top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Kabut Asap Pekat Selimuti Barsel, PM10 Capai 1.000 µg/m³

15 hours ago
2 min read
Tim sedang memadamkan kebakaran hutan dan lahan menyelimuti wilayah Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Foto: Istimewa).
Tim sedang memadamkan kebakaran hutan dan lahan menyelimuti wilayah Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. (Foto: Istimewa).

KALTENG NETWORK, BUNTOK – Kabut asap pekat menyelimuti Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah, akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Tingginya jumlah titik panas dan konsentrasi partikulat udara menjadi perhatian karena berdampak pada kualitas udara di wilayah tersebut.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In’Yulius, mengatakan kondisi tersebut diketahui berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sanggu pada Jumat (9/10/2026).


Berdasarkan pemantauan pada pukul 06.00 WIB, terdeteksi 383 titik panas atau hotspot. Kecamatan Dusun Selatan menjadi salah satu wilayah yang masih memiliki banyak titik panas.


Data Sistem Pemantauan Karhutla (Sipongi) Kementerian Kehutanan mencatat sejumlah desa di Barsel memiliki akumulasi titik panas tinggi selama periode 1 Agustus hingga 8 Oktober 2026. Desa Madara mencatat 1.567 titik, Sungai Jaya 1.256 titik, Kalahien 1.038 titik, Marawan Lama 744 titik, dan Kelurahan Mangkatip 344 titik.


Sementara itu, data Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) Eropa mengenai sebaran aerosol, yakni partikel halus seperti asap dan debu di udara, menunjukkan konsentrasi tinggi di sejumlah wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan.


“Dari data tersebut, sumber api dinilai memang berasal dari wilayah Barsel, lalu asapnya menyebar ke daerah lain yang titik panasnya sedikit atau tidak ada sama sekali,” ujar Agus.


Ia juga menyebutkan kecepatan angin di Barsel berkisar 2–5 knot atau sekitar 3,7–9,3 kilometer per jam. Berdasarkan rangkaian data tersebut, BPBD menilai banyaknya titik api di wilayah Barsel menjadi faktor utama yang memicu kabut asap.


Kondisi kualitas udara turut menjadi perhatian serius. Berdasarkan data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada Jumat pukul 07.00 WIB, konsentrasi partikulat PM10 tercatat mencapai 1.000 mikrogram per meter kubik (µg/m³), sedangkan PM2.5 mencapai 659 µg/m³.


Tingginya konsentrasi kedua jenis partikulat tersebut menunjukkan kondisi udara yang sangat tercemar dan berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat. Data yang disampaikan menyebutkan kualitas udara berada pada kategori berbahaya, dengan konsentrasi PM10 jauh melampaui ambang 300 µg/m³ yang disebutkan.


Menghadapi kondisi tersebut, Agus mengimbau masyarakat dan seluruh pihak meningkatkan kewaspadaan serta berperan aktif mencegah meluasnya karhutla. Menurutnya, pencegahan kebakaran bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan petugas di lapangan, tetapi juga membutuhkan kepedulian masyarakat.


“Kami mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau indikasi kebakaran di lingkungan sekitar,” katanya.


Agus turut mengingatkan masyarakat yang beraktivitas di sekitar lahan gambut agar lebih berhati-hati, terutama di tengah cuaca kering. Ia menyebutkan kebakaran yang berulang di lokasi yang sama perlu menjadi perhatian karena dapat dipicu oleh kelalaian maupun unsur kesengajaan.


Ia berharap seluruh pihak meningkatkan pengawasan terhadap lingkungan masing-masing untuk menekan risiko kebakaran sekaligus mengurangi dampak kabut asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat di Barito Selatan.


-red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page