Gubernur Kalteng Hadiri Ritual Dewa Yadnya, Mohon Hujan di Tengah Ancaman Karhutla
- Fransisca Fethy Angelina
- 2 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Gubernur Kalimantan Tengah (Kalteng) Agustiar Sabran menghadiri Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya yang digelar di Lapangan Rektorat Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Tampung Penyang Palangka Raya, Kamis (3/9/2026).
Ritual tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon turunnya hujan sekaligus keselamatan dan perlindungan bagi masyarakat Kalteng di tengah musim kemarau serta ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan kabut asap.
Agustiar mengapresiasi IAHN Tampung Penyang Palangka Raya serta seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan ritual tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat dalam menghadapi persoalan yang terjadi di daerah.
“Semangat kebersamaan dalam kegiatan ini mencerminkan kepedulian masyarakat terhadap kebaikan Kalimantan Tengah. Berbagai unsur hadir dengan niat dan harapan yang sama. Doa disampaikan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing,” tutur Agustiar.
Ia menegaskan, doa perlu berjalan beriringan dengan tindakan nyata dalam menghadapi musim kemarau dan mencegah karhutla. Pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dunia usaha, dan masyarakat diminta terus memperkuat sinergi.
“Doa harus seiring dengan ikhtiar. Pemerintah bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dunia usaha, dan masyarakat harus terus bersinergi. Pencegahan perlu menjadi prioritas, termasuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar,” tegasnya.
Agustiar juga meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan potensi kebakaran maupun titik api agar dapat ditangani sedini mungkin.
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan dan mencegah karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Perlindungan hutan, sumber air, serta pencegahan kebakaran membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
“Menjaga Kalimantan Tengah bukan hanya tugas pemerintah. Setiap orang perlu berperan sesuai dengan tanggung jawabnya. Perlindungan hutan dan sumber air serta pencegahan kebakaran adalah tanggung jawab bersama,” jelasnya.
Agustiar berharap doa yang dipanjatkan dalam ritual tersebut dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam penanganan karhutla. Ia juga berharap hujan segera turun sehingga kondisi lingkungan dan kualitas udara dapat membaik.
“Setelah berbagai langkah dilakukan di lapangan, ikhtiar juga diperkuat melalui doa. Keduanya perlu berjalan beriringan dan saling melengkapi. Semoga doa yang disampaikan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, hujan segera turun, serta Kalimantan Tengah senantiasa mendapat perlindungan, keselamatan, dan keberkahan,” pungkasnya.
Sementara itu, Rektor IAHN Tampung Penyang Palangka Raya, Tiwi Etika, mengapresiasi kehadiran dan dukungan Gubernur Kalteng terhadap pelaksanaan ritual tersebut.
Tiwi menjelaskan, Ritual Memohon Hujan Dewa Yadnya melibatkan tiga tradisi Hindu yang berkembang di Kalteng, yakni Bali, Dayak Ngaju, dan Dayak Barito.
“Dalam tradisi Hindu terdapat beragam tradisi yang menjadi bagian dari identitas masyarakat. Pada ritual ini, kami menghadirkan tiga tradisi, yakni Bali, Dayak Ngaju, dan Dayak Barito. Keterlibatan ketiganya menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun kebersamaan,” terang Tiwi.
Menurutnya, pelaksanaan ritual tidak hanya menjadi bentuk ikhtiar spiritual, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kepedulian terhadap lingkungan dan kebersamaan masyarakat dalam menghadapi dampak musim kemarau.
Ritual Dewa Yadnya tersebut dipimpin Basir Tobbie Suswoyo, Jero Gede Suparman, dan Kandong Ardianto.
Kegiatan turut dihadiri Sekretaris Daerah Provinsi Kalteng Linae Victoria Aden, Plt. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kalteng Lisda Arriyana, unsur Forkopimda Kalteng, kepala perangkat daerah, tokoh agama, tokoh adat, masyarakat, serta sivitas akademika dan mahasiswa IAHN Tampung Penyang Palangka Raya. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments