top of page

Bukan Jalan Aspal, Sungai Jadi Jalur Pendidikan di Pedalaman Kalteng

Anak-anak sekolah di pedalaman Kalimantan Tengah menaiki perahu untuk menempuh perjalanan menuju sekolah melalui jalur sungai. Di sejumlah wilayah terpencil, sungai masih menjadi akses utama pendidikan bagi masyarakat. (Foto: Ilustrasi)
Anak-anak sekolah di pedalaman Kalimantan Tengah menaiki perahu untuk menempuh perjalanan menuju sekolah melalui jalur sungai. Di sejumlah wilayah terpencil, sungai masih menjadi akses utama pendidikan bagi masyarakat. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Kalau kamu pernah ke pedalaman Kalimantan Tengah, sungainya bukan hanya untuk dilewat. Di sana, sungai itu digunakan sebagai jalan utama, pasar, tempat kumpul, dan tempat buat ribuan anak yang tinggal jauh dari pusat kota.


Di wilayah seperti Barito, Kapuas, Murung Raya, atau pedalaman Kotawaringin, anak-anak pagi-pagi akan menaik kelotok atau perahu kecil, menyusuri sungai puluhan menit bahkan sampai berjam-jam hanya untuk sampai ke kelas. Di pedalaman Kalteng, kelas bisa terapung di atas air, ikut kemana arus sungai membawa.


Peta wilayahnya juga tidak main-main. Kalimantan Tengah merupakan provinsi terbesar di Indonesia, luasnya lebih dari 153 ribu kilometer persegi. Banyak desa yang terpisah oleh hutan, rawa, dan sungai lebar. Bayangin aja.


Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, urusan pemerataan fasilitas pendidikan di Kalteng masih jadi PR besar. Statistik Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah 2024 menunjukkan, belum semua wilayah memiliki sekolah dan guru yang merata. Di banyak desa, guru harus naik perahu tiap hari buat mengajar. Kalau musim hujan, air sungai naik dan perjalanan makin berbahaya. Saat kemarau, sungai jadi dangkal, kelotok pun susah jalan.


Uniknya, sungai yang jadi kendala malah berubah jadi ruang belajar unik buat anak-anak. Mereka di bantaran sungai tumbuh sambil belajar baca arus, mengawasi cuaca, dan kenal alam sejak kecil. Jadi, sekolah formal, pengetahuan lokal, dan pengalaman hidup, semuanya berjalan bersama-sama.


“Kalau air naik besar, anak-anak kadang telat masuk sekolah karena perahu susah bersandar,” cerita seorang guru di pedalaman Kapuas.


Masalah lain yang bisa ditemukan yaitu mengenai akses digital. Di kota sudah menggunakan internet dan belajar online. Di pedalaman, sinyal susah, listrik juga tidak selalu hidup.


Jika kita lihat secara data nasional BPS, makin bagus akses pendidikan, makin tinggi peluang masyarakat buat naik kelas ekonomi dan sosial.


Tapi pendidikan sungai di Kalteng bukan cuma tentang sulitnya hidup. Ada semangat luar biasa yang sering tidak kelihatan dari luar. Di beberapa tempat, sekolah udah pakai perpustakaan keliling, belajar menggunakan budaya lokal asli disana, atau belajar konteks alam sungai. Anak-anak tidak sekadar diajar baca-tulis, tapi juga diajak ngerti ekosistem hutan, budaya Dayak, dan kehidupan masyarakat sungai.


Model kayak pembelajaran seperti ini ternyata sangat penting, karena pendidikan pedalaman tidak akan bisa disamakan seperti di kota-kota besar. Para ahli pendidikan bilang, belajar yang berdasarkan lingkungan lokal bisa dapat membuat siswa lebih betah di sekolah dan sekaligus menjaga budaya mereka.


Akan tetapi, pembangunan infrastruktur harus tetap dikejar. Jalan, internet, listrik, dan transportasi sekolah jadi kunci supaya gap pendidikan antara kota dan pedalaman tidak semakin melebar.


Jika pembangunan hanya berpusat di kota, anak-anak yang tinggal di perairan sungai akan terus ketinggalan. Namun jika pedalaman mulai dianggap penting oleh pemerintah, sungai bisa jadi jalur harapan, bukan cuma simbol orang terisolasi.


Di tengah deras arus dan jauh perjalanan, anak-anak itu tetap berangkat sekolah tiap pagi. Buat mereka, sekolah itu bukan soal gedung bagus atau teknologi canggih, tapi tentang tekad buat sampai ke masa depan meski harus menyeberangi sungai dulu. -red Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hana

Comments


bottom of page