3 hours ago1 min read



PALANGKA RAYA, KALTENG NETWORK – Di Kalimantan Tengah, ada satu obrolan yang makin sering muncul dikalangan anak muda: “Kalau mau sukses, harus keluar daerah.”
Buat banyak lulusan SMA dan kampus, merantau ke Pulau Jawa sudah jadi semacam jalur utama untuk mengejar masa depan. Kota seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Surabaya, sampai Malang jadi tempat favorit buat kuliah, cari kerja, atau bangun karier.
Tapi ini bukan cuma soal pindah tempat tinggal. Di media sosial, muncul anggapan kalau tinggal di daerah artinya ketinggalan zaman, sedangkan di Jawa hidupnya jauh lebih modern, lebih keren, dan katanya lebih menjanjikan.
Jadi, anak muda Kalteng pergi karena benar-benar punya mimpi besar, atau cuma karena tekanan sosial?
Secara nasional, urbanisasi dan migrasi usia muda terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (Statistik Pemuda Indonesia 2025) mengatakan, anak muda adalah kelompok paling aktif pindah untuk pendidikan dan pekerjaan di Indonesia.
Jawa sendiri masih jadi pusat ekonomi. Lebih dari setengah aktivitas nasional ada di sana, jadi peluang kerja, kampus top, industri kreatif, dan perusahaan besar memang lebih banyak dibanding daerah lain.
Nggak heran kalau banyak anak muda daerah merasa harus ke Jawa biar bisa berkembang.
“Banyak yang sebenarnya belum tahu mau kerja apa, tapi merasa harus ke Jawa dulu supaya dianggap berhasil,” kata Dimas, pengamat sosial muda di Palangka Raya.
Tekanan makin besar gara-gara media sosial. TikTok, Instagram, YouTube, semua membentuk standar baru yaitu kantor keren, coffee shop modern, networking luas, konser musik, ruang kreatif, dan gaya hidup urban yang jarang ditemukan di Kalteng.
Hasilnya, anak muda mulai merasa hidup di daerah itu “kurang maju,” walaupun kenyataannya nggak selalu seperti itu.
Faktanya, hidup di Jawa nggak selalu seindah ekspektasi. Persaingan kerja gila-gilaan, biaya hidup tinggi, dan tekanan sosial di kota besar juga nggak main-main. Banyak anak rantau akhirnya pun kerja di luar bidang mereka, cuma buat bertahan.
Sementara itu, Kalteng sebenarnya mulai bergerak cepat.
Internet makin luas, ekonomi digital tumbuh, UMKM kreatif berkembang, media lokal digital, industri konten, sampai peluang jadi freelancer makin terbuka buat anak muda. Sekarang, anak Kalteng bisa jadi editor video, desainer grafis, admin medsos, atau kreator konten tanpa harus pindah ke kota besar.
Fenomena ini mulai kelihatan, apalagi di Palangka Raya dan Sampit, saat coffee shop berubah jadi tempat kerja remote dan komunitas kreatif.
Masalahnya, kepercayaan diri terhadap daerah sendiri masih rendah.
Banyak yang merasa peluang di Kalteng terbatas karena minim exposure nasional. Keberhasilan sering diukur bukan dari “apa yang dibangun,” tapi “sejauh mana pergi.”
Dr. Ratna Djuwita, psikolog sosial Universitas Indonesia, bilang tekanan sosial di generasi muda banyak terbentuk dari perbandingan sosial di media digital. Ketika kita terus melihat kehidupan orang lain yang kelihatan lebih sukses, kita jadi terdorong pakai standar yang sama.
Fenomena ini mulai nyata di Kalteng.
Banyak anak muda sebenarnya sayang sama daerahnya, tapi takut tertinggal kalau tetap tinggal. Mereka khawatir dibilang kurang ambisius, kurang modern, atau “jalan di tempat.”
Padahal, beberapa sektor baru di Kalteng justru mulai tumbuh pelan-pelan. Industri kreatif lokal, videografi, media digital, event organizer, UMKM online, bahkan personal branding mulai naik di kalangan generasi muda.
Pemerintah daerah juga sudah mulai mendorong ekonomi kreatif dan transformasi digital sebagai arah pembangunan SDM muda Kalteng.
Jadi, fenomena “kabur ke Jawa” ini sebenarnya bukan cuma soal pindah tempat. Ini gambaran, anak muda lagi cari tempat di mana mereka merasa punya masa depan.
Ada yang memang harus pergi buat belajar dan berkembang. Tapi pertanyaan yang penting: apakah nanti Kalimantan Tengah bisa jadi tempat yang cukup menjanjikan, sampai anak mudanya nggak merasa harus pergi supaya bisa dianggap sukses? -red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments