BPBD Kotim Ajukan Bantuan Helikopter Water Bombing, Karhutla Mulai Sulit Dikendalikan
- Fransisca Fethy Angelina
- 9 hours ago
- 2 min read

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengajukan permohonan bantuan helikopter water bombing kepada Posko Penanganan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah menyusul meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah sejak awal Juli 2026.
Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan intensitas karhutla dalam sepekan terakhir terus meningkat. Sejumlah titik api berhasil dipadamkan, namun sebagian lainnya masih sulit ditangani karena berada di lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat dan minim sumber air.
"Sejak seminggu hingga hari ini sudah banyak kejadian karhutla di Kabupaten Kotim. Ada yang dapat kami tangani, ada juga yang tidak dapat kami tangani," ujar Multazam, Selasa (7/7/2026).
Menurutnya, BPBD telah berkoordinasi dengan Posko Penanganan Bencana Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah untuk meminta dukungan operasi pemadaman melalui udara.
"Sejak kemarin kami berkomunikasi dengan Posko Bencana Karhutla Provinsi Kalteng untuk dapat dibantu unit heli water bombing," katanya.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemadaman, terutama di Desa Eka Bahurui, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, yang hingga kini menjadi salah satu lokasi dengan kondisi kebakaran paling sulit ditangani karena didominasi lahan gambut.
Multazam menjelaskan, Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD kembali melakukan kaji cepat di lokasi pada Selasa pagi untuk memantau perkembangan kebakaran sekaligus menentukan langkah penanganan selanjutnya.
"Kami mohon dukungan dan doa. Mudah-mudahan situasi ini dapat terkendali," ujarnya.
Sejak awal Juli 2026, sejumlah kejadian karhutla terjadi di wilayah Kotawaringin Timur. Kebakaran pertama dilaporkan pada 2 Juli di kawasan Lingkar Utara Sampit, Baamang Hulu. Titik api di lokasi tersebut masih terdeteksi hingga keesokan harinya dan berada di sekitar kawasan Bandara H Asan Sampit sehingga memerlukan penanganan intensif dari tim gabungan.
Pada 3 Juli, kebakaran juga terjadi di Desa Eka Bahurui dengan perkiraan luas lahan terbakar mencapai sekitar lima hektare. Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman berlangsung lebih sulit karena api dapat terus membara di bawah permukaan tanah.
Kebakaran kembali terpantau di kawasan Baamang Hulu pada 6 Juli. Berdasarkan laporan lapangan, titik api berada sekitar tiga nautical mile atau sekitar 5,5 kilometer dari Bandara H Asan Sampit dengan luas area terdampak diperkirakan sekitar tiga hektare.
Selain mengupayakan bantuan pemadaman melalui udara, BPBD Kotim mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum kebakaran meluas. -red
Penulis: Angel
Editor: Emuna Asie





















Comments