top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Festival Sastra HISKI di UPR Dorong Pelestarian Budaya dan Literasi Generasi Muda

Festival Sastra dan Sarasehan Budaya yang diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di Aula Universitas Palangka Raya, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, sastrawan, dan pegiat budaya dalam memperkuat literasi serta pelestarian budaya Indonesia. (Foto: MC Kota Palangka Raya)
Festival Sastra dan Sarasehan Budaya yang diselenggarakan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) di Aula Universitas Palangka Raya, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, sastrawan, dan pegiat budaya dalam memperkuat literasi serta pelestarian budaya Indonesia. (Foto: MC Kota Palangka Raya)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) menggelar Festival Sastra dan Sarasehan Budaya di Aula Universitas Palangka Raya (UPR), Rabu (15/7/2026). Kegiatan yang dilaksanakan secara luring dan daring itu menjadi ruang kolaborasi bagi akademisi, sastrawan, pegiat budaya, dan generasi muda untuk memperkuat pelestarian sastra serta budaya Indonesia di tengah arus globalisasi.


Festival tersebut diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkan diskusi mengenai pengembangan sastra berbasis budaya lokal sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas bangsa sekaligus mendorong lahirnya karya-karya yang relevan dengan perkembangan zaman.


Ketua Umum HISKI, Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum mengatakan kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari pelatihan penulisan berbasis tradisi lisan dan manuskrip yang telah dilaksanakan pada Juni 2025.


Menurutnya, festival ini diharapkan menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan di berbagai komunitas sastra dan budaya, khususnya di Kalimantan Tengah, sehingga kekayaan tradisi lokal tidak hanya terdokumentasi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat.


"Karya-karya ini adalah harta pusaka kita bersama. Kita harus menjaga, merawat, mengembangkan, dan memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan bersama," ujar Novi.

Ia juga mengapresiasi para akademisi, sastrawan, dan pegiat budaya yang terus mengangkat kekayaan tradisi lisan dari berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk mendorong generasi muda menghasilkan karya sastra yang berakar pada budaya lokal.


Sementara itu, Direktur Program Pascasarjana UPR, Prof. Dr. I Nyoman Suyana, M.Sc menegaskan perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keberlangsungan sastra dan budaya sebagai bagian dari pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.


Menurutnya, pelestarian kebudayaan tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan sinergi antara perguruan tinggi, organisasi profesi, pemerintah, komunitas budaya, dan masyarakat.


"Untuk mewujudkan pembangunan ekosistem kebudayaan yang berkelanjutan tidak dapat dilakukan sendiri oleh perguruan tinggi. Diperlukan kolaborasi antara institusi pendidikan tinggi, organisasi profesi seperti Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia, pemerintah, komunitas budaya, dan generasi muda," katanya.

Ia menambahkan, sastra bukan sekadar karya tulis, melainkan cerminan peradaban yang mampu menghubungkan nilai-nilai masa lalu dengan tantangan masa kini dan masa depan.


Festival tersebut juga dibuka oleh Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini. Dalam sambutannya, ia menegaskan sastra dan budaya memiliki peran penting sebagai penguat identitas, penuntun moral, sekaligus jembatan dialog antargenerasi di tengah pesatnya perkembangan teknologi.


"Sastra bukan sekadar rangkaian kata, melainkan ruang tempat manusia menyimpan ingatan, merawat nilai, dan membangun peradaban. Melalui sastra kita belajar memahami kehidupan dengan lebih arif, sedangkan melalui budaya kita mengenali akar yang menguatkan langkah menuju masa depan," ujar Zaini.

Menurutnya, Kota Palangka Raya yang tumbuh di tengah keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya memiliki modal sosial yang kuat untuk membangun masyarakat yang harmonis. Nilai-nilai Huma Betang, lanjutnya, menjadi warisan budaya yang relevan untuk terus dihidupkan melalui karya sastra, penelitian, maupun berbagai kegiatan kebudayaan.


Ia berharap Festival Sastra dan Sarasehan Budaya tidak hanya menjadi ruang apresiasi karya, tetapi juga melahirkan berbagai gagasan, kolaborasi, dan inovasi yang mampu memperkuat ekosistem sastra, meningkatkan literasi, serta melestarikan budaya Indonesia.


"Pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur fisik, tetapi juga dari kualitas karakter, kecerdasan budaya, serta kemampuan masyarakat dalam merawat identitasnya di tengah perubahan zaman," pungkasnya.

Melalui kegiatan tersebut, HISKI bersama Universitas Palangka Raya berharap lahir semakin banyak karya sastra yang berakar pada budaya lokal sekaligus mampu memperkuat karakter bangsa serta menginspirasi generasi muda untuk terus mencintai dan melestarikan kekayaan budaya Indonesia. -red


Penulis: Angel

Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page