34 minutes ago2 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Harga bahan pangan makin naik, hidup di kota semakin mahal, dan orang-orang di Kalimantan Tengah mulai mencari solusi sederhana: urban farming. Di halaman rumah, di pojok pekarangan, bahkan di atap bangunan, warga menanam cabai, kangkung, tomat, selada, dan tanaman herbal. Mereka tidak pakai alat canggih, hanya tanah dan ketekunan. Awalnya untuk kebutuhan sehari-hari, tapi lama-lama, hasil panen itu dijual juga.
Fenomena urban farming ini muncul di banyak kota, seperti Palangka Raya, Sampit, Kuala Kapuas mulai ramai terutama setelah orang sadar pentingnya ketahanan pangan keluarga. Sebenarnya, urban farming bukan hal baru. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, tren ini jadi bagian ekonomi keluarga modern. Orang sudah bosan dengan harga cabai yang tiba-tiba melonjak atau stok sayur yang menipis. Menanam sendiri rasanya jadi solusi paling masuk akal.
Laporan Badan Pusat Statistik jelas: inflasi makanan masih jadi beban pengeluaran rumah tangga. Harga cabai, bawang, sayuran naik, dan langsung terasa di dapur. Di Kalimantan Tengah, bahan pangan tertentu masih bergantung dari luar. Kalau pasokan terganggu, harga bisa berubah sekejap karena biaya logistik dan kondisi geografis yang khas.
Urban farming jadi makin menarik buat warga. Dengan menggarap halaman rumah, orang bisa mengurangi belanja harian dan sekaligus menambah penghasilan. Beberapa orang bahkan menjual hasil panen kecil lewat grup WhatsApp, media sosial, atau pasar lokal. Ada warga di Palangka Raya yang awalnya menanam pakai hidroponik hanya untuk keluarga, tapi akhirnya tetangganya ikut beli juga.
Urban farming di Kalimantan Tengah punya keunggulan tersendiri. Banyak rumah masih punya tanah kosong yang lumayan untuk tanam-tanaman. Curah hujan dan sinar matahari juga mendukung pertumbuhan sayur dan buah. Tidak cuma sayuran, warga mulai budidaya ikan, menanam herbal, bikin pupuk kompos dari limbah rumah tangga. Perlahan, sistem ekonomi mikro ini bergerak, membangun ketahanan lokal.
FAO bilang urban farming punya kontribusi besar: memperkuat ketahanan pangan kota, mengurangi emisi distribusi, meningkatkan kualitas konsumsi, dan akhirnya menjaga kestabilan ekonomi rumah tangga kalau krisis pangan datang. Selain urusan ekonomi, urban farming juga punya dampak ke kesehatan mental dan lingkungan. Berkebun bikin stres berkurang, udara sekitar rumah jadi segar, hubungan tetangga juga makin akrab.
Tentu, urban farming di Kalimantan Tengah tidak tanpa hambatan. Kurangnya pengetahuan teknis soal pertanian modern skala kecil masih jadi masalah. Banyak yang masih menganggap bertani butuh lahan luas dan modal besar, padahal teknologi hidroponik, vertikal garden, serta irigasi mini mulai mudah diakses. Anak-anak muda mulai melirik urban farming, menggabungkan dengan konten media sosial dan bisnis digital juga.
Potensinya jelas. Urban farming bisa jadi peluang ekonomi baru, bukan sekadar aktivitas menanam sayur, tapi berkembang ke industri lokal berbasis komunitas. Kota-kota di Kalimantan Tengah masih punya ruang cukup, belum terlalu padat seperti kota metropolitan. Jadi, peluang membangun ekosistem pangan lokal masih terbuka lebar.
Kalau dapat dukungan pelatihan, akses bibit, teknologi sederhana, sampai pemasaran digital, urban farming bisa tumbuh jadi kekuatan ekonomi baru dari halaman rumah. Ekonomi besar kadang bukan lahir dari gedung tinggi atau kawasan industri. Bisa saja, perubahan itu justru mulai dari pot kecil di depan rumah—ditanam diam-diam, dirawat setiap pagi, dan akhirnya menghidupi orang banyak. -red
Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana




Comments