top of page

Kalteng Mulai Dorong AI dan Coding di Sekolah, Tapi Apakah Anak Pedalaman Siap?

Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang dan mulai digunakan dalam berbagai aktivitas digital serta dunia kerja modern. (Foto: Shutterstock)
Ilustrasi teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin berkembang dan mulai digunakan dalam berbagai aktivitas digital serta dunia kerja modern. (Foto: Shutterstock)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Artificial Intelligence, atau AI, bukan lagi sekadar wacana futuristik. Di Kalimantan Tengah, teknologi ini mulai mengetuk pintu ruang kelas.


Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah lewat Dinas Pendidikan mendorong pembelajaran berbasis AI, coding, dan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi fokus utama pendidikan pada target 2026. Jadi ini bukan hanya sekadar mimpi namun sudah jadi agenda serius.


Kelihatannya, pendidikan di Kalteng sedang benar-benar berubah arah ke dunia digital. Tapi di balik semangat ini, satu pertanyaan yang nggak bisa diabaikan muncul: apakah anak-anak di pedalaman juga akan dapat bagian dari revolusi teknologi ini?


Muhammad Reza Prabowo, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Kalteng, bilang sekarang kompetensi AI dan coding bukan pilihan, tapi keharusan. Biar anak-anak bisa bersaing, katanya, bukan cuma di kota, tapi di mana pun mereka tinggal.


“Di pusat ngomongin STEM, kita di daerah udah bicara implementasi,” ujar Reza Prabowo waktu rapat koordinasi pendidikan awal 2026.


Disdik Kalteng mulai mendorong sekolah-sekolah bikin Research Club. Dari SMA, SMK, sampai sekolah khusus, semua ditekan untuk membiasakan riset dan inovasi teknologi sejak dini.


Sejumlah sekolah sudah dicoba jadi ‘pilot project’. SMP Negeri 1 Sampit, misalnya, diresmikan jadi sekolah model pembelajaran coding dan AI di Kalimantan Tengah bulan April 2026. Di sekolah model seperti ini, siswa belajar logika pemrograman, pakai AI buat pembelajaran, dan mengenal deep learning di kelas.


Tapi, realitas di Kalimantan Tengah gak sesederhana itu.


Provinsi ini luas. Banyak daerah yang masih sulit akses internet, listrik kurang stabil, fasilitas digital seadanya. Di pedalaman, ke sekolah saja kadang harus menempuh sungai atau perjalanan jauh. Sementara di kota-kota, anak-anak bisa belajar coding di laptop pribadi, di pedalaman masih ada yang sharing device dan terbatas kuota internet.


Data BPS sendiri menunjukkan akses teknologi informasi di Indonesia masih timpang, terutama antara kota dan daerah rural atau terpencil. Digital gap ini jadi tantangan berat buat pemerataan pendidikan teknologi.


Dampaknya? Ada kekhawatiran AI justru memperlebar jurang antara sekolah kota dan sekolah pedalaman. Padahal, di Palangka Raya atau Sampit, siswa sudah dengan mudah pakai ChatGPT, aplikasi desain AI, atau belajar coding sedangkan di pedalaman? Tidak semudah itu.


Rina, seorang guru SMA di Barito, bilang, “Takutnya nanti yang maju hanya sekolah kota, sementara pedalaman tertinggal semakin jauh.”


Tapi ya, kalau dipikir, banyak juga pengamat yang lihat sisi lain. Revolusi AI bisa jadi peluang untuk daerah seperti Kalteng. Kalau penerapannya benar, AI bisa membantu guru di pedalaman bikin bahan ajar lebih cepat, siswa belajar lewat digital, sekolah kecil dapat akses ke sumber pengetahuan global.


Secara nasional, pemerintah pusat juga lagi merancang pedoman penggunaan teknologi digital dan AI di pendidikan lewat kerja sama lintas kementerian pada 2026. Transformasi ini akan bakal terus berkembang.


Masalahnya, bukan hanya soal teknologi. Sumber daya manusia juga harus siap. Banyak guru masih meraba cara pakai AI dan digital learning. Siswa, kadang cuma pakai AI buat menyalin jawaban, bukan benar-benar paham alurnya.


Diskusi soal ini ramai dibicarakan generasi muda Indonesia di forum digital. Di Reddit, banyak mahasiswa teknologi bilang AI bikin tugas lebih cepat selesai, tapi mereka juga khawatir kemampuan berpikir mandiri menurun.


Jadi, AI memang bawa dua sisi: peluang besar dan tantangan serius.


Untuk anak muda di Kalteng, masuknya AI ke sekolah bisa jadi momentum penting. Selama ini, banyak yang merasa tertinggal dari kota besar soal teknologi. Dengan internet dan pembelajaran digital, jarak geografis memang mulai terasa menipis. Anak pedalaman sebenarnya bisa belajar coding dari sumber yang sama dengan siswa Jakarta atau Bandung asalkan ada akses.


Intinya, revolusi AI di Kalimantan Tengah bukan cuma soal gadget modern masuk ruang kelas. Ini ujian besar: apakah transformasi digital bisa benar-benar menjangkau semua anak, termasuk yang tinggal jauh di tengah hutan atau tepian sungai?


Kalau berhasil, mungkin untuk pertama kalinya anak pedalaman Kalteng bukan hanya jadi penonton teknologi, tapi ikut jadi bagian dari masa depan itu sendiri. Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page