top of page

Tren Kerja Multi-Penghasilan: Satu Orang, Tiga Profesi

Ilustrasi fenomena dunia kerja modern di mana satu individu menjalani beberapa profesi sekaligus. (Foto: Ilustrasi)
Ilustrasi fenomena dunia kerja modern di mana satu individu menjalani beberapa profesi sekaligus. (Foto: Ilustrasi)

KALTENG NETWORK, PALANGKA RAYA – Jika dulu orang tua kita melihat pekerjaan sebagai sesuatu yang sederhana—satu orang, satu profesi, ditekuni sepanjang hidup. Sekarang, anak muda Kalteng tidak merasa puas jika hanya memiliki satu pekerjaan. Banyak dari mereka menjalani dua, bahkan tiga profesi sekaligus.


Rutinitasnya pun unik. Pagi kuliah atau kerja kantoran, sore sibuk kelola bisnis online, malam jadi desainer grafis, editor video, atau admin medsos. Mereka benar-benar memanfaatkan teknologi, apalagi di kota-kota besar seperti Palangka Raya, Sampit, Pangkalan Bun, dan sekitarnya. Di balik laptop dan HP, mereka sedang mencari peluang dari mana saja.


Gio, desainer grafis di Palangka Raya, mengatakan, “Sekarang satu pekerjaan aja rasanya kurang. Banyak teman saya yang kerja kantoran, tapi tetap ambil proyek freelance.”

Jadi, tidak heran kalau fenomena multi-penghasilan atau multiple income stream makin ramai.


Ada alasan di balik pergeseran ini. Era digital membuat batas antara pekerjaan utama dan sampingan jadi kabur. Siapa pun bisa cari klien dari luar kota, bahkan luar negeri, tanpa harus meninggalkan tempat tinggal. Mahasiswa di Palangka Raya bisa saja jadi editor video untuk klien di Jakarta, jual desain digital online, plus mengurus akun medsos UMKM setempat.


Ekonomi kreatif juga punya peran besar dalam dorong tren ini. Data BPS melaporkan, sektor ekonomi kreatif bakal nyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja di 2025, sekitar 18,7 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Angkanya naik dari tahun ke tahun. Lebih dari setengah pekerjanya pun anak muda, di bawah 40 tahun. Artinya, sektor ini memang didominasi oleh generasi kita.


Pola pikir anak muda Kalteng juga ikutan berubah. Dulu kerja identik dengan kantor dan jam tetap, sekarang skill jadi kunci utama. Bisa desain grafis, editing video, nulis konten, fotografi, public speaking, dan mengelola media sosial, semua itu bisa jadi sumber pendapatan tambahan tanpa ninggalin kerjaan utama.


Media sosial juga buka banyak peluang baru. Dulu, anak muda di daerah tidak pernah membayangkan bisa dapat klien dari kota besar atau luar negeri. Sekarang, jasa kreatif, afiliasi digital, bisnis online, sampai produksi konten, semuanya terbuka.


Tentu, kerja multi-penghasilan bukan sekadar biar mendapatkan uang lebih banyak. Banyak yang menjalai ini untuk keamanan finansial, dikarenakan persaingan kerja makin ketat dan ekonomi juga tidak pasti. Data BPS masih nyatat 7,46 juta pengangguran per Agustus 2025. Ini bikin anak muda makin termotivasi buat punya plan B, bahkan plan C.


Komunitas kreatif lokal juga berkembang pesat di Kalteng. Banyak workshop digital, komunitas fotografi, videografi, desain, sampai pelatihan wirausaha. Semua itu jadi ruang anak muda menambah skill dan penghasilan.


Tetapi, hidup dengan banyak pekerjaan bukannya tanpa risiko. Banyak yang akhirnya kewalahan karena harus bagi waktu antara kerja utama, sampingan, kuliah, dan kehidupan pribadi. Burnout jadi ancaman nyata. Media sosial juga kadang makin bikin tekanan, apalagi lihat orang lain kayaknya sukses terus dengan banyak sumber penghasilan.


Padahal, psikolog selalu mengingatkan pentingnya jaga keseimbangan antara produktivitas sama waktu istirahat dan kesehatan mental.


Pada akhirnya, ini bukti anak muda Kalteng ngelihat masa depan dengan cara yang berbeda. Bukan cuma nunggu lowongan muncul, mereka justru ciptakan peluang lewat kemampuan sendiri. Jadi, kalau dulu prinsipnya “cari kerja”, sekarang lebih ke “bangun nilai diri, ciptakan kerja.”


Mungkin inilah yang terjadi hari-hari ini yaitu di coffee shop, kamar kos kecil, sampai rumah sederhana pinggir kota, banyak anak muda Kalteng diam-diam membangun masa depan mereka sendiri. Satu orang, dua pekerjaan, bahkan tiga profesi jalan bareng. Masa depan, sekarang lebih berani dan tidak terpaku pada aturan lama.

Penulis: Emuna Asie Editor: Angel

Comments


bottom of page