top of page

Dulu Ingin Jadi PNS, Kini Anak Muda Kalteng Lebih Pilih Mengejar Kebebasan dan Bangun Personal Branding

Ilustrasi anak muda  yang mulai membangun personal branding dan karier digital (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi anak muda yang mulai membangun personal branding dan karier digital (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA - Dulu, jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kalimantan Tengah rasanya seperti memegang tiket emas. Statusnya jelas gaji pasti, masa depan terlihat aman. Banyak keluarga sampai berharap anaknya ambil jalur ASN, soalnya dianggap paling “pakem.”


Tapi, sekarang ceritanya mulai berubah. Anak muda, terutama Gen Z di Kalteng, jadi lebih suka membangun personal branding daripada kejar status PNS. Mereka sibuk bikin konten di TikTok, Instagram, YouTube buka jasa desain, fotografi, videografi; jadi freelancer, admin media sosial, bahkan merintis bisnis online dari nama sendiri. Buat mereka, dikenal orang dan punya value diri kayaknya udah jauh lebih penting daripada sekadar kerja tetap.


Ini nggak cuma terjadi di Kalteng, tapi di seluruh negeri. Data Kementerian Pemuda dan Olahraga bilang, ada sekitar 64 juta pemuda di Indonesia, hampir seperlima dari populasi. Anak muda sekarang paling aktif di transformasi digital dan ekonomi kreatif. Mereka nggak sekadar pakai internet, tapi benar-benar hidup di dalamnya.


Nah, kemunculan media sosial bikin standar sukses juga berubah. Dulu, sukses identik sama seragam kantor dan jabatan. Sekarang, sukses bisa berarti punya audiens sendiri, identitas digital, cuan dari internet, dan kerja fleksibel.


Tio, pengamat komunikasi digital di Palangka Raya, bilang, “Anak muda sekarang ingin dikenal lewat karya atau identitas, bukan cuma jabatan.” Bahkan di kota-kota seperti Palangka Raya dan Sampit, coffee shop udah kayak kantor kedua. Banyak anak nongkrong sambil buka laptop, edit video, urus bisnis online, atau bangun portofolio digital.


Media sosial sekarang juga jadi aset ekonomi. Nggak cuma buat hiburan. Data Kementerian Ekonomi Kreatif mencatat, tenaga kerja di sektor ekonomi kreatif Indonesia bisa mencapai 27 juta orang pada 2025, dan mayoritasnya anak muda. Menteri UMKM Maman Abdurrahman bahkan bilang, 84 persen anak muda Indonesia tertarik jadi wirausaha di sektor kreatif.


Jadi, pola pikir anak muda Kalteng berubah. Karier nggak wajib linear. Seseorang bisa jadi videografer tanpa kuliah perfilman, jadi kreator konten tanpa masuk media besar, atau bangun bisnis cuma pakai HP dan Wi-Fi. Profesi ASN tetap dicari, terutama buat yang butuh keamanan finansial.


BKN juga catat, banyak Gen Z masuk ke instansi pemerintahan baru. Tapi, banyak anak muda merasa dunia kerja formal terlalu kaku dibanding peluang digital yang lebih bebas dan cepat.


Media sosial juga efeknya gila. Sukses orang lain kelihatan real-time. Ngeliat kreator lokal dapet uang dari endorsement, editing, atau bisnis online, makin yakin bahwa sukses nggak harus lewat jalur konvensional.


Personal branding jadi “mata uang sosial.” Makin dikenal, makin gampang dapat proyek, relasi, bahkan penghasilan. Makanya, anak muda sekarang makin serius bangun identitas digital mulai dari isi feed Instagram, public speaking, desain konten, sampai gaya bicara depan kamera.


Tapi, nggak semuanya mulus. Dunia digital itu keras, persaingan tinggi, algoritma berubah terus, dan tuntutan buat selalu produktif bisa bikin stres. Kadang, terlalu fokus cari validasi digital bikin lupa bangun skill jangka panjang.


Jadi, perubahan ini nggak harus jadi pertentangan antara “PNS vs kreator konten.” Sebenarnya, ini soal bagaimana generasi muda memandang sukses.


Kalau dulu sukses = aman, sekarang sukses = bebas, punya identitas, dan berkembang.


Kalimantan Tengah punya peluang besar. Internet dan ekonomi digital makin luas. Anak muda di daerah bisa bikin karya tanpa harus pindah ke kota besar.


Sekarang, pertanyaannya bukan lagi, “Apakah anak muda Kalteng masih mau jadi PNS?” Tapi, “Apakah daerah ini siap dukung generasi muda yang mau sukses lewat jalur baru yang bahkan belum pernah kebayang di generasi sebelumnya?”-red Penulis: Emuna Asie Editor: Ivonne Hana

Comments


bottom of page