Karhutla Merembet, Pondok Kayu Dua Lantai di Sampit Ludes Terbakar
- Fransisca Fethy Angelina
- 3 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali berdampak langsung terhadap warga di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sebuah pondok kayu berlantai dua di kawasan Jalan MT Haryono Barat, tepatnya di belakang Werra, Kelurahan Mentawa Baru Hulu, ludes terbakar setelah api dari lahan gambut merembet ke bangunan, Kamis (27/8/2026).
Kebakaran terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, kobaran api dari lahan yang terbakar bergerak menuju kawasan pondok hingga akhirnya membakar seluruh bangunan. Tidak ada penghuni di dalam pondok ketika kejadian sehingga tidak ada korban jiwa.
Lurah Mentawa Baru Hulu, Iwansyah, mengatakan dirinya bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) saat itu sedang melakukan pemadaman di lokasi karhutla lain di sekitar belakang Perumahan Borobudur.
“Tiba-tiba kami mendapat informasi api dari kawasan belakang Werra merembet dan mengenai pondok warga. Saat itu kami masih fokus melakukan pemadaman di dekat permukiman,” ujarnya.
Menurut Iwansyah, pondok tersebut merupakan bangunan kayu yang biasa digunakan warga sebagai tempat singgah sekaligus untuk menjaga dan melakukan aktivitas di sekitar kebun. Material bangunan yang sebagian besar berbahan kayu membuat api dengan cepat membesar dan menghanguskan seluruh bangunan.
Ia menyebut kawasan belakang Werra bukan kali pertama mengalami kebakaran. Dalam beberapa pekan terakhir, sejumlah titik di kawasan tersebut beberapa kali terbakar dan sempat dilakukan pemadaman.
Namun, kondisi lahan gambut menjadi tantangan tersendiri karena api dapat bertahan di bawah permukaan meski kobaran di atas tanah telah padam.
“Lahan gambut memang sulit dipastikan benar-benar padam. Bisa saja di permukaan sudah dingin, tetapi di bawah masih ada bara. Ketika cuaca panas dan ada angin, api bisa muncul lagi,” katanya.
Tim gabungan bersama relawan kemudian melakukan penanganan untuk mencegah api meluas ke bangunan lain maupun permukiman warga.
Pada hari yang sama, petugas juga menangani kebakaran lahan di belakang Perumahan Borobudur. Lokasi tersebut berjarak sekitar 100 meter dari rumah warga sehingga penanganan dilakukan untuk mencegah api mendekati permukiman.
“Alhamdulillah setelah magrib api sudah bisa dikendalikan, meskipun masih ada sisa asap di lokasi,” ucap Iwansyah.
Di tengah tingginya ancaman karhutla, MPA Mentawa Baru Hulu masih menghadapi keterbatasan sarana operasional. Saat ini, mereka hanya mengandalkan dua unit alkon dan dua kendaraan Tosa untuk mendukung pemadaman.
Namun, satu kendaraan Tosa belum dapat digunakan karena keterbatasan bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut membuat relawan harus mencari sumber air secara mandiri dari parit menggunakan alkon, kemudian memindahkannya ke tangki Tosa.
Keterbatasan tersebut menjadi kendala ketika terjadi kebakaran dengan skala lebih besar. MPA masih dapat menangani kebakaran kecil dan melakukan proses pendinginan, tetapi membutuhkan dukungan tambahan ketika api sulit dikendalikan.
“Kami masih bisa menangani api skala kecil dan pendinginan. Tapi kalau kebakaran besar, kami harus segera meminta bantuan BPBD,” tegasnya.
Iwansyah berharap dukungan pemerintah terhadap kelompok MPA dapat ditingkatkan, terutama berupa tambahan peralatan operasional dan BBM.
Menurutnya, dukungan tersebut penting agar relawan dapat bergerak lebih cepat ketika kebakaran terjadi, khususnya di kawasan yang berdekatan dengan permukiman warga. Dengan penanganan lebih awal, potensi api merembet ke bangunan dan menimbulkan kerugian dapat ditekan. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments