Karhutla Berdampak ke Petani, Sekitar 20 Hektare Kebun Sawit di Bagendang Tengah Terbakar
- Fransisca Fethy Angelina
- 2 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai berdampak langsung terhadap sumber penghidupan masyarakat di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Sekitar 20 hektare kebun sawit milik warga dilaporkan terdampak kebakaran dalam sepekan terakhir. Hingga Kamis (13/8/2026), sejumlah titik api di kawasan perkebunan masih belum sepenuhnya padam.
Kepala Desa Bagendang Tengah, Untung, mengatakan kebakaran terjadi di kawasan perkebunan masyarakat. Warga masih melakukan penjagaan untuk mencegah api meluas ke kebun lainnya.
“Kurang lebih 20 hektare,” kata Untung.
Sebagian tanaman sawit yang terdampak masih berusia muda, yakni sekitar dua hingga hampir tiga tahun. Kondisi tersebut membuat dampak kebakaran cukup berat bagi petani karena tanaman yang terbakar merupakan bagian dari sumber penghasilan mereka.
Menurut Untung, tanaman sawit yang masih muda berpotensi mati akibat terbakar. Sementara tanaman yang lebih besar dan mendekati masa produksi dapat mengalami gangguan pertumbuhan sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk pulih.
“Kalau yang baru menanam, itu mungkin mati. Tapi kalau yang sudah mau produksi, mungkin pertumbuhannya terganggu, lambat pemulihannya. Tapi kerugian warga itu yang tidak bisa panen,” ujarnya.
Pemerintah desa belum menghitung secara keseluruhan nilai kerugian yang dialami warga. Namun, kehilangan tanaman dan tertundanya hasil panen menjadi beban bagi petani yang terdampak.
Penanganan di lapangan juga menghadapi kendala. Salah satunya keterbatasan sumber air dan akses menuju lokasi kebakaran yang cukup jauh. Kondisi sungai yang mulai mengering turut menyulitkan warga maupun petugas mendapatkan air untuk pemadaman.
“Kendala kami di lapangan airnya susah. Akses menuju lokasi jauh,” jelasnya.
Pemerintah desa bersama masyarakat, Masyarakat Peduli Api (MPA), Forkopimcam, TNI dan Polri terus berkoordinasi untuk mencegah api meluas. Warga juga diminta melakukan penjagaan terhadap kebun yang masih belum terdampak.
Untung mengatakan pihaknya telah mengusulkan penanganan lebih lanjut, termasuk bantuan water bombing. Namun, kebutuhan tersebut masih menunggu kewenangan pemerintah provinsi.
Di tingkat desa, sejumlah peralatan juga telah disiapkan untuk mengantisipasi apabila api mendekati permukiman. Sebanyak tiga hingga empat unit pompa air dapat dikerahkan dengan menggunakan kendaraan pikap.
Namun, peralatan tersebut masih memiliki keterbatasan untuk menjangkau titik kebakaran yang jauh dari permukiman. Karena itu, warga diminta mempertahankan lahan yang belum terbakar sembari menunggu dukungan penanganan lebih lanjut.
“Sebatas yang belum terbakar dijaga. Saya instruksikan kepada warga, jagalah yang belum terbakar kebunnya masing-masing,” bebernya.
Untung menyebut kebakaran di kawasan perkebunan bukan persoalan baru saat musim kemarau. Jika kondisi panas berlangsung hingga dua atau tiga bulan, sejumlah kawasan yang sebelumnya telah dipetakan rawan kembali berpotensi mengalami kebakaran.
Ia menduga kebakaran kali ini lebih dipicu kelalaian manusia. Karena itu, pemerintah desa terus mengingatkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan api, khususnya saat beraktivitas di kawasan perkebunan.
Sosialisasi pencegahan juga dilakukan dalam berbagai kesempatan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Dari pemerintah desa sudah menyampaikan semua berkaitan dengan keadaan alam, iklim ini. Menyikapi ini kan sudah tahu juga,” pungkasnya. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments