top of page

Search Results

2812 results found with an empty search

  • Anggota DPRD Mura Menampung Aspirasi Masyarakat Saat Kunjungan Reses di Desa Muara Sompoi

    Foto: RAKYATKALTENG.com KALTENGNETWORK, PURUK CAHU - Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya, Imanuddin, S.Pd.I, melaksanakan kegiatan reses Masa Sidang III Tahun 2025 di Desa Muara Sompoi, Kecamatan Murung, pada Sabtu (18/10/2025). Acara yang bertempat di Kantor Desa Muara Sompoi ini melibatkan berbagai perwakilan masyarakat.Sebagai agenda tahunan, reses ini bertujuan untuk mengumpulkan dan menampung keinginan masyarakat dari daerah pemilihan masing-masing. Nanti, masukan tersebut akan dirumuskan menjadi Pokok Pikiran (Pokir) DPRD dan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Murung Raya. Imanuddin, yang berasal dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), menegaskan komitmen seluruh anggota DPRD Murung Raya untuk menampung dan menindaklanjuti setiap keluhan dan usulan dari warga. “Kami sebagai wakil rakyat akan berjuang mewujudkan harapan masyarakat sesuai dengan kondisi riil di lapangan, sehingga dapat diimplementasikan oleh Pemerintah Kabupaten Murung Raya,” tutur Imanuddin. Ia menekankan bahwa pelaksanaan reses ini merupakan kesempatan berharga untuk memastikan setiap saran masyarakat tidak hanya didengar, melainkan juga diperjuangkan demi kemajuan daerah. “Diharapkan reses tahun ini dapat menghasilkan banyak masukan, khususnya mengenai pengembangan infrastruktur, pendidikan, layanan kesehatan, keagamaan, dan peningkatan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat,” imbuhnya. Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Muara Sompoi, Jamrani, Ketua BPD, tokoh masyarakat, tokoh agama, perwakilan pemuda, dan warga desa. Jamrani, Kepala Desa Muara Sompoi, menyambut positif pelaksanaan reses ini dan berharap adanya dampak positif bagi warga desa. “Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan Bapak Imanuddin. Reses ini memberikan wadah bagi masyarakat untuk menyampaikan kebutuhan dan harapan secara langsung. Semoga aspirasi yang disampaikan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama dalam pembangunan infrastruktur dan peningkatan kualitas pelayanan publik,” kata Jamrani. Melalui kegiatan ini, DPRD Kabupaten Murung Raya berupaya menjalin komunikasi yang lebih baik dengan masyarakat dan memastikan bahwa aspirasi yang terkumpul dapat menjadi landasan dalam perumusan kebijakan pembangunan yang lebih efektif. -red

  • Pengawasan Orang Asing, Katingan Perkuat Sinergi Antarinstansi Lewat Rapat TIMPORA 2025

    KALTENGNETWORK, KASONGAN - Untuk meningkatkan sinergi pengawasan orang asing di Kabupaten Katingan, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) setempat mengikuti Rapat Tim Pengawasan Orang Asing (TIMPORA) Tahun 2025 yang diadakan oleh Kantor Imigrasi Kelas II TPI Sampit di Aquarius Boutique Hotel Sampit pada Selasa, 4 November 2025. Pemkab Katingan diwakili oleh Analis Kebijakan Ahli Pertama dan Penata Layanan Operasional Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Konflik dari Kesbangpol. Rapat ini juga dihadiri oleh berbagai instansi penting, termasuk Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Kalimantan Tengah, Kejaksaan Negeri Katingan, Dinas Perindustrian, Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Badan Intelijen Daerah (BINDA) Kabupaten Katingan, Kepolisian Resor Katingan, Komando Distrik Militer 1019/Katingan, serta perwakilan dari Alat Angkut Laut Sampit. Menurut Kepala Kesbangpol Katingan, Robi, rapat TIMPORA ini bertujuan untuk memperluas pemahaman publik tentang keberadaan dan aktivitas orang asing di Kabupaten Katingan, sekaligus memperkuat fungsi TIMPORA dalam mengumpulkan, mengelola, dan bertukar informasi antar instansi. "Rapat ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta kedaulatan negara, terutama di daerah perbatasan dan lintas wilayah," tambah Robi. Diharapkan, melalui kegiatan ini, setiap instansi dapat meningkatkan koordinasi lintas sektor untuk memastikan pengawasan aktivitas orang asing dilakukan secara menyeluruh, terpadu, dan berbasis data. Rapat tersebut juga menekankan perlunya pengembangan sistem deteksi dini dan pelaporan cepat terkait potensi pelanggaran keimigrasian, seperti penyalahgunaan visa dan aktivitas ekonomi ilegal yang melibatkan warga negara asing. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan Pemkab Katingan bersama aparat terkait untuk memastikan kehadiran orang asing di Katingan terkendali, memberikan manfaat, dan tidak mengancam keamanan nasional maupun stabilitas sosial ekonomi masyarakat. -red

  • Ketua DPRD Katingan Ajak Generasi Muda Menghidupkan Semangat Juang di Hari Pahlawan

