top of page

Fenomena Anak Muda yang Lebih Suka Kolaborasi daripada Kompetisi

Ilustrasi anak muda Kalteng yang sedang bekerja sama di sebuah creative space modern atau co-working space. (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi anak muda Kalteng yang sedang bekerja sama di sebuah creative space modern atau co-working space. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Jika beberapa tahun lalu kesuksesan sering digambarkan sebagai kemampuan mengalahkan pesaing, kini banyak anak muda Kalimantan Tengah justru menunjukkan kecenderungan yang berbeda. Di berbagai komunitas kreatif, organisasi mahasiswa, pelaku UMKM muda, hingga kreator konten digital, budaya kolaborasi mulai lebih menonjol dibanding kompetisi.


Mereka memilih bekerja bersama, berbagi jaringan, bahkan saling mempromosikan, daripada bersaing secara terbuka untuk menjadi yang paling unggul. Fenomena ini terlihat di berbagai sektor. Komunitas fotografi berkolaborasi dengan pelaku UMKM untuk membuat promosi produk.


Kreator konten bekerja sama membuat proyek bersama daripada berlomba mendapatkan audiens yang sama. Komunitas lari, musik, hingga esports juga semakin sering mengadakan kegiatan lintas komunitas yang melibatkan banyak pihak sekaligus. Di Kalimantan Tengah, pola ini mulai menjadi ciri khas baru generasi muda yang tumbuh di era digital.


Menurut penelitian Aditia Wirayudha dan tim dari Universitas Islam Bandung dalam jurnal Academy of Education Journal tahun 2025, Generasi Z memiliki karakter yang disebut sebagai collaborative achiever, yaitu kelompok yang tetap berorientasi pada pencapaian, tetapi lebih menyukai proses yang melibatkan kerja sama dan hubungan sosial dibanding persaingan individual yang ketat.


Penelitian tersebut menemukan bahwa kebutuhan untuk berafiliasi dan bekerja bersama menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi motivasi generasi muda saat ini


Karakter ini berbeda dengan stereotip lama yang menganggap kesuksesan hanya dapat dicapai melalui kompetisi. Bagi banyak anak muda saat ini, keberhasilan tidak lagi dilihat sebagai siapa yang paling unggul sendirian, melainkan siapa yang mampu membangun jaringan dan menghasilkan dampak bersama.


Perkembangan teknologi digital juga menjadi faktor yang memperkuat budaya kolaborasi. Media sosial memungkinkan individu dan komunitas saling terhubung tanpa batas geografis. Seseorang di Palangka Raya dapat bekerja sama dengan desainer di Sampit, videografer di Pangkalan Bun, atau kreator dari luar Kalimantan tanpa harus bertemu langsung.


Menurut penelitian Fitriyanto dan Ibnu Sulaiman mengenai komunitas kolaboratif generasi muda, komunitas berbasis minat berkembang karena mampu menciptakan ruang yang didasarkan pada kesamaan tujuan dan kerja sama, bukan sekadar struktur formal.


Penelitian tersebut menunjukkan bahwa generasi muda cenderung tertarik pada wadah yang memungkinkan mereka saling berbagi pengetahuan dan pengalaman secara setara.


Fenomena tersebut juga terlihat dalam kehidupan sehari-hari anak muda Kalteng. Banyak kegiatan yang sebelumnya dijalankan secara terpisah kini dilakukan bersama. Event komunitas sering kali melibatkan beberapa organisasi sekaligus.


Pelaku usaha muda saling membantu promosi produk melalui media sosial. Bahkan di dunia kreatif, konsep cross collaboration semakin umum dilakukan untuk memperluas jangkauan audiens masing-masing.


“Kalau sekarang justru lebih enak kolaborasi. Kita bisa belajar dari orang lain dan hasilnya biasanya lebih besar daripada kerja sendiri,” kata Fadli Ramadhan, salah satu penggerak komunitas kreatif di Palangka Raya.


Penelitian mengenai komunitas Generasi Z juga menunjukkan bahwa faktor kedekatan sosial menjadi alasan penting mengapa mereka lebih nyaman bekerja dalam kelompok. Menurut penelitian I Putu Yoga Pratama dan tim dalam Jurnal Ilmiah Teknik Informatika dan Komunikasi, komunitas berbasis minat memberikan ruang interaksi yang mendorong keterbukaan, rasa percaya, dan hubungan yang lebih kuat antaranggota.


Faktor-faktor tersebut kemudian menjadi fondasi lahirnya kolaborasi yang berkelanjutan.

Di sisi lain, dunia kerja modern juga semakin menghargai kemampuan berkolaborasi.


Laporan berbagai lembaga ketenagakerjaan internasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa keterampilan seperti komunikasi, kerja tim, pemecahan masalah bersama, dan kemampuan beradaptasi menjadi kompetensi yang semakin dibutuhkan di era ekonomi digital. Kesuksesan tidak lagi hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga kemampuan membangun sinergi dengan orang lain.


Bagi Kalimantan Tengah, budaya kolaborasi ini berpotensi menjadi modal sosial yang sangat penting. Sebagai daerah yang sedang berkembang, kemajuan tidak hanya bergantung pada pemerintah atau sektor swasta semata, tetapi juga pada kemampuan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk bekerja sama menciptakan solusi dan peluang baru.


Meski demikian, para pengamat sosial mengingatkan bahwa kolaborasi bukan berarti menghilangkan kompetisi sepenuhnya. Kompetisi tetap diperlukan untuk mendorong inovasi dan meningkatkan kualitas.


Namun yang berubah adalah cara memandangnya. Kompetisi tidak lagi harus menghasilkan rivalitas yang merugikan, melainkan dapat berjalan berdampingan dengan semangat kerja sama.


Di tengah dunia yang semakin terhubung, anak muda Kalteng tampaknya mulai memahami satu hal penting: tidak semua orang harus menjadi pemenang tunggal. Dalam banyak situasi, keberhasilan justru lahir ketika banyak orang bergerak bersama menuju tujuan yang sama.


Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda Kalimantan Tengah sedang membangun budaya baru. Bukan budaya saling mengalahkan, melainkan budaya saling menguatkan. Dan di era yang menuntut kreativitas serta jaringan yang luas, kemampuan berkolaborasi mungkin akan menjadi salah satu keunggulan terbesar mereka di masa depan. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page