Karhutla Kobar Tembus 1.000 Hektare, Gubernur Minta Sumber Air Diperkuat
- Fransisca Fethy Angelina
- 34 minutes ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PANGKALAN BUN – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) masih menghadapi sejumlah kendala. Selain titik api yang masih ditangani, petugas di lapangan harus menghadapi medan sulit serta keterbatasan sumber air.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Gubernur Kalimantan Tengah Agustiar Sabran saat meninjau Posko Komando Siaga Bencana Karhutla di Kantor BPBD Kobar, Rabu (26/8/2026).
Dalam kunjungan tersebut, Agustiar bersama unsur Forkopimda Provinsi Kalteng memantau perkembangan penanganan karhutla di wilayah Kobar. Pemantauan dilakukan secara langsung dari posko dengan melihat perkembangan kondisi lapangan melalui aplikasi Sipongi.
Gubernur juga menerima laporan dari Kalaksa BPBD Kobar mengenai luasan lahan yang terdampak kebakaran sejak awal tahun hingga Agustus 2026.
“Data BPBD Kobar mencatat, sejak Januari hingga Agustus 2026, luas lahan yang terbakar di wilayah Kobar telah menembus lebih dari 1.000 hektare. Ini luasan yang cukup besar yang harus segera diatasi,” ujar Agustiar, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, penanganan masih dilakukan secara terpadu dengan melibatkan BPBD, pemadam kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta unsur lainnya.
Namun, upaya pemadaman menghadapi tantangan karena sejumlah lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat. Kondisi tersebut diperparah dengan terbatasnya sumber air di sekitar titik kebakaran.
Agustiar meminta seluruh unsur memperkuat koordinasi dan segera mencari solusi terhadap kendala yang dihadapi petugas di lapangan.
“Perkuat sinergi bersama TNI Polri untuk penanganan karhutla ini. Serta cari solusi terbaik untuk penanganan,” katanya.
Salah satu solusi yang dibahas adalah pembangunan sumur bor di sejumlah kawasan rawan karhutla. Keberadaan sumber air tambahan dinilai penting untuk mempercepat pengisian dan distribusi air ketika terjadi kebakaran.
Meski demikian, Agustiar mengingatkan pembangunan sumur bor harus didahului pemetaan agar lokasinya benar-benar sesuai dengan kebutuhan penanganan karhutla.
“Sumur bor ini harus betul-betul di-mapping lokasinya. Sehingga bisa tepat peruntukannya,” tegasnya.
Menurutnya, sumber air yang berada di lokasi strategis akan membantu petugas memangkas waktu pengambilan air. Dengan demikian, proses pemadaman dapat dilakukan lebih cepat sebelum api meluas ke wilayah lain.
Selain sarana pemadaman, perhatian juga diberikan terhadap kebutuhan personel yang bertugas di lapangan. Dalam kunjungannya, Agustiar turut meninjau dapur umum yang disiapkan untuk mendukung kebutuhan logistik petugas selama operasi penanganan karhutla.
“Kesiapan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana, peralatan pemadaman hingga logistik turut menjadi perhatian,” ujarnya.
Ia menekankan dukungan tersebut harus tetap tersedia selama operasi berlangsung. Menurutnya, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya ditentukan oleh peralatan pemadam, tetapi juga kesiapan personel yang bekerja di lapangan.
Agustiar meminta seluruh unsur yang terlibat terus bekerja maksimal dan memperkuat koordinasi hingga kondisi karhutla di Kabupaten Kotawaringin Barat benar-benar terkendali.
Pemerintah daerah juga diharapkan terus memperkuat upaya pencegahan agar kebakaran tidak kembali meluas, terutama di tengah kondisi kemarau dan keterbatasan sumber air yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah Kobar. -red
Penulis: Angel
Editor: Ivonne Hana





















Comments