    KALTENG NETWORK, KASONGAN - Ketua DPRD Kabupaten Katingan, Marwan Susanto, menghadiri upacara peringatan Hari Pahlawan ke-79 pada Minggu (10/11/2024) di halaman Kantor Bupati Katingan. Upacara tersebut berlangsung dengan khidmat, mengingatkan seluruh peserta tentang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Dalam sambutannya, Marwan menekankan pentingnya peringatan Hari Pahlawan sebagai momen untuk menanamkan semangat juang kepada generasi muda. “Hari Pahlawan ini bukan hanya sekadar peringatan, tetapi harus dimaknai sebagai panggilan untuk meneladani perjuangan para pahlawan. Generasi muda memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan cita-cita mereka dalam membangun bangsa,” ujarnya. Sebagai politikus PDI Perjuangan, Marwan mengajak generasi muda untuk mempelajari dan menghargai sejarah bangsa. Ia menegaskan bahwa pemahaman tentang perjuangan para pahlawan sangat penting untuk membentuk karakter yang tangguh, berintegritas, dan cinta tanah air. “Hari Pahlawan adalah momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air. Generasi muda harus memahami bahwa perjuangan para pahlawan dahulu adalah fondasi bagi kehidupan kita hari ini. Kini, tugas kita adalah melanjutkan perjuangan itu dengan kontribusi nyata bagi bangsa,” lanjutnya. Marwan juga mendorong agar semangat Hari Pahlawan menjadi inspirasi untuk bersinergi dalam membangun daerah dan bangsa. “Semangat juang para pahlawan harus kita wujudkan dalam aksi nyata. Generasi muda, dengan segala kreativitas dan potensinya, harus mengambil peran aktif dalam membangun daerah, menciptakan inovasi, dan menjaga persatuan,” tegasnya. Ia berharap peringatan Hari Pahlawan dapat menjadi momentum untuk memperkuat rasa kebangsaan dan semangat juang, khususnya di kalangan anak muda. “Mari kita ajarkan kepada generasi muda bahwa pahlawan bukan hanya mereka yang berjuang di medan perang, tetapi juga mereka yang memberikan kontribusi besar untuk kemajuan bangsa di masa kini,” pungkas Marwan. Dengan menghidupkan semangat juang para pahlawan, Marwan yakin generasi muda Katingan dapat menjadi agen perubahan yang membawa kemajuan bagi masyarakat dan bangsa. “Semangat Hari Pahlawan harus menjadi bahan bakar bagi kita semua untuk terus berjuang demi kesejahteraan dan kemajuan bersama,” tutupnya. -red

  • DPRD Katingan Apresiasi atas Prestasi Guru dalam Jambore di Kalteng

    KALTENG NETWORK, KASONGAN - Ketua DPRD Kabupaten Katingan, Marwan Susanto, memberikan apresiasi kepada Kepala Sekolah (Kepsek) dan guru-guru Kabupaten Katingan yang berhasil meraih prestasi dalam Jambore Guru dan Tenaga Pendidik (GTK) Hebat tingkat Provinsi Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Marwan mengungkapkan kebanggaannya atas pencapaian tersebut, yang berhasil mengharumkan nama guru-guru di Kabupaten Katingan. "Kami dari DPRD sangat mengapresiasi pencapaian ini, semoga mereka dapat mempertahankan prestasi tersebut ke depannya," kata Marwan, Kamis (14/11/2024) di Kantor DPRD Katingan. Prestasi yang diraih oleh peserta GTK dari Kabupaten Katingan ini merupakan hasil dari lomba yang diselenggarakan oleh Balai Guru Penggerak Provinsi Kalimantan Tengah dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional (HGN) ke-80. Syaiful, Kepala Sekolah SMPN 3 Katingan Kuala, dan Niko, guru dari SMPN 3 Katingan Hulu, berhasil meraih prestasi membanggakan tersebut. Menurut Marwan, prestasi ini mencerminkan kualitas pendidikan di Kabupaten Katingan, mengingat para peserta harus bersaing dengan guru-guru dari berbagai kabupaten lainnya. Marwan berharap prestasi yang diraih oleh kedua tenaga pendidik ini dapat menjadi contoh dan motivasi bagi kepala sekolah dan guru-guru di Katingan untuk meningkatkan kapasitas diri mereka dan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Setelah meraih juara pertama di tingkat provinsi, kedua guru ini akan melaju ke lomba Jambore GTK tingkat nasional. "Semoga mereka dapat memberikan yang terbaik di tingkat nasional dan membawa nama harum Kabupaten Katingan serta Provinsi Kalimantan Tengah," harap Marwan. -red

  • Makanan Kemasukan Semut, Aman Gak Sih Dimakan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

    Ilustrasi: semut mengerubungi gula (AI generated) KALTENGNETWORK- Pernah menemukan semut mengerubungi makanan atau minuman yang baru ditinggal sebentar? Banyak orang langsung bingung: masih aman dimakan atau sebaiknya dibuang saja? Jawabannya ternyata tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Secara umum, makanan yang hanya kemasukan beberapa semut belum tentu langsung berbahaya. Namun secara ilmiah, semut memang diketahui dapat membawa berbagai mikroorganisme dari lingkungan sekitarnya. Semut Bisa Membawa Bakteri Beberapa penelitian menemukan bahwa semut rumah dapat membawa bakteri pada permukaan tubuhnya setelah berjalan di berbagai tempat seperti lantai, saluran air, tempat sampah, hingga area lembap. Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMC Research Notes menemukan bahwa semut dapat membawa berbagai jenis bakteri patogen maupun potensial patogen, termasuk bakteri yang berkaitan dengan gangguan pencernaan dan infeksi tertentu. Penelitian lain di rumah sakit São Paulo, Brasil, bahkan menemukan semut membawa bakteri seperti Staphylococcus aureus, Streptococcus, hingga Klebsiella. Karena itulah, semut dianggap dapat menjadi “vektor mekanis”, yaitu organisme yang memindahkan mikroba dari satu tempat ke tempat lain. Tapi Kalau Cuma Satu-Dua Semut? Meski terdengar mengkhawatirkan, risiko nyata tergantung pada kondisi makanannya. Jika hanya ada satu atau dua semut yang baru sebentar menyentuh makanan kering seperti roti atau kerupuk, kemungkinan risikonya relatif kecil. Namun jika semut sangat banyak atau makanan sudah terbuka lama, risiko kontamintasi akan meningkat. Kenapa Semut Suka Makanan Manis? Secara biologis, semut sangat tertarik pada gula karena menjadi sumber energi cepat bagi koloninya. Mereka menggunakan feromon untuk memberi “jalur” kepada semut lain menuju sumber makanan. Menariknya, penelitian juga menunjukkan semut memiliki hubungan yang sangat kompleks dengan mikroba dan bakteri di lingkungannya. Beberapa spesies bahkan hidup berdampingan dengan bakteri tertentu dalam sistem biologis mereka. Namun mikroba alami pada tubuh semut belum tentu aman bagi manusia, apalagi jika semut sebelumnya berkontak dengan permukaan kotor. Jadi, Sebaiknya Dimakan atau Tidak? Kalau makanannya masih terlihat bersih dan hanya disentuh sedikit semut, banyak orang biasanya cukup membuang bagian yang terkena. Tetapi dari sudut pandang keamanan pangan, pilihan paling aman tetap menghindari makanan yang sudah terkontaminasi banyak serangga. Jika Semutnya Ikut Termasak Bersama Makanan? Kalau semutnya ikut termasak, umumnya jauh lebih aman. Karena proses pemanasan seperti merebus, menggoreng, atau memanggang bisa membunuh sebagian besar bakteri dan mikroorganisme yang mungkin dibawa semut. Makanya secara teknis, misalnya ada semut yang masuk saat masak, risiko penyakitnya biasanya rendah selama makanan dimasak matang dengan baik. Fakta uniknya, semut mengandung protein, lemak dan mineral tertentu, bahkan dimakan sebagai pangan tradisional! Pada akhirnya, semut memang tidak otomatis membuat makanan “beracun”. Namun secara ilmiah, mereka juga bukan tamu yang higienis di atas makanan kita. -red Penulis : Ivonne Hana Editor : Emuna Asie

