang tidak benar-benar selesai bekerja ketika jam kantor berakhir. Notifikasi masih masuk. Email masih berdatangan. Grup percakapan masih aktif. Bahkan saat sedang berlibur, sebagian orang tetap merasa perlu memeriksa pekerjaan mereka.


Kemajuan teknologi tidak selalu mengurangi beban kerja. Terkadang ia hanya memungkinkan lebih banyak pekerjaan dilakukan dalam waktu yang sama.


Fenomena ini dikenal dalam ekonomi sebagai Jevons Paradox. Ketika suatu proses menjadi lebih efisien, penggunaan terhadap proses tersebut justru sering meningkat.


Misalnya, ketika komunikasi menjadi lebih mudah, kita tidak menggunakan waktu komunikasi yang sama dengan lebih cepat. Kita justru melakukan lebih banyak komunikasi.

Ketika rapat daring menjadi mungkin, jumlah rapat tidak selalu berkurang. Dalam beberapa kasus, justru bertambah.


Hal serupa terjadi pada informasi. Dulu seseorang membaca koran pagi dan berita malam. Hari ini, informasi tersedia selama dua puluh empat jam tanpa henti.

Kita tidak hanya mengonsumsi berita. Kita juga membaca pesan, melihat media sosial, menonton video, mendengarkan podcast, dan menerima notifikasi dari berbagai aplikasi.

Setiap aktivitas mungkin hanya memakan beberapa menit.

Namun jika dikumpulkan, potongan-potongan kecil tersebut dapat menghabiskan waktu yang jauh lebih besar daripada yang kita sadari.


Ada pula faktor psikologis yang berperan. Penelitian menunjukkan bahwa manusia sering kali mengingat kesibukan lebih kuat daripada waktu luang. Akibatnya, kita cenderung merasa lebih sibuk daripada yang sebenarnya kita alami.


Selain itu, kehidupan modern memperkenalkan sesuatu yang disebut sebagai time famine, atau perasaan terus-menerus kekurangan waktu. Menariknya, time famine tidak selalu berarti seseorang benar-benar memiliki sedikit waktu. Sering kali yang berkurang adalah perasaan memiliki kendali atas waktu tersebut. Dua orang bisa memiliki jumlah waktu luang yang sama, tetapi orang yang merasa waktunya dipenuhi kewajiban akan lebih mungkin merasa tertekan.


Internet juga menciptakan tantangan baru yang tidak pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Setiap hari kita melihat orang lain belajar keterampilan baru, membangun bisnis, berolahraga, bepergian, membaca buku, mengikuti kursus, dan melakukan berbagai aktivitas produktif lainnya.


Tanpa sadar, kita mulai merasa bahwa waktu yang kita miliki seharusnya digunakan untuk lebih banyak hal. Akibatnya, waktu luang yang seharusnya menjadi kesempatan untuk beristirahat justru berubah menjadi sumber rasa bersalah. Pada akhirnya, kita tidak hanya berlomba dengan waktu. Kita juga berlomba dengan ekspektasi.


Ironisnya, manusia modern mungkin memiliki lebih banyak alat penghemat waktu dibandingkan generasi sebelumnya. Namun kita juga memiliki lebih banyak distraksi, lebih banyak tanggung jawab digital, dan lebih banyak tuntutan untuk terus produktif.


Karena itu, masalahnya mungkin bukan bahwa kita benar-benar kekurangan waktu.

Melainkan semakin banyak hal yang bersaing untuk mengisi dua puluh empat jam tersebut.


Di dunia yang terus bergerak semakin cepat, kemampuan untuk melindungi waktu kita sendiri mungkin menjadi salah satu keterampilan paling berharga yang bisa dimiliki. -red


Penulis: Ivonne Hana

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page