top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Catat 676 Kasus HIV, Hampir Separuh Pasien Putus Berobat

Ilustrasi penyakit HIV. (Foto: AI Generated)
Ilustrasi penyakit HIV. (Foto: AI Generated)

KALTENG NETWORK, KOTAWARINGIN BARAT – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mencatat sebanyak 676 kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) secara kumulatif. Namun, hanya 295 Orang Dengan HIV (ODHIV) atau sekitar 43,6 persen yang masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV).


Kepala Dinas Kesehatan Kobar, Hardino, mengatakan sebanyak 322 ODHIV atau sekitar 46,9 persen tercatat tidak lagi melanjutkan pengobatan atau lost to follow up (LFU). Kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena dapat berdampak pada kesehatan pasien maupun upaya pengendalian penyebaran HIV.


"Hanya 295 Orang Dengan HIV (ODHIV) atau sekitar 43,6 persen yang masih aktif menjalani terapi antiretroviral (ARV). Sisanya 322 orang atau 46,9 persen tercatat sudah tidak aktif kembali menjalani pengobatan. Ini yang berbahaya," ujar Hardino, Kamis (9/7/2026).

Selain tingginya jumlah pasien yang menghentikan pengobatan, Dinkes Kobar juga mencatat penambahan 26 kasus HIV baru hingga pertengahan tahun 2026. Seluruh pasien yang terdiagnosis telah mendapatkan terapi ARV untuk menjaga kondisi kesehatan sekaligus menekan risiko penularan.


"Awal Juni 2026 hingga saat ini ada 26 kasus HIV baru yang kita tangani. Saat ini semuanya sedang diterapi ARV agar kondisi kesehatannya tetap terjaga sekaligus mengurangi risiko penularan kepada orang lain," katanya.

Hardino menjelaskan, putusnya terapi ARV tidak hanya berdampak pada kondisi kesehatan ODHIV, tetapi juga meningkatkan risiko penularan kepada pasangan maupun dari ibu kepada bayi apabila tidak mendapatkan layanan pencegahan yang memadai.


Menurutnya, stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu hambatan utama. Banyak ODHIV enggan memeriksakan diri atau menghentikan pengobatan karena khawatir dikucilkan oleh lingkungan.


Ia menegaskan HIV tidak menular melalui kontak sosial sehari-hari, seperti berjabat tangan, berpelukan, berbagi makanan, maupun menggunakan toilet bersama.


"Penularan HIV hanya terjadi melalui hubungan seksual berisiko tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang tidak aman, serta dari ibu yang hidup dengan HIV kepada bayinya apabila tidak mendapatkan pencegahan," jelasnya.

Hardino menambahkan, terapi ARV yang dijalani secara konsisten memungkinkan ODHIV tetap hidup sehat, produktif, dan memiliki harapan hidup yang baik. Sebaliknya, penghentian pengobatan dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga meningkatkan risiko infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis dan pneumonia, bahkan berkembang menjadi AIDS apabila tidak segera ditangani.


Untuk menekan penyebaran HIV, Dinas Kesehatan Kobar terus memperkuat berbagai program, antara lain perluasan layanan skrining HIV, Mobile Voluntary Counseling and Testing (VCT), penyediaan obat ARV, penguatan layanan Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP), pelacakan pasien yang putus berobat, integrasi layanan TB-HIV, serta edukasi di sekolah, tempat kerja, dan masyarakat.


Dinkes juga mengimbau masyarakat menghindari perilaku berisiko, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, serta melakukan tes HIV apabila memiliki faktor risiko. Pemeriksaan HIV bagi ibu hamil juga terus didorong sebagai bagian dari upaya mencegah penularan dari ibu kepada bayi. -red


Penulis: Angel

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page