  • Fakta Soal Warna Hijau, Kenapa Banyak Brand Raksasa Pakai Warna Ini?

    Ilustrasi: Berbagai warna hijau (AI generated) KALTENGNETWORK- Jika diperhatikan, cukup banyak brand besar dunia yang menggunakan warna hijau sebagai identitas utama mereka. Mulai dari perusahaan teknologi, makanan dan minuman, layanan keuangan, hingga marketplace, warna hijau seolah punya tempat spesial di dunia branding. Lalu, sebenarnya apa yang membuat warna hijau begitu menarik bagi brand? Ternyata, ada penjelasan ilmiahnya! Mata Manusia Paling Sensitif terhadap Spektrum Hijau Mata manusia dapat menangkap cahaya tampak dengan panjang gelombang sekitar 380 hingga 700 nanometer. Dari seluruh spektrum warna tersebut, hijau berada di kisaran 495–570 nanometer. Hijau menjadi salah satu warna yang paling mudah ditangkap oleh mata manusia. Hal ini berkaitan dengan cara kerja retina manusia. Di dalam mata terdapat sel fotoreseptor bernama cone cells yang bertugas mendeteksi warna. Menariknya, cone cells manusia paling responsif terhadap cahaya pada spektrum hijau. Dekat dengan Alam Sejak Zaman Purba Selama ribuan tahun, manusia hidup berdampingan dengan alam yang didominasi warna hijau dari berbagai tumbuhan. Karena itu, otak manusia secara alami mengasosiasikan hijau dengan lingkungan yang aman, subur, dan mendukung kehidupan. Tidak heran jika warna hijau sering memberi efek yang lebih menenangkan dibanding merah yang cenderung memicu kewaspadaan atau biru tua yang terasa formal. Kenapa Brand Suka Memakai Hijau? Karena nyaman di mata, hijau menjadi pilihan ideal bagi banyak perusahaan yang ingin terlihat ramah dan mudah diakses. Pada aplikasi seperti WhatsApp, hijau membantu menciptakan kesan komunikasi yang santai dan personal. Sementara Grab menggunakan hijau untuk memberi kesan aman dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, Spotify memakai hijau terang agar terlihat energik, muda, dan mudah dikenali di antara aplikasi lain. Bahkan Tokopedia sejak awal menggunakan hijau untuk membangun identitas sebagai platform yang bertumbuh bersama UMKM dan ekonomi digital Indonesia. Tapi Tidak Semua Brand Cocok dengan Hijau Meski punya banyak asosiasi positif, hijau tidak selalu cocok untuk semua identitas brand. Perusahaan yang ingin terlihat agresif dan penuh energi biasanya memilih merah. Brand mewah cenderung memakai hitam atau emas, sementara perusahaan teknologi futuristik lebih sering menggunakan biru atau silver. Pada akhirnya, warna hijau bukan sekadar “warna daun”. Di balik kesan segar dan menenangkan itu, ternyata ada alasan biologis yang membuat manusia memang lebih nyaman melihatnya. -red Penulis : Ivonne Hana Editor : Emuna Asie

  • Era Pasca-Influencer: Ketika Publik Mulai Lebih Percaya Orang Biasa daripada Figur Terkenal

