Kemarau Panjang, Pemkab Kotim Tunda Musim Tanam Padi Ketiga di Lampuyang
- Fransisca Fethy Angelina
- 57 minutes ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, KOTAWARINGIN TIMUR – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunda jadwal tanam padi ketiga di kawasan sentra pangan Desa Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berkepanjangan.
Keputusan tersebut diambil untuk menghindari risiko gagal tanam akibat terbatasnya pasokan air di lahan pertanian. Pemerintah daerah menilai penyesuaian jadwal tanam lebih tepat dibanding memaksakan petani bercocok tanam dalam kondisi lahan yang masih kering.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartadi Periyanto, mengatakan pada kondisi normal petani di Desa Lampuyang dapat menanam padi hingga tiga kali dalam setahun. Setelah panen pada Juli, petani biasanya kembali mengolah lahan dan memulai musim tanam berikutnya pada Agustus.
Namun, pola tersebut tahun ini harus disesuaikan dengan kondisi cuaca dan ketersediaan air.
"Situasi sekarang berbeda. Ketersediaan air di lahan belum mencukupi, sehingga lebih bijak jika jadwal tanam ditunda terlebih dahulu dibanding dipaksakan dan berisiko merugikan petani," ujar Yephi, Jumat (31/7/2026).
Ia menjelaskan, keputusan tersebut juga mempertimbangkan prakiraan BMKG Stasiun Meteorologi Haji Asan Sampit yang memperkirakan puncak musim kemarau bergeser dari Agustus menjadi September.
Apabila kondisi tersebut berlanjut dan dukungan infrastruktur pengairan dari pemerintah pusat belum tersedia, DPKP memperkirakan musim tanam ketiga baru dapat dimulai pada akhir September.
Meski demikian, peluang mempercepat jadwal tanam tetap terbuka apabila bantuan sarana pengairan, seperti irigasi pompa (Irpom) dan irigasi perpipaan (Irpip), segera direalisasikan.
"Harapan kami bantuan irigasi bisa segera terealisasi. Jika fasilitas itu sudah tersedia, petani memiliki peluang untuk memulai tanam lebih cepat karena kebutuhan air dapat dipenuhi," katanya.
DPKP juga mengimbau petani agar tidak terburu-buru mengolah maupun menanam lahan yang belum memiliki sumber air yang memadai. Menurut Yephi, memaksakan penanaman di lahan kering justru berisiko menyebabkan gagal tanam hingga gagal panen.
"Yang paling penting saat ini bukan mengejar waktu tanam, melainkan memastikan tanaman memiliki peluang tumbuh dengan baik. Sedikit terlambat lebih baik daripada kehilangan hasil panen," tegasnya.
Menghadapi perubahan pola musim, DPKP memastikan pendampingan kepada kelompok tani terus dilakukan. Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) diminta aktif memantau perkembangan kondisi lahan dan cuaca agar petani dapat menentukan waktu tanam berdasarkan kondisi aktual di lapangan.
Yephi menambahkan, sebagian besar petani telah memahami perubahan pola musim yang terjadi sehingga mampu menyesuaikan jadwal tanam. Meski demikian, pendampingan tetap diperlukan agar setiap keputusan didasarkan pada ketersediaan air dan perkembangan cuaca, bukan sekadar perkiraan.
Di sisi lain, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras. DPKP memastikan stok cadangan beras di Bulog Kotawaringin Timur masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat untuk beberapa bulan ke depan.
"Persediaan beras dalam kondisi aman. Fokus kami sekarang adalah menjaga agar produksi petani tetap berjalan dan mereka tidak mengalami kerugian akibat gagal tanam maupun gagal panen," pungkasnya. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments