top of page

Wealth Illusion: Terlihat Kaya, Padahal Dompet Menangis


Apakah kita benar-benar mapan atau hanya terlihat mapan? (Gambar: AI generated)
Apakah kita benar-benar mapan atau hanya terlihat mapan? (Gambar: AI generated)

KALTENGNETWORK- Buka media sosial selama lima menit.

Kamu mungkin akan melihat:

  • teman yang sedang liburan ke Jepang,

  • seseorang yang baru membeli iPhone terbaru,

  • nongkrong di kafe estetik setiap akhir pekan,

  • konser, staycation, outfit baru, hingga mobil baru.

Jika melihat semua itu terus-menerus, mudah sekali muncul pikiran:

"Kok semua orang kaya ya?"

Namun ada kemungkinan yang jarang terlihat di balik layar:

Sebagian orang tidak benar-benar kaya. Mereka hanya terlihat kaya.

Fenomena ini dikenal sebagai wealth illusion atau ilusi kekayaan.


Kaya dan Terlihat Kaya Itu Berbeda

Ketika mendengar kata "kaya", banyak orang langsung membayangkan:

  • rumah besar,

  • mobil mewah,

  • liburan ke luar negeri,

  • barang bermerek.


Padahal secara finansial, kekayaan lebih berkaitan dengan aset, tabungan, investasi, dan kemampuan bertahan menghadapi masa sulit.


Seseorang bisa terlihat sangat makmur tetapi sebenarnya:

  • tidak memiliki dana darurat,

  • terlilit cicilan,

  • hidup dari gaji ke gaji,

  • atau bahkan memiliki utang yang besar.

Sebaliknya, ada orang yang tampak biasa saja tetapi memiliki kondisi keuangan yang jauh lebih sehat.


Media Sosial: Mesin Pembuat Ilusi

Masalahnya, media sosial hampir selalu menampilkan puncak kehidupan seseorang.

Kita melihat liburannya, pencapaiannya, atau barang barunya.


Yang tidak kita lihat tagihan kartu kredit, cicilan kendaraan, pinjaman online,stres keuangan, dan rekening yang hampir kosong.


Akibatnya, otak kita mulai membandingkan kehidupan sehari-hari yang lengkap dengan versi terbaik kehidupan orang lain.

Perbandingan yang sebenarnya tidak adil.


Fenomena "Luxury on Credit"

Di banyak negara, termasuk Indonesia, semakin banyak barang dan pengalaman yang bisa diperoleh melalui:

  • kartu kredit,

  • paylater,

  • cicilan,

  • pinjaman konsumtif.


Akibatnya, seseorang bisa terlihat memiliki gaya hidup premium meskipun kemampuan finansialnya belum tentu mendukung.


Bukan berarti semua cicilan buruk.

Masalah muncul ketika gaya hidup dibangun terutama untuk mempertahankan citra tertentu.

Karena pada akhirnya, kemewahan yang dibayar dengan utang tetap harus dilunasi.


Kenapa Kita Ingin Terlihat Kaya?

Secara psikologis, manusia adalah makhluk sosial.

Kita peduli pada bagaimana orang lain memandang kita.


Penelitian psikologi menunjukkan bahwa status sosial sering dikaitkan dengan berbagai simbol eksternal seperti pakaian, kendaraan, gadget, atau lingkungan tempat tinggal.


Karena itu, sebagian orang tidak membeli sesuatu karena benar-benar membutuhkannya.

Mereka membeli karena benda tersebut mengirimkan pesan tertentu kepada lingkungan sosialnya.

Misalnya:

"Aku sukses."
"Aku tidak ketinggalan zaman."
"Aku berada di level ekonomi tertentu."

Masalahnya, citra dan kondisi keuangan tidak selalu berjalan searah.


Orang Kaya Sering Tidak Terlihat Kaya

Ini mungkin terdengar aneh.

Namun banyak penelitian tentang perilaku keuangan menemukan bahwa orang dengan kondisi finansial yang kuat sering kali justru tidak terlihat spektakuler.

Mereka cenderung:

  • hidup di bawah kemampuan finansialnya,

  • menabung secara konsisten,

  • berinvestasi,

  • menghindari pengeluaran yang tidak perlu.


Karena uang yang mereka miliki tidak selalu diubah menjadi simbol status yang terlihat.

Sementara itu, orang yang mengejar simbol status terkadang justru memiliki ruang keuangan yang lebih sempit.


Biaya Tersembunyi dari Gaya Hidup

Ada satu hal yang sering dilupakan.

Ketika standar gaya hidup naik, biaya untuk mempertahankannya juga ikut naik.

Misalnya:

  • awalnya nongkrong Rp30 ribu,

  • kemudian terbiasa Rp80 ribu,

  • lalu Rp150 ribu.

Yang berubah bukan kebutuhan, tetapi ekspektasi.

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation.

Semakin tinggi gaya hidup, semakin sulit kembali ke level sebelumnya meskipun kondisi keuangan memburuk.


Bagaimana Menghindari Wealth Illusion?

Bukan berarti kita tidak boleh menikmati hasil kerja keras.

Namun ada beberapa pertanyaan yang bisa membantu:

  • Apakah saya membeli ini karena membutuhkan atau karena ingin terlihat tertentu?

  • Jika media sosial tidak ada, apakah saya tetap akan membeli barang ini?

  • Apakah saya masih mampu menghadapi keadaan darurat setelah membeli ini?

  • Apakah pengeluaran saya meningkat lebih cepat daripada penghasilan saya?

Pertanyaan sederhana seperti ini sering kali lebih berguna daripada sekadar mengikuti tren terbaru.


Penutup

Di era media sosial, menjadi terlihat kaya mungkin lebih mudah daripada sebelumnya.

Namun terlihat kaya dan benar-benar memiliki kondisi keuangan yang sehat adalah dua hal yang berbeda.

Karena pada akhirnya, kekayaan bukan tentang seberapa mewah hidup kita terlihat di layar orang lain.

Melainkan tentang seberapa aman kondisi keuangan kita ketika layar dimatikan.


Tidak semua yang tampak mewah adalah tanda kekayaan, dan tidak semua yang terlihat sederhana berarti kekurangan. Di era ketika citra dapat dibangun hanya dengan beberapa unggahan, penting untuk mengingat bahwa kesehatan finansial tidak diukur dari jumlah likes, tetapi dari kemampuan seseorang memenuhi kebutuhan, menghadapi keadaan darurat, dan merencanakan masa depannya dengan tenang. -red


Penulis: Ivonne Hana

Editor: Emuna Asie

Comments


bottom of page