    Ilustrasi proses perekaman konten digital di studio produksi. (Foto: Pexels) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama lebih dari sepuluh tahun, influencer merupakan raja di dunia internet. Mereka yang membuat tren, menentukan gaya hidup, mengatur arah politik, sampai memindahkan jutaan uang lewat bisnis digital. Tapi belakangan, situasinya berubah. Banyak orang mulai merasa bosan sama konten influencer yang terkesan “terlalu rapi,” serba promosi, dan terasa jauh dari kehidupan nyata. Lama-lama, kepercayaan ke mereka pun luntur. Sekarang, semakin banyak yang justru percaya omongan dari orang biasa bahkan lebih dari selebritas dunia maya. Fenomena ini sering disebut “Era Pasca-Influencer.” Pergeseran ini sangat masuk akal, karena semua orang semakin sulit untuk mempercayai figur publik digital. Konten influencer makin menyerupai iklan, hidup mereka kelihatan “sempurna” tetapi justru jadi tidak nyata. Banyak yang akhirnya mencari sesuatu yang lebih polos dan jujur. Video seadanya dari orang biasa, review tanpa sponsor, cerita personal tanpa editan, malah lebih ramai di-like dan dikomentari daripada postingan para influencer. Data dari Edelman Trust Barometer 2024 juga bicara hal yang sama tentang krisis kepercayaan. Menariknya, untuk urusan informasi inovasi dan teknologi, posisi figur otoritas resmi seperti CEO perusahaan (59%), jurnalis (47%), dan pemerintah (50%) mulai tergeser. Masyarakat global justru jauh lebih percaya pada 'orang seperti saya' atau sesama warga net (61%). Bahkan, 74 persen responden secara tegas menyatakan mereka akan langsung berhenti percaya pada ilmuwan atau pejabat pemerintah jika ketahuan berbohong soal inovasi. Di banyak negara, kepercayaan ke sesama individu atau lingkaran terdekat memang sudah jauh lebih tinggi dibanding media dan pemerintah. Ini menjadi bukti bahwa otoritas sosial dunia digital sudah tergantikan. Dulu, orang gampang terpancing rekomendasi selebritas atau institusi besar. Sekarang, pengalaman nyata dari orang biasa lebih penting. Jika reviewnya kelihatan tulus, orang lebih percaya daripada promosi influencer yang terlalu profesional. Tentu, perubahan ini juga karena makin banyak orang skeptis sama dunia influencer marketing. Laporan terbaru Financial Times bilang, hampir 90 persen konten “finfluencer”—influencer di dunia keuangan—kualitas informasinya rendah dan nggak transparan. Banyak yang gak jujur soal risiko, nyaris nggak pernah pakai sumber jelas, bahkan kontennya lebih cari sensasi biar viral. Tidak heran jika publik makin lelah dengan budaya “fake perfect”. Di berbagai medsos, tren konten “anti-perfect lifestyle” justru menjadi perbincangan. Postingan yang agak gelap, suara yang berisik, video tanpa edit malah semakin disukai karena lebih relate dan terasa manusiawi. Generasi Z, yang tumbuh bareng promosi digital dan algoritma medsos, jauh lebih peka sama konten tipu-tipu. Otentisitas jadi kunci. Banyak dari mereka lebih percaya ulasan random dari pengguna biasa daripada promosi selebgram. Lucunya, kemajuan AI justru mempercepat tren ini. Orang makin bingung membedakan mana konten manusia beneran, mana yang full digital. Laporan Reuters 2025 bilang, setengah lebih anak muda sekarang merasa gak nyaman sama AI influencer karena “nggak ada sisi manusianya.” Karena itu, konten dari orang nyata yang terlihat natural makin dihargai, justru karena keasikan dan spontanitasnya nggak bisa ditiru mesin. Dampaknya luas bisa berupa dibidang bisnis, media, sampai politik ikut berubah. Perusahaan tidak lagi selalu mengincar nama besar buat endorse produk. Sebaliknya brand mencari micro creator, pelanggan biasa, atau komunitas kecil yang terasa lebih dekat ke audiens. Di politik, kreator independen gaya santai mulai punya suara lebih kuat dibanding media arus utama. Riset soal politik AS juga mengatakan, social media creator sekarang dapat membentuk sikap politik kepada anak muda lebih efektif lewat pendekatan personal, bukan bahasa formal. Kesimpulannya, 'Era Pasca-Influencer' bukan berarti influencer bakal punah. Mereka masih ada, tapi posisi mereka gak seistimewa dulu. Sekarang, publik lebih cari keaslian, spontanitas, dan cerita personal. Di tengah dunia digital yang makin ramai sama konten “buatan”, justru orang mulai rindu hal sederhana: orang biasa yang kelihatan nyata dan apa adanya. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna

  • Fenomena Negara ‘Zombie Development’: Infrastruktur Mewah, Tapi Penduduknya Kehilangan Ambisi

