top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Helikopter Water Bombing Mulai Padamkan Karhutla di Kotim, Fokus di Desa Eka Bahurui

Ilustrasi helikopter water bombing. (Foto: AI Generated)
Ilustrasi helikopter water bombing. (Foto: AI Generated)

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kini diperkuat melalui operasi udara. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mulai mengerahkan helikopter water bombing untuk memadamkan titik-titik api yang sulit dijangkau petugas di darat.


Operasi udara perdana dilaksanakan di wilayah Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Langkah tersebut diambil menyusul meningkatnya kejadian karhutla dalam sepekan terakhir, baik di sekitar Kota Sampit maupun wilayah pedalaman.


Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan meningkatnya intensitas kebakaran membuat penanganan melalui jalur darat tidak lagi mampu menjangkau seluruh lokasi terdampak.


"Dalam sepekan terakhir kejadian karhutla di Kabupaten Kotim cukup banyak. Ada yang bisa kami tangani melalui operasi darat, namun ada juga yang membutuhkan dukungan operasi udara. Karena itu kami mengajukan bantuan helikopter water bombing ke Posko Penanggulangan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah dan sejak Selasa sore pemadaman menggunakan heli sudah mulai dilakukan," ujarnya, Rabu (8/7/2026).

Menurut Multazam, satu tim BPBD Kotim telah berada di lokasi sejak pagi untuk mendampingi operasi helikopter sekaligus memastikan koordinasi antara tim darat dan udara berjalan efektif.


Ia berharap penyiraman air dari udara mampu mempercepat proses pemadaman dan mencegah api meluas ke kawasan lain.


Selain di Desa Eka Bahurui, kebakaran lahan di kawasan Jalan Tjilik Riwut, tepatnya di sekitar jalur lepas landas dan pendaratan Bandara H Asan Sampit, juga masih menjadi perhatian. Hingga Selasa sore, lahan yang terbakar di kawasan tersebut masih mengeluarkan kepulan asap.


Kondisi itu dinilai berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan apabila asap semakin pekat. Di sisi lain, proses pemadaman dari darat terkendala keterbatasan sumber air.


"Air hanya tersedia di parit yang jaraknya sekitar 100 meter dari titik api. Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga ekstra," jelas Multazam.

BPBD Kotim masih menunggu hasil kaji cepat di lapangan sebagai dasar penyusunan langkah penanganan lanjutan bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.


Dengan dukungan operasi water bombing, diharapkan kebakaran dapat segera dikendalikan sehingga tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar terhadap masyarakat maupun aktivitas penerbangan. -red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page