ICDN Kalteng Ikut Forum Internasional Dayak, Bahas Masa Depan Masyarakat Adat di Era AI
- Fransisca Fethy Angelina
- 3 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Ikatan Cendekiawan Dayak Nasional (ICDN) Provinsi Kalimantan Tengah turut mengambil bagian dalam forum internasional masyarakat Dayak melalui peringatan Hari Orang Asal Sedunia (Indigenous People Day) yang digelar Borneo Dayak Forum (BDF) pada 21–23 Agustus 2026 di Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia.
Keterlibatan ICDN Kalteng menjadi bagian dari upaya memperkuat peran dan suara masyarakat Dayak sebagai orang asal Borneo dalam menghadapi berbagai perubahan global, termasuk perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Delegasi ICDN Kalteng dipimpin Ketua ICDN Kalteng Dr. Eng. Indrawan P. Kamis, didampingi Wakil Ketua Bidang Dr. Yulian Sulat dan Ir. Christanto T. Ladju serta sejumlah pengurus lainnya.
Forum tersebut dihadiri delegasi masyarakat Dayak dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Peserta dari sejumlah negara lain, termasuk Amerika Serikat, Australia dan negara-negara Uni Eropa, turut hadir dalam agenda tersebut.
Peringatan Hari Orang Asal Sedunia 2026 mengangkat tema “Indigenous People and AI: Shaping Our Future and Defending Our Rights Through Borneo Dayak Unity and Solidarity.”
Tema tersebut membahas tantangan sekaligus peluang masyarakat adat di tengah perkembangan teknologi AI. Persatuan masyarakat Dayak dinilai penting agar perkembangan teknologi tetap berjalan seiring dengan perlindungan hak dan identitas masyarakat adat.
Dalam forum tersebut, Presiden Borneo Dayak Forum Datuk Panglima Dr. Jeffrey Kitingan menekankan pentingnya menggali kembali ancestral intelligence atau kecerdasan warisan leluhur Dayak Borneo yang tersimpan dalam bentuk kearifan lokal dan pengetahuan tradisional.
Menurutnya, warisan pengetahuan tersebut tidak seharusnya ditinggalkan ketika masyarakat memasuki era kecerdasan buatan. Kearifan leluhur justru dapat menjadi panduan dalam menyikapi perkembangan AI yang berpotensi mengubah berbagai aspek kehidupan.
“Ancestral intelligence merupakan warisan leluhur Dayak Borneo yang harus menjadi panduan dalam berinteraksi dengan Artificial Intelligence, baik saat ini maupun di masa depan,” demikian pokok pesan Jeffrey Kitingan dalam forum tersebut.
Pertemuan masyarakat Dayak dari berbagai negara itu juga menghasilkan Deklarasi Kinabalu. Deklarasi tersebut memperkuat semangat yang sebelumnya dituangkan dalam Deklarasi Palangka Raya 2025, khususnya terkait penguatan hak masyarakat Dayak di tanah Borneo.
Selain memperkuat hak masyarakat adat, Deklarasi Kinabalu turut menekankan pentingnya persatuan Dayak lintas negara melalui berbagai program strategis.
Salah satu gagasan yang kembali mengemuka adalah pembangunan dan pengembangan pusat peradaban Dayak di Tumbang Anoi sebagai bagian penting dari sejarah sekaligus masa depan masyarakat Dayak.
Forum tersebut juga mendorong penguatan 24 Juli sebagai Hari Dayak Internasional. Momentum ini diharapkan dapat mempererat persatuan, solidaritas, serta kesadaran sejarah masyarakat Dayak di Borneo dan dunia.
Keterlibatan ICDN Kalteng dalam forum internasional tersebut diharapkan dapat memperluas jejaring masyarakat Dayak sekaligus membuka ruang dialog mengenai masa depan masyarakat adat, pelestarian budaya, perlindungan hak-hak tradisional, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana.
Agenda di Kota Kinabalu menjadi ruang bagi delegasi Dayak dari berbagai negara untuk menyatukan pandangan dan memperkuat solidaritas dalam menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan akar budaya dan identitas leluhur. -red
Penulis: Angel
Editor: Wiyandri





















Comments