top of page

Zona Barat, Tengah, dan Timur: Siapa yang Akan Memimpin Ekonomi Kalteng?

Ilustrasi pemandangan kawasan perkotaan yang menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi dan pengembangan konektivitas wilayah. (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi pemandangan kawasan perkotaan yang menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi dan pengembangan konektivitas wilayah. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Kalimantan Tengah lagi bersiap memasuki babak baru dalam peta ekonomi. Pemerintah provinsi nggak cuma membagi wilayahnya secara administratif mereka membaginya ke dalam tiga zona strategis barat, tengah, dan timur. Bukan cuma soal peta di atas kertas, tapi inilah fondasi yang dipasang untuk membentuk arah ekonomi Kalteng bertahun-tahun ke depan.


Setiap zona punya tugas sendiri-sendiri. Wilayah barat dipacu untuk urusan hilirisasi sumber daya alam, industri, perdagangan besar, sampai pariwisata. Zona tengah mau diarahkan jadi pusat perdagangan, layanan jasa, pendidikan, juga pertanian terintegrasi. Lalu zona timur didorong untuk pangan, energi baru terbarukan, sampai menopang Ibu Kota Negara (IKN) baru di pesisir Kaltim nanti.


Secara konsep, pembagiannya kelihatan manis. Tapi pertanyaan yang sebenarnya; siapa yang bakal menang dalam perebutan status zona ekonomi terbaik di Kalteng?


Di atas kertas, zona barat punya modal tumbuh paling cepat. Kotawaringin Barat, Kotawaringin Timur, Seruyan, dan Sukamara wilayah dengan pelabuhan, perkebunan sawit raksasa, dan roda ekonomi yang sudah lama berputar. Sampit, misalnya, sudah lama jadi sentra perdagangan dan distribusi. Rantai logistik dan industri yang mengandalkan kebun-kebun sawit dan hasil alam lain jadi pondasi yang kokoh buat berkembang lebih jauh. Intinya, mereka sudah punya pijakan kuat untuk jadi pusat hilirisasi di masa depan.


Potensi wisata juga nggak kalah besar. Banyak destinasi alam yang sebenarnya belum benar-benar digarap seperti Taman Nasional Tanjung Puting, wisata sungai, sampai spot-spot pesisir. Kalau sektor pariwisata digarap serius, zona ini bisa saja rajai dua pasar: industri dan wisata sekaligus.


Tapi ada masalah klasik di barat: terlalu bergantung pada komoditas mentah kayak sawit atau hasil alam lain. Kalau industri level lanjut nggak benar-benar tumbuh, mereka rawan terguncang perubahan harga dunia.


Berbeda dari barat, zona tengah berarti bicara soal kestabilan jangka panjang. Palangka Raya, Kapuas, Pulang Pisau, Gunung Mas semuanya ada di jalur vital pemerintahan dan pengembangan infrastruktur. Palangka Raya sendiri sudah lama disebut-sebut punya posisi kunci; dulu kota ini bahkan pernah digadang-gadang jadi calon ibu kota negara karena letaknya yang strategis.


Zona tengah bukan soal sumber daya alam semata, tapi lebih ke jasa: pendidikan, pusat riset, dagang, layanan, sampai konektivitas. Kalau pemerintah konsisten membangun, zona tengah bisa jadi “otaknya” pertumbuhan ekonomi, bukan cuma pusat pemerintahan.


Lalu zona timur. Banyak orang justru melihat potensi lonjakan terbesar ada di sana. Wilayah Barito dan Murung Raya disokong sektor energi, tambang, kehutanan, plus peluang jadi koridor ekonomi yang menopang IKN. Koneksi menuju wilayah IKN di Kalimantan Timur jelas jadi poin plus. Begitu pembangunan IKN melaju, pastinya kebutuhan logistik, pangan, dan energi bakal melonjak. Wilayah timur pun ikut bergerak.


Tapi jalan di timur nggak mulus. Infrastruktur jalan, internet, sampai akses investasi masih jauh tertinggal dari tengah dan barat. Dengan kata lain, potensi di timur memang besar, tapi masuknya butuh waktu panjang dan suntikan investasi yang nggak sebentar.


Ekonom daerah sepakat, persaingan antar zona sebetulnya bukan soal siapa paling kaya sekarang, tapi soal siapa paling cepat beradaptasi dengan perubahan ekonomi nasional. Era baru, daerah nggak bisa lagi cuma andalkan tambang atau kebun. Siapa yang sigap membangun sektor pendidikan, teknologi, konektivitas, sampai kualitas SDM, merekalah yang akan jauh lebih unggul.


Kalau tiga zona ini benar-benar dimaksimalkan seperti grand design-nya, Kalteng bakal punya “delta ekonomi baru.” Arah pertumbuhan bakal geser dari yang tradisional ke ekonomi modern berbasis industri, jasa, teknologi, dan pangan maju. Begitu berhasil, Kalteng nggak lagi cuma dikenal daerah penghasil sawit atau batu bara, tapi benar-benar jadi pemain penting ekonomi Kalimantan.


Intinya sekarang, bukan lagi soal apakah Kalteng bakal berkembang, tapi zona mana yang paling cepat jeli membaca masa depan dan berani ambil langkah lebih dulu. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page