top of page

Era Pasca-Influencer: Ketika Publik Mulai Lebih Percaya Orang Biasa daripada Figur Terkenal

Ilustrasi proses perekaman konten digital di studio produksi. (Foto: Pexels)
Ilustrasi proses perekaman konten digital di studio produksi. (Foto: Pexels)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Selama lebih dari sepuluh tahun, influencer merupakan raja di dunia internet. Mereka yang membuat tren, menentukan gaya hidup, mengatur arah politik, sampai memindahkan jutaan uang lewat bisnis digital. Tapi belakangan, situasinya berubah. Banyak orang mulai merasa bosan sama konten influencer yang terkesan “terlalu rapi,” serba promosi, dan terasa jauh dari kehidupan nyata. Lama-lama, kepercayaan ke mereka pun luntur. Sekarang, semakin banyak yang justru percaya omongan dari orang biasa bahkan lebih dari selebritas dunia maya. Fenomena ini sering disebut “Era Pasca-Influencer.”


Pergeseran ini sangat masuk akal, karena semua orang semakin sulit untuk mempercayai figur publik digital. Konten influencer makin menyerupai iklan, hidup mereka kelihatan “sempurna” tetapi justru jadi tidak nyata. Banyak yang akhirnya mencari sesuatu yang lebih polos dan jujur. Video seadanya dari orang biasa, review tanpa sponsor, cerita personal tanpa editan, malah lebih ramai di-like dan dikomentari daripada postingan para influencer.


Data dari Edelman Trust Barometer 2024 juga bicara hal yang sama tentang krisis kepercayaan. Menariknya, untuk urusan informasi inovasi dan teknologi, posisi figur otoritas resmi seperti CEO perusahaan (59%), jurnalis (47%), dan pemerintah (50%) mulai tergeser. Masyarakat global justru jauh lebih percaya pada 'orang seperti saya' atau sesama warga net (61%). Bahkan, 74 persen responden secara tegas menyatakan mereka akan langsung berhenti percaya pada ilmuwan atau pejabat pemerintah jika ketahuan berbohong soal inovasi. Di banyak negara, kepercayaan ke sesama individu atau lingkaran terdekat memang sudah jauh lebih tinggi dibanding media dan pemerintah.


Ini menjadi bukti bahwa otoritas sosial dunia digital sudah tergantikan. Dulu, orang gampang terpancing rekomendasi selebritas atau institusi besar. Sekarang, pengalaman nyata dari orang biasa lebih penting. Jika reviewnya kelihatan tulus, orang lebih percaya daripada promosi influencer yang terlalu profesional.


Tentu, perubahan ini juga karena makin banyak orang skeptis sama dunia influencer marketing. Laporan terbaru Financial Times bilang, hampir 90 persen konten “finfluencer”—influencer di dunia keuangan—kualitas informasinya rendah dan nggak transparan. Banyak yang gak jujur soal risiko, nyaris nggak pernah pakai sumber jelas, bahkan kontennya lebih cari sensasi biar viral.


Tidak heran jika publik makin lelah dengan budaya “fake perfect”. Di berbagai medsos, tren konten “anti-perfect lifestyle” justru menjadi perbincangan. Postingan yang agak gelap, suara yang berisik, video tanpa edit malah semakin disukai karena lebih relate dan terasa manusiawi.


Generasi Z, yang tumbuh bareng promosi digital dan algoritma medsos, jauh lebih peka sama konten tipu-tipu. Otentisitas jadi kunci. Banyak dari mereka lebih percaya ulasan random dari pengguna biasa daripada promosi selebgram.


Lucunya, kemajuan AI justru mempercepat tren ini. Orang makin bingung membedakan mana konten manusia beneran, mana yang full digital. Laporan Reuters 2025 bilang, setengah lebih anak muda sekarang merasa gak nyaman sama AI influencer karena “nggak ada sisi manusianya.” Karena itu, konten dari orang nyata yang terlihat natural makin dihargai, justru karena keasikan dan spontanitasnya nggak bisa ditiru mesin.


Dampaknya luas bisa berupa dibidang bisnis, media, sampai politik ikut berubah. Perusahaan tidak lagi selalu mengincar nama besar buat endorse produk. Sebaliknya brand mencari micro creator, pelanggan biasa, atau komunitas kecil yang terasa lebih dekat ke audiens. Di politik, kreator independen gaya santai mulai punya suara lebih kuat dibanding media arus utama. Riset soal politik AS juga mengatakan, social media creator sekarang dapat membentuk sikap politik kepada anak muda lebih efektif lewat pendekatan personal, bukan bahasa formal.


Kesimpulannya, 'Era Pasca-Influencer' bukan berarti influencer bakal punah. Mereka masih ada, tapi posisi mereka gak seistimewa dulu. Sekarang, publik lebih cari keaslian, spontanitas, dan cerita personal. Di tengah dunia digital yang makin ramai sama konten “buatan”, justru orang mulai rindu hal sederhana: orang biasa yang kelihatan nyata dan apa adanya. Penulis : Emuna Asie

Editor : Ivonne Hanna

Comments


bottom of page