12 minutes ago3 min read


17 minutes ago3 min read


41 minutes ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Ketika membicarakan perekonomian Kalimantan Tengah, perhatian publik biasanya tertuju pada sektor-sektor besar seperti perkebunan sawit, pertambangan, perdagangan, atau usaha konvensional yang memiliki kantor dan lokasi fisik yang jelas.
Namun di balik aktivitas ekonomi yang terlihat tersebut, muncul fenomena baru yang berkembang diam-diam di kalangan generasi muda yaitu ada ekonomi digital berbasis individu yang sering kali tidak terlihat secara kasat mata.
Ekonomi ini tidak memiliki toko besar, papan nama, atau gedung perkantoran. Banyak pelakunya bekerja dari kamar tidur, ruang tamu, coffee shop, bahkan dari desa-desa yang memiliki akses internet memadai. Mereka berprofesi sebagai desainer grafis, editor video, penerjemah, kreator konten, admin media sosial, pengajar daring, penulis lepas, fotografer, pengembang website, hingga pelaku pemasaran afiliasi dan bisnis digital lainnya.
Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di kota-kota besar Indonesia. Di Kalimantan Tengah, semakin banyak anak muda yang memperoleh penghasilan dari pekerjaan berbasis internet tanpa harus meninggalkan daerah asal mereka. Perubahan ini menjadi salah satu tanda bahwa struktur ekonomi generasi muda sedang mengalami transformasi.
Menurut laporan Google, Temasek, dan Bain & Company dalam e-Conomy SEA 2024, nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai US$90 miliar pada tahun 2024 dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Laporan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berbasis digital terus berkembang melalui perdagangan elektronik, layanan digital, media online, dan berbagai pekerjaan yang memanfaatkan internet sebagai sarana utama. Pertumbuhan ini membuka peluang yang semakin luas bagi generasi muda di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Tengah.
Sementara itu, menurut Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat penetrasi internet Indonesia telah mencapai 72,78 persen pada 2024. Akses internet yang semakin luas memungkinkan masyarakat, termasuk di luar Pulau Jawa, untuk terhubung dengan pasar kerja nasional maupun global tanpa harus berpindah tempat tinggal. Dengan kata lain, lokasi geografis kini semakin berkurang pengaruhnya terhadap peluang ekonomi seseorang.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Siti Nurjanah dan tim dalam Jurnal Ekonomi dan Bisnis Digital, ekonomi digital telah menciptakan model pekerjaan baru yang tidak bergantung pada struktur perusahaan konvensional. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa individu kini dapat memperoleh pendapatan secara mandiri melalui platform digital, jasa kreatif, maupun layanan berbasis teknologi tanpa harus bekerja dalam sistem kerja tradisional.
Fenomena ini mulai terlihat di kalangan anak muda Kalimantan Tengah. Banyak lulusan SMA, mahasiswa, maupun pekerja muda yang memiliki sumber pendapatan tambahan dari aktivitas digital. Sebagian bekerja sebagai freelancer untuk klien di Jakarta, Surabaya, bahkan luar negeri. Ada pula yang membangun usaha kecil berbasis media sosial atau menjual produk digital secara daring.
“Sekarang banyak teman saya yang punya penghasilan dari editing video atau desain. Kadang orang tua mereka juga tidak terlalu tahu pekerjaan itu seperti apa, karena semuanya dilakukan lewat laptop,” kata Yoga Saputra, mahasiswa di Palangka Raya.
Menariknya, ekonomi digital ini sering kali tidak terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Berbeda dengan usaha konvensional yang memiliki bangunan fisik, aktivitas ekonomi digital berlangsung di ruang virtual. Akibatnya, kontribusinya terhadap ekonomi lokal sering kali kurang disadari oleh masyarakat.
Menurut penelitian McKinsey Global Institute, digitalisasi memungkinkan individu menjadi pelaku ekonomi yang lebih mandiri melalui akses terhadap pasar, pelanggan, dan jaringan profesional yang sebelumnya sulit dijangkau. Teknologi memungkinkan seseorang di daerah untuk menawarkan jasa dan produk kepada konsumen yang berada ratusan bahkan ribuan kilometer jauhnya.
Di Kalimantan Tengah, perkembangan ini berpotensi menciptakan peluang baru bagi generasi muda. Selain memberikan sumber penghasilan tambahan, ekonomi digital juga dapat mengurangi ketergantungan terhadap lapangan kerja yang terbatas di sektor formal. Anak muda tidak lagi hanya menunggu lowongan pekerjaan, tetapi dapat menciptakan peluang ekonomi mereka sendiri.
Namun para ahli juga mengingatkan bahwa ekonomi digital memiliki tantangan tersendiri. Persaingan berlangsung secara global, sehingga keterampilan menjadi faktor utama. Kemampuan berbahasa asing, penguasaan teknologi, kreativitas, serta kemampuan membangun jaringan profesional menjadi modal penting untuk bertahan dan berkembang.
Menurut penelitian World Economic Forum mengenai masa depan pekerjaan, keterampilan digital, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi akan menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dalam dekade mendatang. Generasi muda yang mampu menguasai keterampilan tersebut diperkirakan akan memiliki peluang lebih besar dalam ekonomi digital yang terus berkembang.
Bagi Kalimantan Tengah, fenomena ini menunjukkan bahwa perubahan ekonomi tidak selalu datang dalam bentuk investasi besar atau pembangunan kawasan industri. Sebagian perubahan justru lahir dari ribuan anak muda yang bekerja secara mandiri melalui perangkat digital mereka setiap hari.
Pertanyaan apakah anak muda Kalteng sedang menciptakan ekonomi baru yang tidak terlihat tampaknya mulai menemukan jawabannya. Di balik layar komputer, ponsel, dan koneksi internet, muncul generasi baru yang menghasilkan nilai ekonomi tanpa batas geografis. Mereka mungkin tidak memiliki kantor megah atau toko besar di pinggir jalan, tetapi aktivitas mereka perlahan membentuk wajah baru perekonomian daerah.
Jika tren ini terus berkembang, maka masa depan ekonomi Kalimantan Tengah tidak hanya ditentukan oleh apa yang terlihat di lapangan, tetapi juga oleh apa yang sedang dikerjakan anak-anak mudanya di ruang digital yang sering kali luput dari perhatian. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel








Comments