top of page
KN DPRD BHAYANGKARA.png

Berita Terpopuler

Asap Makin Parah, Orang Tua Siswa Sampit Keberatan Belajar Tatap Muka

Kondisi kabut asap menyelimuti salah satu ruas jalan di Kota Sampit pada pagi hari. (Foto: Dok. Nafiri)
Kondisi kabut asap menyelimuti salah satu ruas jalan di Kota Sampit pada pagi hari. (Foto: Dok. Nafiri)

KALTENG NETWORK, SAMPIT – Sejumlah orang tua siswa di Kota Sampit mengeluhkan masih adanya sekolah yang menerapkan pembelajaran tatap muka di tengah kondisi kabut asap yang semakin pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).


Para orang tua menilai kondisi kualitas udara saat ini berisiko terhadap kesehatan anak apabila mereka tetap harus beraktivitas di luar rumah untuk mengikuti pembelajaran di sekolah.


Keluhan tersebut juga ramai disampaikan melalui media sosial. Sejumlah warganet yang mengaku sebagai orang tua siswa menyatakan keberatan dengan pelaksanaan pembelajaran tatap muka yang masih diterapkan di sebagian sekolah.


Mereka berharap pemerintah dan pihak sekolah mempertimbangkan kondisi udara dalam menentukan sistem pembelajaran. Terlebih, penanganan karhutla dan kabut asap hingga kini masih berlangsung.


Sejumlah sekolah masih melaksanakan pembelajaran tatap muka karena belum ada instruksi penerapan Belajar Dari Rumah (BDR) secara menyeluruh. Pelaksanaan kegiatan belajar juga dilakukan dengan menyesuaikan jam sekolah berdasarkan kondisi kualitas udara.


Salah seorang warga Sampit, Jumiati, mengatakan pengaturan jam belajar belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran orang tua terhadap kesehatan anak.


“Tapi kondisi asap yang tak kunjung juga bisa teratasi, walaupun ada pengaturan jam sekolah ya tetap saja membahayakan para anak didik,” kata Jumiati.


Karena khawatir terhadap dampak kondisi udara, Jumiati mengaku memilih meminta izin kepada pihak sekolah agar anaknya sementara tidak mengikuti pembelajaran tatap muka selama kondisi kabut asap belum membaik.


Ia berharap sekolah maupun dinas terkait dapat mengambil langkah yang lebih tegas dengan menerapkan sistem BDR apabila kondisi udara dinilai tidak memungkinkan untuk kegiatan belajar tatap muka.


“Kami berharap pihak sekolah maupun dinas terkait secara tegas saja menerapkan BDR mengingat keselamatan siswa saat ini dipertaruhkan saat asap yang tak juga teratasi karena kebakaran lahan terus saja terjadi dan tak terkendali,” katanya.


Keluhan tersebut mencerminkan kekhawatiran sebagian orang tua terhadap keberlangsungan aktivitas pendidikan di tengah kondisi darurat karhutla. Di satu sisi, kegiatan belajar perlu tetap berjalan, sementara di sisi lain keselamatan dan kesehatan siswa menjadi pertimbangan utama.


Orang tua berharap kebijakan pembelajaran dapat terus disesuaikan dengan perkembangan kualitas udara dan kondisi karhutla di wilayah Kotawaringin Timur, sehingga proses pendidikan tetap berlangsung tanpa mengabaikan faktor kesehatan dan keselamatan peserta didik. -red


Penulis: Angel

Editor: Nafiri

Comments


bottom of page