2 hours ago3 min read



KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Profesi petani sering dipandang kurang menarik, terutama buat anak muda. Tidak heran banyak yang memilih ke kota besar, mencari kerja kantoran, atau melanjutkan pendidikan, daripada meneruskan usaha di sawah orang tua. Tapi, belakangan, peta mulai bergeser, termasuk di Kalimantan Tengah. Ada gelombang baru yaitu anak-anak muda yang kembali atau bahkan pertama kali terjun ke dunia pertanian. Mereka nggak cuma menanam padi atau sayur dengan cara lama, tapi juga ngulik hidroponik, kebun digital, bahkan bisnis pertanian yang pakai aplikasi sampai pemasaran online.
Anak-anak muda ini memang berbeda gaya dari generasi sebelumnya. Bertani sekarang, buat mereka, bukan sekadar kerja fisik dan peluh yang mengucur di sawah. Mereka menggabungkan teknologi, main konten di media sosial, bahkan bisnis online. Ada yang jual hasil panen langsung ke konsumen lewat Instagram dan marketplace, ada juga yang bikin video edukasi bertani atau malah menciptakan produk-produk turunan dari hasil kebunnya. Dulu pertanian terasa konvensional, sekarang sudah mulai naik derajat jadi peluang bisnis yang follow tren anak muda.
Coba lihat angka dari Badan Pusat Statistik (BPS): menurut Sensus Pertanian 2023, jumlah petani milenial di Indonesia (umur 19–39 tahun) udah tembus 6,18 juta orang, atau hampir 22 persen dari total petani nasional. Sebenarnya belum jadi mayoritas, tapi kehadiran mereka penting banget buat peremajaan dunia pertanian Indonesia.
Buat Kalteng sendiri, kehadiran petani muda ini diperhitungkan. Daerah seluas itu, banyak lahan tidur—potensi pertanian dan perkebunan terbuka lebar. Komoditas sawit dan karet memang sudah lama jadi andalan ekonomi. Tapi peluang buat bisnis sayuran, buah tropis, sampai pertanian urban yang kekinian itu juga besar banget.
Dr. Rinto Alexandro, pengamat pertanian dari Universitas Palangka Raya, bilang kalau pola pikir anak muda sekarang memang beda. Mereka tidak melihat bertani cuma sebagai pewaris lahan keluarga, tapi lebih ke peluang bisnis yang bisa digarap profesional. “Sekarang banyak anak muda melihat pertanian bukan hanya soal menanam, tapi juga manajemen, pemasaran, teknologi, dan peluang usaha,” katanya di beberapa diskusi.
Teknologi menjadi salah satu kunci kenapa banyak anak muda mulai pede terjun ke pertanian. Beda sama orang tua dulu yang jual hasil panen ke tengkulak atau cuma di pasar tradisional, petani muda sekarang punya akses luas lewat media sosial dan marketplace. Mereka gampang belajar teknik bertani kekinian, bahkan dari YouTube atau kursus online, tanpa harus meninggalkan desa.
Isu ketahanan pangan yang terus disorot juga bikin pertanian kembali seksi. Lembaga dunia kayak FAO berkali-kali ingetin pentingnya regenerasi petani, karena usia petani rata-rata makin tua. Kalau nggak ada anak muda yang turun gunung, rantai produksi pangan bisa goyah di masa depan.
Meski tren ini positif, jangan dibikin seolah-olah tantangannya kecil. Nyatanya, banyak juga hambatannya. Modal usaha susah didapat, soal lahan sering bikin pusing, harga komoditas naik turun, dan kadang akses teknologi di desa juga masih kurang. Di grup-grup petani muda, mereka terang-terangan bilang butuh pelatihan, akses pasar, bahkan sarana pendukung lebih baik supaya mereka bisa berkembang dan nggak setengah-setengah di pertanian.
Meskipun begitu, tetap ada alasan buat optimis. Data terbaru BPS bilang ada kenaikan jumlah rumah tangga usaha pertanian di Indonesia, sekarang tembus 28,4 juta—lebih tinggi dari sepuluh tahun lalu. Angka itu nunjukin sektor ini masih nempel kuat di ekonomi masyarakat dan daya tarik ekonominya masih besar.
Di Kalteng, pertanian kekinian makin nyambung sama geliat ekonomi kreatif. Anak muda sekarang bisa dapat duit bukan cuma dari hasil panen, tapi juga dari produk olahan, pemasaran digital, sampai wisata edukasi pertanian dan konten kreatif. Jadi, bertani itu tidak lagi hanya soal produksi pangan, tapi udah masuk ke ekonomi yang lebih luas dan lekat sama gaya hidup.
Yang pasti, pola pikir anak muda soal pertanian sedang berubah. Kalau dulu pertanian jadi opsi terakhir, sekarang makin banyak yang anggap ini peluang masa depan. Tantangannya: apakah daerah mampu nyiapin ekosistem biar anak muda bisa sukses di bidang ini?
Kalau dukungan buat inovasi, teknologi, dan akses pasar terus jalan, baliknya anak muda ke pertanian bukan cuma tren musiman. Bisa-bisa ini awal lahirnya generasi baru petani Kalteng yang cara kerjanya lebih modern, kreatif, dan sanggup bersaing di ekonomi masa depan. Penulis: Emuna Asie Editor: Angel




Comments