    Suasana aktivitas karyawan di sebuah perkantoran modern di kawasan pusat bisnis. (Foto: pngtree) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Beberapa tahun belakangan, negara-negara berlomba membangun apa saja yang bisa jadi simbol kemajuan. Gedung pencakar langit menjulang di mana-mana, transportasi makin cepat, kota makin pintar, internet ngebut, dan kawasan bisnis tampil futuristik. Di permukaan, segalanya kelihatan sukses besar. Namun ada sesuatu yang tidak beres, dan makin terlihat dibanyak negara maju maupun negara berkembang: banyak warga, khususnya anak mudanya, mulai kehilangan semangat. Optimisme makin luntur, ambisi mengecil, hidup rasanya seperti berjalan tanpa tujuan. Inilah yang orang sebut “Zombie Development”—negaranya sih kelihatan keren dan maju, tapi masyarakatnya kelelahan, kehilangan gairah hidup, dan bingung arah masa depan. Contohnya jelas di Korea Selatan. Negara ini punya salah satu infrastruktur terbaik di dunia, transportasi super efektif, sampai teknologi yang kadang terasa terlalu cepat untuk diikuti. Akan tetapi, kenyataannya, survei World Happiness Report 2026 malah menempatkan Korea Selatan di urutan ke-67 untuk kebahagiaan hal ini merupakan rangking terendah sepanjang sejarah mereka. Penurunan ini paling terasa di anak muda. Mereka kewalahan menghadapi tekanan kerja, ekonomi yang nggak stabil, ditambah budaya kompetisi ekstrem dari kecil sampai besar. Nggak heran makin banyak yang merasa stres dan lelah hanya untuk sekadar bertahan. Jepang juga tidak jauh beda. Kota-kotanya modern, sistem publik efisien, ekonomi kuat. Tapi fenomena “hikikomori” yaitu anak muda yang memilih mengurung diri dan mengasingkan diri dari masyarakat malah makin meningkat. Data terbaru dari Korea Economic Federation bilang, sekitar 5,2 persen pemuda Korea Selatan usia 19–34 tahun hidup dalam isolasi sosial di tahun 2024, jumlahnya sekitar 538 ribu orang. Penyebab paling besar? Sulitnya mencari kerja dan tekanan finansial. Jadi, pembangunan yang keren tadi sebenarnya nggak otomatis bikin anak mudanya optimis akan masa depan. Dan ini bukan cuma masalah Asia Timur. Di negara-negara kaya lain, seperti Amerika Serikat, Kanada, juga Australia dan Eropa Barat, generasi muda menghadapi paradoks modernitas: hidup di kota pintar, dikelilingi teknologi, tapi makin sepi dan kesepian. Survey World Happiness Report 2026 juga mencatat kebahagiaan anak muda di negara-negara itu turun drastis dalam sepuluh tahun terakhir salah satunya karena tekanan sosial digital, kecemasan ekonomi, dan hubungan sosial yang dangkal atau bahkan hilang sama sekali. Balik lagi ke Korea Selatan, survei 2024 Youth Life Survey menyebut, 32,2 persen anak muda mengalami burnout parah tahun lalu. Sebagian besar karena kekhawatiran soal masa depan dan tekanan pekerjaan. Ditambah lagi, rata-rata utang pemuda melonjak sampai 16,37 juta won sementara biaya hidup terus naik. Di tengah gemerlap kota dan teknologi, banyak anak muda justru merasa makin susah mencapai hidup layak dan stabil. Krisis ini sebenarnya sudah kelihatan dari meroketnya masalah kesehatan mental di berbagai negara maju. Jadi, bangunannya megah dan ekonomi melesat bukan jaminan warganya lebih bahagia. Studi terbaru malah menunjukkan, kebanyakan menghabiskan waktu di media sosial bikin generasi muda makin kesepian, gampang stres, dan tidak puas dengan hidup. Bukannya lebih terkoneksi, banyak yang justru merasa semakin terisolasi secara emosional. Fenomena serupa mulai muncul juga di Indonesia. Dekade ini, jalan tol, bandara, kawasan industri, sampai kota baru bermunculan, otomatis bikin wajah negara jadi lebih keren. Tapi di sisi lain, kecemasan anak muda soal pekerjaan, biaya hidup, dan masa depan ikut meningkat. Banyak yang merasa, laju fisik Indonesia nggak selamanya bikin kualitas hidup mereka lebih baik. Semua ini menunjukkan ada yang kekeliruan dalam cara kita menakar kemajuan. Pemerintah sering kali cuma fokus ke angka investasi, pertumbuhan GDP, atau pembangunan fisik, sementara aspek nonmateri seperti kesehatan mental, rasa aman, relasi sosial, dan mimpi masa depan makin lama makin lemah. Zombie Development, ujung-ujungnya, bukan cuma soal negara makin maju secara fisik. Kota-kota jadi makin terang, tapi warganya makin merasa kosong. Infrastruktur kelihatan keren, tapi anak mudanya kelelahan mental dan kehilangan arah. Tantangan terbesar ke depan mungkin bukan cuma membuat negeri makin modern, tapi membangun masyarakat yang kuat harapannya—yang masih mau percaya bahwa hidup layak diperjuangkan. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna

  • Perang Masa Depan Tidak Akan Dimulai dengan Senjata, Tapi dengan Gangguan Distribusi Makanan

