Mandi Safar di Kota Besi Jadi Momentum Lestarikan Budaya dan Perkuat Silaturahmi
- Fransisca Fethy Angelina
- 1 day ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Tradisi Mandi Safar kembali digelar masyarakat Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Rabu (12/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menjaga warisan budaya sekaligus mempererat silaturahmi dan kebersamaan masyarakat.
Kegiatan yang dipusatkan di Pasar Kamis, Desa Kota Besi Hilir, berlangsung dengan melibatkan masyarakat yang bersama-sama mengikuti tradisi mandi di Sungai Mentaya. Rangkaian kegiatan juga diisi dengan zikir, doa, tolak bala dan silaturahmi.
Wakil Bupati Kotim Irawati mengatakan Mandi Safar tidak sekadar menjadi kegiatan mandi bersama di sungai, tetapi juga memiliki makna sebagai bentuk rasa syukur dan doa bersama agar masyarakat dijauhkan dari berbagai marabahaya, penyakit dan musibah.
“Mandi Safar bukan sekadar hanya mandi di sungai, tetapi ini adalah wujud syukur, tolak bala, dan doa bersama agar kita semua dijauhkan dari marabahaya, penyakit, dan segala bentuk musibah di sepanjang tahun,” ujarnya.
Menurut Irawati, tradisi tersebut merupakan bagian dari kekayaan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Karena itu, keberlangsungannya perlu dijaga dengan melibatkan generasi muda agar mereka tetap mengenal dan mencintai budaya daerah.
“Kepada generasi muda, saya berpesan terus mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya daerah. Jadikan tradisi sebagai sumber pembelajaran dan identitas diri,” pesannya.
Ia menilai perkembangan teknologi dan perubahan zaman tidak seharusnya membuat generasi muda meninggalkan budaya lokal. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan tradisi daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, Irawati mengingatkan agar pelaksanaan Mandi Safar tetap memperhatikan nilai-nilai syariat dan tidak bertentangan dengan akidah.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Kotim, saya menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan tradisi seperti Mandi Safar, yang mana ini adalah kekayaan budaya lokal yang harus kita jaga,” katanya.
Selain pelestarian budaya, Irawati berharap momentum tersebut dapat memperkuat persaudaraan, gotong royong serta kerukunan masyarakat. Menurutnya, keterlibatan pemerintah, tokoh agama, tokoh adat, pemuda dan masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
“Jadikan momentum ini untuk muhasabah diri, jaga kerukunan dan gotong royong, lestarikan budaya, tetap jaga syariat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Irawati juga mengingatkan masyarakat agar turut menjaga lingkungan dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Imbauan itu disampaikan setelah dirinya meninjau sejumlah titik karhutla di wilayah Camba, Suren dan Sempur.
“Mari kita jaga lahan dan kebun masing-masing. Jangan membuka lahan dengan cara dibakar,” tegasnya.
Irawati berharap tradisi Mandi Safar di Kota Besi dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Selain menjaga warisan budaya, kegiatan tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat silaturahmi, rasa syukur, persaudaraan dan semangat gotong royong masyarakat. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments