top of page

Anak Muda Kalteng dan Fenomena “FOMO Kesuksesan”: Kenapa Umur 25 Tahun Seperti Deadline Hidup?

Seorang remaja tampak cemas saat menatap layar ponselnya di tengah bayang-bayang interaksi sosial media (Foto: Ilustrasi)
Seorang remaja tampak cemas saat menatap layar ponselnya di tengah bayang-bayang interaksi sosial media (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Coba buka media sosial, hampir setiap hari anak muda disuguhin pencapaian-pencapaian teman seumuran. Ada yang lulus kuliah tepat waktu, baru aja diterima kerja di perusahaan besar, menikah, beli rumah, dapet beasiswa luar negeri, sampai ngebangun bisnis yang sepertinya mulus tanpa hambatan.


Di tengah banjirnya informasi yang tidak ada matinya, rasa “ketinggalan” makin sering muncul di kalangan generasi muda, termasuk di Kalimantan Tengah. Rasanya seperti, “Kok orang lain udah sampai situ, gue masih di sini-sini aja?”


Ujungnya, banyak anak muda sekarang kepikiran: umur 25 tahun itu batas nggak tertulis buat “udah harus jadi apa.” Kalau belum kerja tetap, belum nikah, atau belum punya sesuatu yang kelihatan ‘wow’, mereka mulai ngerasa gagal.


Fenomena ini dikenal sebagai FOMO—Fear of Missing Out. Intinya, cemas ketika melihat orang lain seperti memiliki hidup atau pencapaian yang lebih keren. Riset tahun 2024 di jurnal Addictive Behaviors memberikan bukti bahwa FOMO memang erat kaitannya sama kebiasaan main media sosial anak muda. Cara mereka melihat diri sendiri dan dunia jadi ikut berubah karenanya.


Sekarang di Kalimantan Tengah, perasaan kayak gini makin terasa. Soalnya, anak muda udah “nyambung” langsung dengan dunia luar lewat HP. Misalnya, jadi gampang bandingin hidupnya sama yang di Jakarta, Seoul, London, atau siapa pun yang lalu-lalang di timeline.


“Kadang bukan iri, cuma ngerasa terlambat aja. Temen udah kerja, udah nikah, sementara aku masih nyari jalan,” kata Hidayat, mahasiswa semester akhir di Palangka Raya.


Sebenarnya, usia 18-25 tahun itu memang masa-masa transisi—namanya emerging adulthood. Jadi wajar, lagi sibuk ngebangun jati diri, karier, pertemanan, sama cita-cita.


Sayangnya, proses penting ini sering “dirusak” karena kebiasaan banding-bandingkan diri sama orang lain terus-menerus.


Penelitian Judithya Anggita Savitri di Universitas Negeri Yogyakarta dengan 400 responden usia emerging adulthood menunjukkan, FOMO benar-benar berdampak pada kesejahteraan psikologis mereka. Semakin tinggi FOMO, makin terguncang juga kondisi psikologis seseorang.


Hal seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Studi besar dari Dr. Thomas Curran di London School of Economics menganalisis hampir 83 ribu mahasiswa sejak 1988 sampai 2024. Hasilnya? Mahasiswa sekarang memiliki rasa takut gagal mencapai 30 persen lebih tinggi dibanding mahasiswa tahun 1988. Tekanan makin gede.


Kata Thomas Curran, naiknya tekanan mental anak muda zaman sekarang bukan cuma gara-gara media sosial. Persaingan kerja makin kejam, biaya kuliah makin tinggi, ekonomi belum pasti—semua bikin generasi muda merasa tiap keputusan harus sempurna.


Tekanan di Kalimantan Tengah, bentuknya bisa beda-beda. Ada yang ngerasa harus cepat “keluar daerah” biar CV makin keren, dapet gaji tinggi sebelum umur tertentu, atau minimal bisa nyamain pencapaian teman yang udah kerja di kota besar. Yang lain, merasa dikejar target biar nggak kalah sama yang udah lebih dulu nikah atau punya bisnis.


Padahal, tidak semuanya mulai dari garis start yang sama. Ada yang sibuk bantu ekonomi keluarga, yang lain masih kuliah, ada juga yang baru mulai usaha kecil-kecilan, dan banyak juga yang jujur aja—masih bingung sama jalan hidup sendiri.


Celakanya, media sosial seringnya cuma nunjukkin hasil, bukan perjuangan panjang di balik layar.


Penelitian di Indonesian Journal of Islamic Psychology juga menemukan bahwa FOMO dan kecanduan media sosial itu saling mendorong. Di penelitian itu, FOMO bisa menjelaskan sekitar 70 persen kecenderungan kecanduan TikTok di kelompok usia 18–25 tahun.


Akibatnya, lahirlah siklus aneh: scroll medsos, lihat hidup orang, down, cari motivasi lagi di medsos, terus makin bandingin diri sendiri. Muter terus.


Tapi, psikolog sebenarnya nggak selalu menganggap FOMO itu jelek. Dalam porsi secukupnya, FOMO justru bisa jadi pemantik semangat untuk maju. Yang bahaya kalau pencapaian orang lain dijadikan satu-satunya pengukur nilai diri.


Buat anak muda Kalteng, tantangan terbesar mungkin bukan secepat apa bisa “sukses”, tapi gimana caranya mendefinisikan sukses yang pas untuk diri sendiri.


Sekarang banyak jalan menuju masa depan. Ekonomi kreatif lagi tumbuh, peluang kerja makin beragam, teknologi digital membuka banyak pintu. Ada yang sukses lewat pendidikan, ada yang ngembangin bisnis lokal, ada yang jadi content creator, dan nggak sedikit yang memilih tetap di daerah buat bikin perubahan.


Akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “Kenapa aku belum sukses di umur 25 tahun?”, tapi “Apa aku sudah ngarah ke tujuan yang benar buat diri sendiri?”


Hidup tidak seperti lomba lari yang garis finisnya satu. Buat banyak anak muda Kalteng, masa depan nggak pernah ditentukan cuma soal umur. Yang penting, terus bertumbuh tanpa harus hidup dalam bayang-bayang pencapaian orang lain. -red Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page