    Aktivitas pedagang sayur di pasar tradisional saat menjajakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. (Foto: RRI) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama ini, orang selalu menganggap perang sebagai sesuatu yang dimulai dengan bom, invasi, atau baku tembak antarnegara. Tapi sekarang, bentuknya mulai berubah. Ancaman terhadap negara tidak cuma datang dari kekuatan militer namun juga distribusi pangan pun dapat menjadi senjata. Krisis makanan diam-diam berubah jadi alat geopolitik yang bisa melemahkan negara tanpa satu pun peluru ditembakkan. Setelah pandemi COVID-19 dan berbagai konflik global dalam beberapa tahun terakhir, semua orang mulai sadar betapa rentannya sistem distribusi. Gangguan pengiriman barang dan naiknya biaya logistik bikin harga pangan meningkat. Banyak negara kerepotan bukan karena hasil panen habis, tapi karena distribusinya kacau. Kalau jalur logistik terganggu, efeknya langsung terasa yaitu harga jadi mahal dan ekonomi nasional ikut goyah. Data dari sektor pertanian Indonesia tahun 2025 menunjukkan ketergantungan terhadap impor pangan strategis masih tinggi. Kementerian Pertanian mencatat, impor gandum Indonesia tahun 2024 tembus 12,2 juta ton naik dari sebelumnya sekitar 10,9 juta ton. Impor beras pun ikut meroket jadi lebih dari 4 juta ton. Semua itu memperlihatkan betapa stabilitas pangan Indonesia sangat bergantung pada perdagangan internasional dan jalur distribusi global yang aman. Di sisi lain, konflik geopolitik terbaru semakin memperlihatkan bagaimana pangan dijadikan alat tekanan. Contohnya, gangguan di Selat Hormuz bikin distribusi pupuk global terganggu dan muncul keresahan soal krisis pangan baru. Menteri Luar Negeri Inggris bahkan sudah memperingatkan, krisis pupuk bisa langsung mengancam produksi makanan dunia dan menambah jumlah orang yang rawan pangan. Gangguan distribusi di satu tempat ternyata bisa menimbulkan efek domino ke sistem pangan global. Bukan cuma konflik fisik, ancaman dari segi ekonomi digital juga mulai muncul. Rantai pasok pangan dunia sekarang sangat bertumpu pada logistik modern, pelabuhan digital, data perdagangan, hingga sistem distribusi otomatis. Penelitian terbaru soal kerentanan sistem pangan global menyebutkan, dalam dua dekade terakhir, ketergantungan pada rantai pasok pupuk, energi, dan makanan utama terus meningkat. Bahkan, sampai 22 persen konsumsi kalori dunia bisa lenyap kalau terjadi isolasi perdagangan besar atau gangguan distribusi internasional. Perubahan iklim memperbesar risiko konflik pangan. Gelombang panas, kekeringan, banjir, dan rusaknya lahan pertanian mulai mengganggu produksi makanan di negara-negara penghasil. Contohnya, pada beberapa tahun terakhir Brazil salah satu lumbung pangan dunia yang memproduksi kedelai, jagung, kopi, dan tebu terganggu akibat cuaca ekstrem. Akibatnya, bukan cuma pasar domestik yang terguncang, tapi harga pangan internasional juga ikut naik. Indonesia sendiri cukup rawan terhadap ancaman distribusi pangan karena negeri ini merupakan negara kepulauan. Distribusi bahan pokok sangat tergantung pada jalur laut dan logistik antarpulau. Gangguan kecil di pelabuhan, cuaca buruk, atau masalah distribusi bahan bakar, bisa langsung memengaruhi pasokan makanan di daerah-daerah. Ketergantungan terhadap gandum dan bahan pangan impor bikin Indonesia sensitif banget terhadap konflik global dan naiknya harga internasional. Sekarang, definisi kekuatan negara mulai bergeser. Dulu, kekuatan militer dianggap satu-satunya ukuran keamanan nasional. Tapi di dunia yang semakin penuh ketidakpastian, kemampuan menjaga ketahanan pangan dan distribusi logistik justru jadi kunci. Negara yang gagal menjaga stabilitas distribusi makanan bisa menghadapi lonjakan harga, kepanikan, dan konflik sosial di rumah sendiri. Jadi, perang masa depan mungkin nggak dimulai dengan dentuman senjata atau tank di jalan. Konflik bisa tumbuh pelan-pelan lewat gangguan distribusi makanan, kelangkaan pupuk, permainan perdagangan komoditas, atau naiknya harga kebutuhan sehari-hari yang bikin masyarakat resah. Kalau pangan sudah jadi alat geopolitik, distribusi makanan bukan cuma soal ekonomi. Ini jadi bagian dari strategi pertahanan negara di era modern. Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna

  • Generasi AI Ghost Worker: Kelas Pekerja Bayangan di Balik Revolusi Kecerdasan Buatan

    Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan dan digitalisasi. (Foto: BBC News) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Beberapa tahun terakhir, teknologi kecerdasan buatan atau AI terus berkembang—dan makin banyak orang bicara soal masa depan digital yang cerah. Perusahaan-perusahaan teknologi besar berlomba memperkenalkan sistem AI yang lebih pintar, dari chatbot hingga generator gambar, penerjemah otomatis, sampai teknologi analisis data yang rumit. Tapi, kalau kita lihat lebih dalam, sebenarnya ada sekelompok pekerja yang jarang diperhatikan dan tidak pernah disebut dalam sistem ketenagakerjaan modern. Mereka bekerja diam-diam, tersebar di berbagai negara berkembang, membantu melatih, memperbaiki, dan menjaga sistem AI supaya tetap jalan. Orang-orang seperti ini mulai dikenal sebagai “Generasi AI Ghost Worker.” Mereka jadi tulang punggung perkembangan AI dunia, tapi identitas dan profesinya tetap samar—hampir kayak tak kasatmata. Banyak orang masih percaya bahwa AI itu sudah sepenuhnya otomatis. Kenyataannya, hampir semua sistem AI modern sangat bergantung pada tangan manusia. Di balik jawaban chatbot yang cepat, kemampuan AI membaca gambar atau memahami bahasa, ada jutaan tugas kecil yang dikerjakan manusia setiap hari. Mulai dari memberi label pada data, mengoreksi jawaban AI yang keliru, menyaring konten berbahaya, hingga melatih AI untuk memahami emosi dan bahasa. Semuanya dikerjakan lewat platform outsourcing digital global, sistem kerjanya berbasis microtask dan upahnya rendah. Fenomena ini tumbuh cepat di negara-negara berkembang. Negara seperti India, Filipina, Kenya, dan Indonesia punya banyak tenaga kerja digital dan biaya upah yang murah. Di Indonesia, pekerjaan seperti ini makin sering muncul di platform freelance, grup media sosial, atau situs crowdsourcing luar negeri. Banyak anak muda jadi data annotator, AI trainer, sampai moderator konten, sering tanpa sadar kalau pekerjaan mereka sebenarnya masuk dalam rantai pengembangan teknologi milik perusahaan global. Yang bikin miris, sampai sekarang belum ada data resmi yang benar-benar menggambarkan berapa jumlah pekerja AI informal di Indonesia. Pemerintah juga belum punya klasifikasi pekerja khusus untuk jenis pekerjaan seperti ini. Para ghost worker AI ini memang tidak bisa dibilang pekerja formal, tapi juga tak bisa disamakan dengan pekerja informal pada umumnya. Mereka bekerja secara online, ikut masuk ke ekonomi global, tapi sama sekali tidak punya perlindungan hukum, jaminan sosial, apalagi kepastian soal karier. Maka lahirlah kelas pekerja baru yang posisinya di wilayah abu-abu dalam sistem ketenagakerjaan kita. Sementara perusahaan teknologi di negara maju untung besar bahkan sampai miliaran dolar sehingga ketimpangan justru makin terlihat. Pekerjaan AI yang berat dan monoton dialihkan ke tenaga kerja murah di negara berkembang. Para pekerja digital tiap hari harus menyelesaikan ribuan tugas repetitif dengan bayaran seadanya. Ada juga yang setiap hari berhadapan dengan konten kekerasan, pornografi, dan ujaran kebencian tanpa dukungan mental yang sepadan. Status mereka hanya sebagai pekerja kontrak digital atau freelancer anonim, jadi perlindungan atas kondisi kerjanya hampir nol. Akhirnya muncul ketimpangan baru yang mirip “kolonialisme digital.” Dulu, negara berkembang hanya jadi penyedia bahan mentah. Sekarang, giliran “tenaga” mereka, waktu, perhatian, kemampuan berpikir, dan tenaga kognitif yang terus diekstraksi perusahaan teknologi dunia. Perusahaan-perusahaan ini untung besar, sementara pekerja yang kerja keras di belakang layar, tetap tak dikenali dan tak dapat pengakuan yang layak. Sampai sekarang, pemerintah di banyak negara lebih sibuk pada soal regulasi teknologi, keamanan data, atau ancaman otomatisasi. Padahal, masalah pekerja AI informal ini malah bisa berubah jadi masalah sosial dan ekonomi baru di masa depan. Tanpa aturan jelas, jutaan anak muda bisa terjebak dalam sistem kerja digital bergaji rendah tanpa masa depan karier yang pasti. Indonesia pun berisiko hanya jadi pemasok tenaga kerja AI murah, tanpa banyak mendapat manfaat ekonomi yang benar-benar terasa dari booming industri ini. Pada akhirnya, kemunculan Generasi AI Ghost Worker membuktikan kalau revolusi teknologi tidak benar-benar menghapus peran manusia. Justru perkembangan AI melahirkan jenis pekerjaan baru yang makin tidak tampak. Semakin canggih sistem AI yang kita lihat, semakin banyak juga manusia anonim yang bekerja di belakang layar. Mereka tidak punya kantor besar, profesi resmi, apalagi pengakuan sosial. Tapi, tanpa mereka, sistem AI modern mungkin tidak akan pernah bekerja seperti yang kita kenal sekarang. Bagaimana menurut mu? Sampaikan pendapatmu melalui kolom komentar ini ya! Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna

