“Quiet Nationalism”: Ketika Anak Muda Mulai Menjauh dari Globalisasi Tanpa Menjadi Nasionalis
- Emuna Asie
- May 21
- 3 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama beberapa dekade, globalisasi selalu dikibarkan sebagai tanda kemajuan zaman. Anak muda disuruh berpikiran luas, kerja lintas negara, mengikuti budaya internasional, dan lain-lain. Tapi, setelah pandemi, ekonomi global goyah, konflik geopolitik makin sering, dan tekanan sosial media nggak kunjung reda, mulai terasa ada perubahan. Anak muda sekarang nggak lagi sepenuhnya percaya dengan cerita indah globalisasi. Tapi lucunya, mereka juga nggak jadi nasionalis garis keras kayak generasi dulu. Di sini, lahir satu tren baru: “Quiet Nationalism” semacam nasionalisme diam-diam, namun tidak heboh.
Fenomena ini nggak muncul dalam bentuk demo besar atau gerakan politik. Quiet Nationalism lebih kelihatan dalam pola hidup sehari-hari, pilihan karier, dan gaya konsumsi. Banyak anak muda mulai nggak tertarik lagi sama mimpi global yang dulu dianggap keren. Kerja di perusahaan multinasional, pindah ke luar negeri, atau ikut budaya global, sekarang nggak otomatis jadi tanda sukses. Malah, makin banyak yang pingin hidup lebih lokal, sederhana, dan dekat dengan komunitas sendiri.
Kalau dilihat di berbagai negara, bentuknya beda-beda. Di Jepang dan Korea Selatan, misalnya, banyak anak muda meninggalkan impian masuk korporasi besar dan memilih pekerjaan fleksibel, yang dekat dengan lingkungannya. Di Eropa dan Amerika, minat pada produk dalam negeri dan gaya hidup mandiri makin naik. Sementara di Indonesia, anak muda semakin suka bisnis lokal, budaya daerah, dan kerja di komunitas digital kecil, daripada ngejar karier di perusahaan internasional.
Yang menarik, semua ini bukan lahir dari semangat patriotisme klasik. Anak muda nggak sepenuhnya menolak budaya asing, teknologi global, atau hubungan internasional. Media sosial global tetap dipakai, budaya luar tetap dinikmati, hubungan dengan dunia luar tetap ada. Tapi secara mental, mereka mulai ragu: bener nggak sih globalisasi kasih rasa aman dan masa depan pasti? Ekonomi susah, biaya hidup naik, persaingan kerja makin berat, dan situasi politik internasional nggak jelas sehingga hal tersebut bikin banyak anak muda merasa sistem global udah nggak memihak lagi.
Quiet Nationalism juga muncul karena lelah dengan budaya kompetisi global yang terus digenjot. Bertahun-tahun, mereka dipaksa jadi “warga dunia” yang harus produktif, mobile, dan kompetitif tingkat internasional. Tapi kenyataan setelah pandemi, banyak orang malah merasa makin nggak stabil. Harga kebutuhan melambung, peluang kerja formal berkurang, tekanan media sosial bikin standar hidup makin tinggi dan sulit diraih. Akhirnya, beberapa anak muda mulai mencari rasa aman melalui identitas lokal dan komunitas kecil yang lebih nyata.
Di Indonesia sendiri, gejala Quiet Nationalism mulai kelihatan. Semakin banyak yang lebih memilih produk lokal, budaya daerah, dan pekerjaan komunitas digital. Skeptis terhadap perusahaan global ataupun narasi sukses internasional. Kerja di luar negeri atau masuk korporasi besar nggak lagi jadi tujuan hidup utama. Justru, makin banyak yang pilih bangun usaha sendiri, kerja mandiri, atau tinggal sederhana di daerah asal.
Quiet Nationalism beda banget dengan nasionalisme tradisional yang identik dengan simbol politik, ideologi negara, atau anti-asing. Fenomena ini jauh lebih personal dan kultural. Bisa dilihat dari keputusan sehari-hari kayak pilih produk lokal, bangun komunitas sendiri, dan ngurangin ketergantungan pada sistem global. Karena nggak heboh dan nggak terorganisasi secara politik, memang sering nggak kelihatan, tapi pengaruhnya udah mulai terasa di perilaku sosial anak muda.
Kalau tren ini terus berjalan, dunia bakal masuk era baru pasca-globalisasi. Hubungan internasional masih ada, teknologi global tetap dipakai, tapi kepercayaan emosional ke sistem global pelan-pelan luntur. Anak muda nggak menolak dunia internasional, tapi mereka juga nggak lagi menggantungkan hidup pada globalisasi. Quiet Nationalism jadi bukan sekadar tren, tapi refleksi perubahan psikologis generasi muda yang makin butuh rasa aman, identitas, dan kontrol hidup di tengah dunia yang serba nggak pasti. -red Penulis : Emuna Asie Editor : Ivonne Hanna















Comments