top of page

Fenomena Negara ‘Zombie Development’: Infrastruktur Mewah, Tapi Penduduknya Kehilangan Ambisi

Suasana aktivitas karyawan di sebuah perkantoran modern di kawasan pusat bisnis. (Foto: pngtree)
Suasana aktivitas karyawan di sebuah perkantoran modern di kawasan pusat bisnis. (Foto: pngtree)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Beberapa tahun belakangan, negara-negara berlomba membangun apa saja yang bisa jadi simbol kemajuan. Gedung pencakar langit menjulang di mana-mana, transportasi makin cepat, kota makin pintar, internet ngebut, dan kawasan bisnis tampil futuristik. Di permukaan, segalanya kelihatan sukses besar.


Namun ada sesuatu yang tidak beres, dan makin terlihat dibanyak negara maju maupun negara berkembang: banyak warga, khususnya anak mudanya, mulai kehilangan semangat. Optimisme makin luntur, ambisi mengecil, hidup rasanya seperti berjalan tanpa tujuan. Inilah yang orang sebut “Zombie Development”—negaranya sih kelihatan keren dan maju, tapi masyarakatnya kelelahan, kehilangan gairah hidup, dan bingung arah masa depan.


Contohnya jelas di Korea Selatan. Negara ini punya salah satu infrastruktur terbaik di dunia, transportasi super efektif, sampai teknologi yang kadang terasa terlalu cepat untuk diikuti. Akan tetapi, kenyataannya, survei World Happiness Report 2026 malah menempatkan Korea Selatan di urutan ke-67 untuk kebahagiaan hal ini merupakan rangking terendah sepanjang sejarah mereka. Penurunan ini paling terasa di anak muda. Mereka kewalahan menghadapi tekanan kerja, ekonomi yang nggak stabil, ditambah budaya kompetisi ekstrem dari kecil sampai besar. Nggak heran makin banyak yang merasa stres dan lelah hanya untuk sekadar bertahan.


Jepang juga tidak jauh beda. Kota-kotanya modern, sistem publik efisien, ekonomi kuat. Tapi fenomena “hikikomori” yaitu anak muda yang memilih mengurung diri dan mengasingkan diri dari masyarakat malah makin meningkat. Data terbaru dari Korea Economic Federation bilang, sekitar 5,2 persen pemuda Korea Selatan usia 19–34 tahun hidup dalam isolasi sosial di tahun 2024, jumlahnya sekitar 538 ribu orang. Penyebab paling besar? Sulitnya mencari kerja dan tekanan finansial. Jadi, pembangunan yang keren tadi sebenarnya nggak otomatis bikin anak mudanya optimis akan masa depan.


Dan ini bukan cuma masalah Asia Timur. Di negara-negara kaya lain, seperti Amerika Serikat, Kanada, juga Australia dan Eropa Barat, generasi muda menghadapi paradoks modernitas: hidup di kota pintar, dikelilingi teknologi, tapi makin sepi dan kesepian. Survey World Happiness Report 2026 juga mencatat kebahagiaan anak muda di negara-negara itu turun drastis dalam sepuluh tahun terakhir salah satunya karena tekanan sosial digital, kecemasan ekonomi, dan hubungan sosial yang dangkal atau bahkan hilang sama sekali.


Balik lagi ke Korea Selatan, survei 2024 Youth Life Survey menyebut, 32,2 persen anak muda mengalami burnout parah tahun lalu. Sebagian besar karena kekhawatiran soal masa depan dan tekanan pekerjaan. Ditambah lagi, rata-rata utang pemuda melonjak sampai 16,37 juta won sementara biaya hidup terus naik. Di tengah gemerlap kota dan teknologi, banyak anak muda justru merasa makin susah mencapai hidup layak dan stabil.


Krisis ini sebenarnya sudah kelihatan dari meroketnya masalah kesehatan mental di berbagai negara maju. Jadi, bangunannya megah dan ekonomi melesat bukan jaminan warganya lebih bahagia. Studi terbaru malah menunjukkan, kebanyakan menghabiskan waktu di media sosial bikin generasi muda makin kesepian, gampang stres, dan tidak puas dengan hidup. Bukannya lebih terkoneksi, banyak yang justru merasa semakin terisolasi secara emosional.


Fenomena serupa mulai muncul juga di Indonesia. Dekade ini, jalan tol, bandara, kawasan industri, sampai kota baru bermunculan, otomatis bikin wajah negara jadi lebih keren. Tapi di sisi lain, kecemasan anak muda soal pekerjaan, biaya hidup, dan masa depan ikut meningkat. Banyak yang merasa, laju fisik Indonesia nggak selamanya bikin kualitas hidup mereka lebih baik.


Semua ini menunjukkan ada yang kekeliruan dalam cara kita menakar kemajuan. Pemerintah sering kali cuma fokus ke angka investasi, pertumbuhan GDP, atau pembangunan fisik, sementara aspek nonmateri seperti kesehatan mental, rasa aman, relasi sosial, dan mimpi masa depan makin lama makin lemah.


Zombie Development, ujung-ujungnya, bukan cuma soal negara makin maju secara fisik. Kota-kota jadi makin terang, tapi warganya makin merasa kosong. Infrastruktur kelihatan keren, tapi anak mudanya kelelahan mental dan kehilangan arah. Tantangan terbesar ke depan mungkin bukan cuma membuat negeri makin modern, tapi membangun masyarakat yang kuat harapannya—yang masih mau percaya bahwa hidup layak diperjuangkan. Penulis : Emuna Asie

Editor : Ivonne Hanna

Comments


bottom of page