  • “Quiet Nationalism”: Ketika Anak Muda Mulai Menjauh dari Globalisasi Tanpa Menjadi Nasionalis

    Massa aksi membawa bendera saat demonstrasi berlangsung di pusat kota. (Foto: The Jakarta Post) KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama beberapa dekade, globalisasi selalu dikibarkan sebagai tanda kemajuan zaman. Anak muda disuruh berpikiran luas, kerja lintas negara, mengikuti budaya internasional, dan lain-lain. Tapi, setelah pandemi, ekonomi global goyah, konflik geopolitik makin sering, dan tekanan sosial media nggak kunjung reda, mulai terasa ada perubahan. Anak muda sekarang nggak lagi sepenuhnya percaya dengan cerita indah globalisasi. Tapi lucunya, mereka juga nggak jadi nasionalis garis keras kayak generasi dulu. Di sini, lahir satu tren baru: “Quiet Nationalism” semacam nasionalisme diam-diam, namun tidak heboh. Fenomena ini nggak muncul dalam bentuk demo besar atau gerakan politik. Quiet Nationalism lebih kelihatan dalam pola hidup sehari-hari, pilihan karier, dan gaya konsumsi. Banyak anak muda mulai nggak tertarik lagi sama mimpi global yang dulu dianggap keren. Kerja di perusahaan multinasional, pindah ke luar negeri, atau ikut budaya global, sekarang nggak otomatis jadi tanda sukses. Malah, makin banyak yang pingin hidup lebih lokal, sederhana, dan dekat dengan komunitas sendiri. Kalau dilihat di berbagai negara, bentuknya beda-beda. Di Jepang dan Korea Selatan, misalnya, banyak anak muda meninggalkan impian masuk korporasi besar dan memilih pekerjaan fleksibel, yang dekat dengan lingkungannya. Di Eropa dan Amerika, minat pada produk dalam negeri dan gaya hidup mandiri makin naik. Sementara di Indonesia, anak muda semakin suka bisnis lokal, budaya daerah, dan kerja di komunitas digital kecil, daripada ngejar karier di perusahaan internasional. Yang menarik, semua ini bukan lahir dari semangat patriotisme klasik. Anak muda nggak sepenuhnya menolak budaya asing, teknologi global, atau hubungan internasional. Media sosial global tetap dipakai, budaya luar tetap dinikmati, hubungan dengan dunia luar tetap ada. Tapi secara mental, mereka mulai ragu: bener nggak sih globalisasi kasih rasa aman dan masa depan pasti? Ekonomi susah, biaya hidup naik, persaingan kerja makin berat, dan situasi politik internasional nggak jelas sehingga hal tersebut bikin banyak anak muda merasa sistem global udah nggak memihak lagi. Quiet Nationalism juga muncul karena lelah dengan budaya kompetisi global yang terus digenjot. Bertahun-tahun, mereka dipaksa jadi “warga dunia” yang harus produktif, mobile, dan kompetitif tingkat internasional. Tapi kenyataan setelah pandemi, banyak orang malah merasa makin nggak stabil. Harga kebutuhan melambung, peluang kerja formal berkurang, tekanan media sosial bikin standar hidup makin tinggi dan sulit diraih. Akhirnya, beberapa anak muda mulai mencari rasa aman melalui identitas lokal dan komunitas kecil yang lebih nyata. Di Indonesia sendiri, gejala Quiet Nationalism mulai kelihatan. Semakin banyak yang lebih memilih produk lokal, budaya daerah, dan pekerjaan komunitas digital. Skeptis terhadap perusahaan global ataupun narasi sukses internasional. Kerja di luar negeri atau masuk korporasi besar nggak lagi jadi tujuan hidup utama. Justru, makin banyak yang pilih bangun usaha sendiri, kerja mandiri, atau tinggal sederhana di daerah asal. Quiet Nationalism beda banget dengan nasionalisme tradisional yang identik dengan simbol politik, ideologi negara, atau anti-asing. Fenomena ini jauh lebih personal dan kultural. Bisa dilihat dari keputusan sehari-hari kayak pilih produk lokal, bangun komunitas sendiri, dan ngurangin ketergantungan pada sistem global. Karena nggak heboh dan nggak terorganisasi secara politik, memang sering nggak kelihatan, tapi pengaruhnya udah mulai terasa di perilaku sosial anak muda. Kalau tren ini terus berjalan, dunia bakal masuk era baru pasca-globalisasi. Hubungan internasional masih ada, teknologi global tetap dipakai, tapi kepercayaan emosional ke sistem global pelan-pelan luntur. Anak muda nggak menolak dunia internasional, tapi mereka juga nggak lagi menggantungkan hidup pada globalisasi. Quiet Nationalism jadi bukan sekadar tren, tapi refleksi perubahan psikologis generasi muda yang makin butuh rasa aman, identitas, dan kontrol hidup di tengah dunia yang serba nggak pasti. -red Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna

  • Mau Beli Emas? Ikuti Tips Ini Dulu Biar Gak Boncos

    Ilustrasi: Emas batang, emas digital, dan emas perhiasan (AI generated). KALTENGNETWORK - Di tengah ketidakstablian ekonomi, emas masih jadi komoditi penjaga inflasi yang paling diminati. Harganya yang naik stabil dari tahun ke tahun membuat banyak orang beralih menabung uangnya ke instrumen ini. Sekarang meski harganya sudah sangat naik dibanding beberapa tahun ke belakang, ia kembali booming terutama di kalangan investor muda. Jangan beli emas hanya karena FOMO, perhatikan tips berikut biar nggak boncos, ya, Pembaca Cerdas! Tujuan Beli Emas Kalau mau kaya dalam semalam, jangan beli emas, ya! Emas adalah instrumen investasi jangka panjang yang umumnya bukan bertujuan profit, tapi lebih agar menjaga harta benda aman dari inflasi. Pastikan tujuan nabung emas jelas, ya. Emas Fisik vs Emas Digital, Mana Lebih Cocok? Emas Fisik Emas fisik biasanya berbentuk batangan atau perhiasan yang bisa disimpan sendiri. Kelebihannya, Pembaca Cerdas bisa memilikinya langsung secara fisik dan tidak bergantung pada aplikasi atau sistem digital. Kekurangannya, perlu tempat penyimpanan sendiri yang aman, selain itu modal awalnya juga lebih besar daripada beli digital. Umumnya sulit kalau mau beli ketengan, nih, Pembaca Cerdas. Emas Digital Beda dengan fisik, emas digital memungkinkan pengguna membeli emas mulai dari nominal kecil lewat aplikasi. Emas digital lebih mudah diakses, praktis, dan lebih cocok buat nabung rutin. Namun emas digital biasanya memerlukan biaya tambahan kalau Pembaca Cerdas suatu saat ingin "mencetak"-nya menjadi emas fisik. Selain itu, legalitas platform, mekanisme penyimpanan emas, biaya layanan, dan spread yang umumnya lebih tinggi dari emas fisik harus tetap jadi pertimbangan ya, Pembaca Cerdas. Apa itu spread? Spread adalah selisih antara harga beli dan harga jual kembali (buyback). Misalnya, Pembaca Cerdas membeli emas seharga Rp2 juta, tapi kalau langsung dijual lagi di hari yang sama, bisa jadi hanya dihargai Rp1,8 juta. Artinya, belum tentu untung meskipun harga emas terlihat naik. Spread ini penting untuk dipahami, baik untuk emas fisik maupun digital. Beberapa platform emas digital bahkan punya spread yang cukup besar, jadi jangan lupa diperhatikan ya, Pembaca Cerdas. Jangan Asal Beli Saat Harga Lagi Viral Say no to FOMO, say no to panic buying! Harga sedang tinggi saat hal ini terjadi dan bisa berisiko rugi. Baiknya beli emas memang "nyicil" dan bertahap agar lebih aman. Tetap mawas dalam membaca pergerakan pasar dan ekonomi agar mendapatkan emas di nilai terbaik. Pilih Tempat Pembelian yang Resmi dan Terpercaya Pastikan membeli emas di toko atau platform resmi yang menyediakan sertifikat atau jaminan kepemilikan. Untuk emas digital, cek juga apakah platform tersebut diawasi lembaga resmi dan benar-benar memiliki cadangan emas sesuai jumlah transaksi pengguna. Simpan Bukti dan Sertifikat Banyak orang menganggap sepele nota pembelian atau sertifikat emas, padahal dokumen tersebut sangat berpengaruh pada harga jual kembali. Emas dengan dokumen lengkap biasanya lebih mudah dijual dan dihargai lebih baik. Jangan Pakai Uang Darurat Meski dianggap relatif aman, emas tetap termasuk instrumen investasi. Artinya, jangan membeli emas menggunakan uang kebutuhan sehari-hari atau dana darurat. Idealnya, gunakan dana dingin agar kondisi finansial tetap aman meski harga emas naik turun. Investasi Aman Dimulai dari Pengetahuan Emas memang bisa menjadi pilihan untuk menjaga nilai aset di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti. Tapi seperti investasi lainnya, keuntungan tidak datang cuma karena ikut tren. Jadi, sebelum checkout emas cuma karena takut ketinggalan hype, pastikan dulu tujuan dan perhitungan finansialmu sudah jelas. -red

bottom of page