top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Karhutla di Kalteng Capai 353 Kejadian, Kotim Terluas Terdampak dan Palangka Raya Catat Kasus Terbanyak

Petugas gabungan melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di salah satu titik di Kalimantan Tengah. Hingga 4 Juli 2026, tercatat 353 kejadian karhutla dengan Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah terluas terdampak, sementara Kota Palangka Raya mencatat jumlah kejadian terbanyak. (Foto: BPBD Kotim)
Petugas gabungan melakukan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan di salah satu titik di Kalimantan Tengah. Hingga 4 Juli 2026, tercatat 353 kejadian karhutla dengan Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah terluas terdampak, sementara Kota Palangka Raya mencatat jumlah kejadian terbanyak. (Foto: BPBD Kotim)

KALTENG NETWORK, KOTAWARINGIN TIMUR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah terus meningkat seiring memasuki puncak musim kemarau 2026. Hingga 4 Juli 2026, Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 353 kejadian karhutla, 2.074 titik panas (hotspot), serta 527,30 hektare lahan terbakar berdasarkan laporan dari kabupaten dan kota.


Sementara itu, hasil analisis citra satelit menunjukkan luas area terdampak mencapai 2.915,11 hektare, jauh lebih besar dibandingkan luasan yang telah terverifikasi melalui pendataan di lapangan.


Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPBPK) Provinsi Kalimantan Tengah, Ahmad Toyib, mengatakan Kota Palangka Raya menjadi daerah dengan jumlah kejadian karhutla terbanyak sepanjang tahun ini.


"Kota Palangka Raya mencatat 153 kejadian atau sekitar 43 persen dari total kasus karhutla di Kalimantan Tengah. Selanjutnya Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 57 kejadian dan Kabupaten Barito Utara 45 kejadian," ujar Toyib, Senin (6/7/2026).

Meski demikian, berdasarkan luas lahan yang terbakar, Kabupaten Kotawaringin Timur menjadi wilayah paling terdampak dengan total 133,2 hektare. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Sukamara seluas 124,4 hektare dan Kota Palangka Raya seluas 81,56 hektare.


Sementara itu, dari indikator titik panas, Kabupaten Katingan mencatat jumlah hotspot terbanyak, yakni 305 titik. Disusul Kabupaten Kapuas sebanyak 272 titik dan Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 271 titik panas.


Menurut Toyib, peningkatan jumlah hotspot maupun kejadian karhutla menjadi perhatian serius pemerintah daerah sehingga langkah pencegahan dan penanganan terus diperkuat bersama seluruh pemangku kepentingan.


"Data ini menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih perlu menjadi perhatian serius seluruh pihak. Karena itu, upaya pencegahan dan penanganan terus kami lakukan secara terpadu bersama seluruh stakeholder," katanya.

Untuk mengantisipasi meluasnya kebakaran, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah telah menetapkan Status Siaga Darurat Bencana Karhutla melalui Surat Keputusan Gubernur Nomor 100.3.3.1/142/2026 yang berlaku sejak 26 Mei hingga 31 Oktober 2026. Status serupa juga telah diterapkan di Kota Palangka Raya, Kabupaten Kotawaringin Timur, dan Kabupaten Kapuas.


Selain mengaktifkan Posko Penanganan Darurat Bencana Karhutla, pemerintah bersama berbagai instansi melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bekerja sama dengan BNPB, patroli udara, menyiapkan operasi water bombing, serta meningkatkan patroli lapangan dan sosialisasi pencegahan karhutla.


Salah satu fokus penanganan saat ini berada di kawasan Tumbang Nusa, Kabupaten Pulang Pisau. Hingga Minggu (5/7/2026), operasi pemadaman gabungan di wilayah tersebut telah memasuki hari keempat.


Toyib mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar karena pencegahan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko karhutla.


"Kami mengajak masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar agar target Kalimantan Tengah bebas kabut asap pada 2026 dapat tercapai," pungkasnya. -red

Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page