4 hours ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Di Kalimantan Tengah, coffee shop sekarang bukan sekadar tempat minum kopi atau ngobrol santai. Beberapa tahun belakangan, ada tren baru di kalangan anak muda yaitu datang ke kafe dengan membawa laptop, kamera, tablet, atau headset buat kerja.
Pemandangan seperti ini gampang ditemukan di Palangka Raya, Sampit, dan Pangkalan Bun. Dari pagi sampai malam, meja-meja di coffee shop penuh sama mahasiswa, freelancer, editor video, admin medsos, desainer grafis, sampai pebisnis online. Mereka bekerja sambil menikmati suasana kafe.
Tren ini sampai punya istilah sendiri di kalangan anak muda: “nongkrong produktif.”
Coffee shop pelan-pelan berubah jadi ruang kerja alternatif buat anak muda Kalteng yang hidup di zaman digital.
“Sekarang nongkrong nggak cuma ngobrol,” kata Fikri, videografer muda di Palangka Raya. “Banyak yang sambil edit video, online meeting, atau bikin konten.”
Perubahan gaya hidup ini berkaitan erat dengan majunya ekonomi kreatif dan dunia kerja digital di Indonesia. Data dari Kementerian Ekonomi Kreatif memperlihatkan kalau sektor ekonomi kreatif, termasuk konten digital, desain, fotografi, dan media kreatif memang terus melejit dan isinya, ya, banyak anak muda juga.
Angkanya bahkan makin jelas. Kementerian Ekonomi Kreatif bareng BPS memperkirakan pekerja ekonomi kreatif Indonesia bakal nyentuh sekitar 27,4 juta orang di 2025. Generasi mudanya jadi penggerak terbesar di bidang ini.
Perubahan ini juga kerasa banget buat anak muda di daerah, termasuk Kalimantan Tengah.
Dulu, kerja itu identik dengan kantor. Sekarang, asalkan ada laptop dan internet, kerjaan bisa dilakuin di mana saja. Editor video nggak perlu ruang studio, desainer bisa ambil proyek secara online, mahasiswa pun mulai dapat penghasilan dari sosial media.
Coffee shop akhirnya jadi third place, istilah dari sosiolog Ray Oldenburg tempat nongkrong, bukan rumah, bukan kantor, tapi fungsinya penting buat interaksi sosial.
Fenomena ini pernah dibahas juga dalam riset "Analisis Pengembangan Bisnis Coffee Shop Sebagai Ruang Sosial dan Pertemuan Masyarakat Majemuk". Peneliti bilang, coffee shop sekarang memang berevolusi jadi ruang netral, tempat kerja, diskusi, sampai lahir komunitas kreatif.
Di Palangka Raya, pemandangan ini paling kelihatan malam-malam. Banyak anak muda yang milih ngerjain tugas, rapat komunitas, atau kerja freelance di coffee shop. Alasannya simpel: suasananya lebih nyaman dan bantu mereka lebih fokus daripada kerja di rumah.
Bahkan, tidak sedikit yang menjadikan coffee shop sebagai “kantor kedua”.
“Kalau di rumah kadang malah malas atau ngantuk. Kalau di coffee shop, lebih fokus karena lihat orang lain juga sibuk,” kata Nadia, mahasiswa dan freelance admin medsos.
Tren ini juga terbantu gara-gara perubahan gaya hidup setelah pandemi. Sistem kerja fleksibel, remote working, bikin generasi muda makin terbiasa kerja dari mana saja selama sinyal internet oke.
Dari sisi bisnis, pertumbuhan coffee shop juga menyumbang ekonomi lokal. Banyak kafe sekarang berlomba menyediakan colokan, WiFi cepat, ruang meeting kecil, sampai interior yang Instagramable supaya pelanggan betah kerja di sana.
Jadi sekarang, coffee shop nggak lagi cuma jualan kopi. Mereka juga offer suasana kerja dan ruang sosial.
Tapi di balik semua tren ini, ada perubahan budaya yang lebih gede.
Anak muda Kalteng secara perlahan mulai bangun ekosistem kreatif sendiri. Dari meja kecil di coffee shop, muncul komunitas desain, bisnis digital, podcast lokal, produksi konten, dan kolaborasi buat beragam event kreatif.
Fenomena ini nunjukin anak muda daerah nggak selalu tertinggal dari kota besar. Dengan internet dan ruang kreatif sederhana, mereka bisa bikin cara kerja yang lebih fleksibel dan mandiri.
Tentu saja, tantangannya tetap ada. Tidak semua daerah di Kalimantan Tengah punya akses internet stabil, peluang kerja digital juga masih banyak di kota-kota besar saja.
Selain itu, ada tekanan sosial juga. Sebagian anak muda merasa harus selalu terlihat produktif di media sosial. Kadang, budaya “nongkrong produktif” berubah jadi tuntutan supaya kelihatan sibuk dan keren di dunia maya.
Tapi secara umum, satu hal jelas yaitu cara anak muda Kalteng bekerja memang sudah berubah.
Mereka nggak lagi nunggu kerjaan formal datang. Mereka mulai bikin ruang kerja sendiri, bahkan dari pojok coffee shop kecil di tengah kota. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments